Al-Quran SEJARAH

Penyakit yang Menghancurkan Bani Israil; Merasa Bangsa Terbaik

jaminan masuk surga, umat terbaik, penyakit, syafaat,
Rasulullah saw. berpesan kepada para anggota keluarga terdekatnya bahwa hanya diri mereka sendirilah yang bisa menyelamatkan dari siksa neraka.

mukjizat.co – Umat Rasulullah saw. harus merasa menjadi umat terbaik “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan.” [Al-Baqarah: 143]. Karena agama kita adalah yang terbaik. “Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus.” [Al-An’am: 161].

Kitab kita, Al-Quran juga kitab yang terbaik. “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya.” [Az-Zumar: 23].

Semua modal itu harusnya membuat umat Islam mendapatkan posisi terbaik di sisi Allah Taala. Tepatnya di Akhirat kelak. Sayangnya, masih banyak orang yang tidak memanfaatkannya. Sehingga mereka pun tidak mendapatkan kemuliaan Akhirat tersebut.

Mereka bahkan salah memahami pesan-pesan Rasulullah saw. bahwa umatnya pasti akan masuk surga. “Setiap hamba yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, lalu mati dengan membawanya, pasti akan masuk surga.”[Bukhari dan Muslim]

Bahwa neraka tidak akan melahap tubuh orang-orang yang bertauhid, “Sesungguhnya Allah Taala mengharamkan neraka untuk menyiksa orang yang mengucapkan Laa Ilaha Illallah dengan niat mengharap ridha Allah Taala.” [Bukhari dan Muslim]

Bahwa semua umat Islam pasti akan masuk surga walaupun berbuat maksiat, “Jibril datang kepadaku dan menyampaikan kabar gembira, “Setiap umatmu yang meninggal dunia tanpa berbuat syirik pasti akan masuk surga.” Aku bertanya, “Walaupun berzina dan mencuri?” Jibril menjawab, “Walaupun berzina dan mencuri.” [Bukhari dan Muslim].

Rasulullah saw. ingin memotivasi umatnya untuk banyak berbuat kebaikan. karena Allah Taala telah berlaku sangat baik kepada umat ini. Maha Pemurah Allah Taala ini hendaknya dimanfaatkan untuk semakin mengeruk kebaikan dalam kesempatan dunia. Kehidupan dunia harus dioptimalkan mendapatkan surga yang setinggi-tingginya.

Kalau ada umat Islam yang salah memahami hadits-hadits motivasi ini, lalu mengatakan, “Kita bisa berbuat apa saja, kan sudah dijamin masuk surga,” “Enggak usah shalat saja, kan masuk surga,” “Enggak papa berbuat maksiat, kan sudah diampuni Allah,” maka orang itu telah dijangkiti salah satu penyakit Bani Israi.

Walaupun Rusak, Bani Israel Tetap berbangga diri

Bani Israil pernah dijadikan Allah Taala umat terbaik, istimewa dan pilihan, “Hai Bani Israel, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat.” [Al-Baqarah: 47]. Tapi mereka salah memahami, bahwa keistimewaan itu akan terus melekat apapun kondisi kehidupan mereka, kejahatan-kejahatan mereka, bahkan pembunuhan para nabi.

Walaupun sangat jahat, mereka tetap merasa sebagai umat yang tersayang di sisi Allah Taala, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan:”Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. [Al-Maidah: 18].

Bahwa mereka hanya tersentuh neraka beberapa hari saja, “Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja.” [Al-Baqarah: 80].

Apakah kita akan mengulangi kesalahan Bani Israil? Dari umat pilihan menjadi umat yang dilaknat Allah Taala. Memang hal itu tidak akan terjadi pada umat Islam  dalam skala umumnya, mengingat kita adalah umat terakhir. Tapi dalam skala yang lebih kecil, hal itu mungkin saja itu terjadi. Misalnya pada diri pribadi kita, atau umat Islam Indonesia misalnya.

Janganlah kita melupakan ayat-ayat dan hadits-hadits lain yang menyempurnakan pemahaman kita bahwa standar utama dan satu-satunya adalah ketakwaan kita kepada Allah Taala, “Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah di antara kalian adalah yang paling bertakwa.” [Al-Hujurat: 13]. Sebesar apa rasa takut kita kepada Allah Taala sehingga mematuhi segala aturan-Nya?

Selama memenuhi standar itu, maka siapapun mendapatkan kemuliaan itu. Tidak ada syarat kekeluargaan dan kekerabatan misalnya. Rasulullah saw. menjadikan Salman Al-Farisi sebagai orang terdekatnya, “Salman adalah Ahlul Bait, keluarga Nabi saw,” padahal berasal dari Persia. Sementara tentang pamannya sendiri, Allah Taala memisahkannya ke neraka, “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.” [Al-Masad: 1-3].

Para sahabat juga menggunakan kriteria ini. Tentang Abu Bakar ra. mereka berkata, “Dia adalah tuan kami, yang telah memerdekakan (Bilal) tuan kami.”

Selain itu, Allah menyebutkan poin-poin jelas dan pasti yang akan bisa meninggikan derajat seseorang. Misalnya iman dan ilmu, “Niscaya Allah Taala akan meninggikan derajat orang yang beriman di antara kalian dan orang yang berilmu.” [Al-Mujadilah: 11].

Oleh karena itu, Rasulullah saw. berpesan kepada para anggota keluarga terdekatnya bahwa hanya diri mereka sendirilah yang bisa menyelamatkan dari siksa neraka, “Wahai Abbas, pamanku. Wahai Fatimah, putriku. Selamatkanlah diri kalian dari neraka. Aku tidak bisa menyelamatkan diri kalian dari siksa Allah Taala.” [HR. Muslim].

Bahwa nasab keturunan tidak menambah tinggi surga, “Orang yang lambat amalannya, tidak akan dipercepat oleh nasabnya.” [HR. Ahmad]. Amal kebaikanlah yang harus diandalkan, “Jangan sampai orang-orang datang membawa amal perbuatan, sedangkan kalian hanya membawa nasab.” [HR. Ahmad]. (www.mukjizat.co/moso)

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.