Macam-Macam Ulama dalam Al-Quran

0 komentar 217 kali dilihat

mukjizat.co – Ulama adalah istilah yang sangat masyhur di kalangan umat Islam. Mereka adalah orang-orang berilmu yang menjadi panutan umat dalam menjalani kehidupan secara umum, terutama kehidupan beragama. Ternyata penyebutan istilah ini di dalam tidak selalu berkonotasi positif. Kadang digunakan untuk menunjuk orang-orang yang justru menjadi sumber keburukan.

Setidaknya ada empat macam ulama yang disebutkan dalam Al-Quran. Pertama, ulama fitnah. Yaitu jenis ulama yang disebutkan dalam firman Allah Taala:

“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah tempat kembalinya seluruh isi Al Qur’an, dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari isi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” [Ali Imran: 7].

Ayat muhkamat adalah ayat-ayat yang jelas maksud dan pemahamannya, sedangkan ayat mutasyabihat adalah ayat-ayat yang tidak jelas maksud dan pemahamannya. Ulama fitnah yang dimaksud seperti diterangkan dengan kalimat “orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan”, mereka tidak mengakui keterkaitan antara satu ayat dengan ayat lain, lalu mengembalikan penafsiran ayat mutasyabihat kepada pemahaman ayat muhkamat. Tujuan mereka melakukan hal tersebut adalah agar terjadi fitnah (kekacauan dalam pemahaman umat Islam), dan menakwilkan ayat sangat jauh dari konteks redaksinya, sehingga pemahaman ayat bisa ditarik-tarik ke mana pun mereka inginkan.

Kedua, rasikhuna fil ‘ilmi (ulama yang mendalam ilmunya). Mereka adalah yang dibahasakan dalam ayat di atas dengan kalimat “Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari isi Tuhan kami.” Mereka tidak menafsirkan ayat mutasyabihat sekehendak mereka. Yang mereka lakukan adalah mengembalikan penafsirannya kepada pemahaman ayat-ayat muhkamat.

Ketika ada ayat-ayat mutasyabihat seperti yang menyebutkan bahwa Allah Taala memiliki tangan, mata, kaki, membersamai orang yang bertakwa, dan sebagainya, mereka akan memahaminya di bawah kerangka ayat muhkamat yang mengatakan bahwa sama sekali tidak ada yang menyerupai Allah Taala. Tindakan mengembalikan ayat mutasyabihat kepada ayat muhkamat ini membuat mereka selamat dari kesalahan dalam menafsirkan. Sehingga tidak terjadi fitnah seperti menyamakan Allah Taala dengan makhluknya.

Ketiga, ulama ummiyyun. Mereka adalah ulama yang tidak disiplin dengan manhaj yang telah ditetapkan Allah Taala dalam memahami ayat-ayat. Ketidakdisiplinan mereka bukan berasal dari niat yang buruk, tapi karena ketidaktahuan ataupun taklid buta. Mereka seperti disebutkan dalam ayat “Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga.” [Al-Baqarah: 78].

Ulama jenis ini akan menyesatkan umat karena mereka mengada-ada. Mengatakan bahwa Allah Taala memfirmankan sesuatu, padahal kenyataannya tidak demikian. Banyak orang awam akan tertipu dengan apa yang mereka sampaikan. Walaupun banyak di antara mereka juga berkecimpung dalam dunia keilmuan, tapi dengan niatan sebagai profesi belaka. Banyak karya tulis yang mereka hasilkan terlihat sebagai sebuah kebenaran padahal kenyataannya hanya merupakan kebatilan.

Jika mereka menyadari kesalahan apa yang sedang mereka perbuat, maka mereka akan masuk dalam kategori orang-orang yang diancam Allah Taala dalam ayat: “Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.” [Al-Baqarah: 79].

Keempat, ulama dhalal. Ulama yang sesat dan menyesatkan. Mereka adalah ulama yang sangat berbahaya karena secara sengaja menyembunyikan kebenaran dan mengubah isi Kitab. Beberapa di antara mereka mengklaim sebagai mediator pemahaman antara Allah Taala dan hamba-Nya. Banyak orang jatuh ke dalam kesyirikan lantara kejahatan mereka. Ulama jenis ini disebutkan dalam Al-Quran saat menerangkan tentang Bani Israil.

Mereka menyembunyikan kebenaran untuk mendapatkan keuntungan duniawi. Allah Taala berfirman, “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya.” Lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima.” [Ali Imran: 187].

Mereka mengubah firman Allah Taala. Walaupun kadang bukan dengan membuang dan mengganti fisik ayat, namun dengan mengubah makna ayat tersebut. Allah Taala berfirman, “(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya.” [Al-Maidah: 13].

Mereka sengaja melupakan firman Allah Taala. Allah Taala berfirman, “Dan di antara orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani”, ada yang telah Kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebahagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang selalu mereka kerjakan.” [Al-Maidah: 14].

Mereka menolak berhukum kepada Kitabullah saat terjadi perbedaan pendapat. Allah Taala berfirman, “Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bahagian yaitu Al Kitab (Taurat), mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum di antara mereka; kemudian sebahagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran).” [Ali Imran: 23].

Mereka meninggalkan Kitabullah dan menggantikannya dengan yang lain. Allah Taala berfirman, “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” [Al-A’raf: 175-176].

Mereka tidak menghiraukan Kitabullah saat bertentangan dengan hawa dan pikiran mereka. Allah Taala berfirman, “Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi Kitab (Taurat) melemparkan Kitab Allah ke belakang (punggung) nya seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah Kitab Allah).” [Al-Baqarah: 101]. (sof1/mukjizat.co)

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Tinggalkan Komentar Anda