SEJARAH

Jangan Sampai Umat Islam Idapi Penyakit Bani Israil Ini (Bagian 2)

mukjizat.co – Keistimewaan Bani Israel sebagai pemimpin dunia sudah dicabut. Digantikan umat Rasulullah saw.

Beliau datang dan membina bangsa Arab yang ummi. Allah Taala berfirman, “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” [Jumuah: 2].

Bangsa Bani Israel sudah sangat rusak. Hingga kau cerdik pandai mereka pun sudah seperti keledai. Allah Taala berfirman, “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang lalim.” [Jumuah: 5].

Allah Taala pun membantah klaim mereka dengan berfirman, “Katakanlah: “Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika kamu mendakwakan bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar”. Mereka tiada akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya disebabkan kejahatan yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang lalim.” [Jumuah: 6-7].

Lalu kenapa Al-Quran banyak membicarakan cerita Bani Israil? Karena mereka Ahlul Kitab, dan umat Islam juga Ahlul Quran, Kitabullah. Penyakit umat Islam sangat mungkin akan mirip dengan penyakit Bani Israil. Penyebutan kisah mereka dalam Al-Quran adalah cara pendidikan yang paling baik.  Namanya pengarahan tidak langsung.

Penyakit meninggalkan amar makruf nahi munkar.

Keistimewaan mereka dicabut karena meninggalkan amar makruf nahi munkar. “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israel dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” [Al-Maidah: 78-79].

Rasulullah saw. menyebutkan bahwa umat akan meninggalkan amar makruf nahi munkar, “Apa yang kalian rasakan jika anak dan istri kalian berbuat kefasikan? Para sahabat bertanya, “Rasulullah, mungkinkah hal itu akan terjadi?” Rasulullah saw. menjawab, “Bahkan yang lebih parah pun akan terjadi.” Para sahabat bertanya, “Apa yang lebih parah?” Rasulullah saw. menjawab, “Apa yang kalian rasakan jika kalian tidak melaksanakan amar makruf dan nahi munkar?” Para sahabat bertanya, “Rasulullah, mungkinkah hal itu akan terjadi?” Rasulullah saw. menjawab, “Iya. Bahkan yang lebih parah. Apa yang kalian rasakan jika kalian memerintahkan yang munkar dan melarang yang makruf?” Para sahabat bertanya, “Rasulullah, mungkinkah hal itu akan terjadi?” Rasulullah saw. menjawab, “Iya. Bahkan yang lebih parah.” Para sahabat bertanya, “Apa yang lebih parah dari itu?” Rasulullah saw. menjawab, “Apa perasaan kalian jika menganggap yang makruf sebagai munkar, dan menganggap yang munkar sebagai makruf.” [Tajul Ushul]

Penyakit ini sudah mulai ada pada umat Islam. Menganggap yang makruf sebagai munkar, menganggap yang munkar sebagai makruf. Hal ini bisa membuat umat Islam bisa kehilangan keistimewaannya. Karena itulah Rasulullah saw. mewanti-wanti, “Sungguh kalian harus memerintahkan yang makruf dan melarang yang munkar. Kalau tidak, maka hamor-hampir Allah akan meratakan siksaanNya. Maka saat itu kalian berdoa tidak akan dikabulkan Allah Taala.”

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.