SOSIAL

Sunatullah Al-Quran Ini Bisa Hadirkan Stabilitas Negara Kita

mukjizat.co – Siapa yang tidak mau hidupnya tenang. Semua kebutuhannya tercukupi. Makan, tempat tinggal, dan juga keamanan dinikmatinya. Mungkin banyak orang yang mendapatkan nikmat berlimpah, tapi mengalami keberadaannya pasang-surut bahkan kadang mengalami kekurangan yang sangat. Ada juga orang yang mendapatkan nikmat itu namun selalu merasa takut kehilangan sewaktu-waktu.

Ternyata pedoman hidup kita, Al-Quran, telah memberikan panduan bagaimana kita bisa mewujudkan stabilitas, terutama stabilitas pangan dan keamanan. Panduan itu tercantum dalam ayat Al-Quran yang pendek, tapi sering lepas dari penghayatan kita. Karena saat hendak tilawah tidak memasang niat tadabur Al-Quran dan mereguk limpahan hidayah Allah Taala.

Ayat yang berisi sunatullah ini adalah:

فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ * الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآَمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ

“Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Kakbah), Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” [Quraisy: 3-4].

Dalam sejarah tercatat bahwa Quraisy adalah suku yang penghidupannya mengandalkan usaha perdagangan. Bukan hanya dalam skala lokal, perdagangan mereka bahkan bisa merambah belahan benua lain. Di masa lalu, usaha yang memerlukan perjalanan jauh ini tentu sangat berat. Alat transportasi yang masih primitif; keamanan yang sangat rentan perampokan dan perang antar suku; dan sebagainya.

Ternyata Allah Taala berkuasa dan berkehendak menjadikan mereka menikmati pekerjaan yang berat dan berbahaya itu. Berdagang pun menjadi passion mereka. Kekuasaan Allah Taala ini terceritakan dalam Al-Quran:

لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ. إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ

“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.” [Quraisy: 1-2].

Allah Taala yang menjadikan perjalanan yang berat itu sebegai kebiasaan mereka. Tanpa hal itu, mereka akan kesulitan mencari penghidupan. Sumber daya alam di negeri sendiri kekurangan; mau bepergian ke negeri yang jauh ada ketakutan yang terus mengancam. Oleh karena itu, hendaknya mereka mempertahankan nikmat ilaaf itu dengan cara bersyukur kepada Pemberinya, Allah Taala. Caranya dengan beribadah. Dengan beribadah, akan ada stabilitas pangan dan keamanan.

Dalam Al-Quran disebutkan contoh yang membuktikan bahwa kelaparan dan rasa takut akan melanda negeri yang membiarkan banyak kemaksiatan terjadi.

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً قَرْيَةً كَانَتْ آَمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَداً مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk) nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” [An-Nahl: 112].

Rasa takut juga bisa dipahami secara lebih luas dan esensial. Takut miskin adalah kemiskinan; takut sakit adalah menyakitkan; takut bencana adalah bencana yang lebih besar. Nikmat rasa aman sungguh sangat besar nilainya, dan ternyata “Nikmat rasa aman hanya dimiliki orang Mukmin.”

الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kelaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Al-An’am: 82].

Sementara rasa takut selalu mengiringi orang Musyrik:

سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا

 “Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah.” [Ali Imran: 151].

Karena rasa aman itu didapat dari keyakinan kepada Allah Taala:

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا

“Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami.” [At-Taubah: 51].

Perbuatan syirik kepada Allah Taala menghadirkan siksaan batin. Sekarang syirik nyata sudah hampir tidak ada pada umat Islam, tapi syirik samar masih sangat banyak.

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَتَخَوَّفُ عَلَى أُمَّتِي الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، أَمَا إِنِّي لَسْتُ أَقُولُ: يَعْبُدُونَ شَمْسًا، وَلَا قَمَرًا، وَلَا وَثَنًا، وَلَكِنْ أَعْمَالًا لِغَيْرِ اللَّهِ، وَشَهْوَةً خَفِيَّةً

“Hal yang paling kukhawatirkan pada umatku adalah perbuatan syirik kepada Allah Taala. Yang kumaksud bukan menyembah matahari, bulan atau berhala. Tapi perbuatan yang bukan untuk Allah Taala dan syahwat yang tersembunyi.” [HR. Ibnu Majah]. (sof1/www.mukjizat.co)

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda