Salafi Sejati Seperti Apakah?

0 komentar 252 kali dilihat

mukjizat.co – Nabi berjumlah banyak karena agama berlangsung dari awal manusia hingga Hari Kiamat. Keberhasilan masing-masing nabi berbeda-beda. Bahkan ada nabi yang tak berpengikut. Namun Rasulullah saw. mempunyai pengikut yang sangat banyak. Sementara Rasulullah saw. datang dalam kondisi manusia paling jauh dari petunjuk. Terbukti bahwa para ulama saja saat itu sudah seperti keledai yang membawa tumpukan buku tebal.

Kepada para sahabat yang akan menjadi penolongnya, Rasulullah saw penjelasan kerja dan rencana perjuangan yang sangat jelas bagaimana mengubah kehidupan manusia. Allah Taala berfirman:

“Demikianlah, Kami telah mengutus kamu pada suatu umat yang sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumnya, supaya kamu membacakan kepada mereka (Al Qur’an) yang Kami wahyukan kepadamu, padahal mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Katakanlah: Dialah Tuhanku tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku bertobat.” [Ar-Ra’du: 30].

Misi Rasulullah saw. adalah mengubah seluruh dunia. Modalnya adalah para sahabat yang beliau bina menjadi pejuang dalam segala bidang; keilmuan, pemerintahan, pengobatan penyakit hati, kejiwaan, dan sebagainya.

Generasi sahabat sangat unik, tidak bisa dibandingi dengan generasi lain dalam hal takwa, motivasi berjuang dan pengorbanan. Mereka juga berhasil mewariskan al-quran kepada generasi sesudahnya sebagai teks agama dan pelaksanaannya. Mereka digelari Salafusalih, karena mereka memang shalih, cocok untuk memimpin dunia.

Saat ini apa kondisi kita? Musuh Islam sama, Al-Quran dan Sunnah juga sama. Tapi umat Islamnya yang berbeda. Saat menawarkan Islam, para Salafusalih tidak mengenal kompromi dengan kekuasaan, agama, dan kebiasaan, kekayaan, masyarakat, yang masih bernafaskan syirik.

Mereka memahami Islam tanpa dipaksa-paksakan. Apa adanya. Islam inilah yang akan memberikan semua kebutuhan manusia. Pembebasan HAM, kebebasan berfikir, kebutuhan fitrah, penjagaan hak orang lemah, negara yang berpihak kepada orang lemah dan terzhalimi. Allah Maha Besar. Ini yang benar-benar diyakini dan menjiwai setiap perjuangan mereka.

Saat ini umat Islam sudah sangat parah kondisinya. Tapi ternyata ada yang lebih parah lagi, ada jenis ulama tidak berfikir dan membahas kondisi parah tersebut. Mereka malah asyik dan sibuk dengan masalah lain. Kenapa kita yang besar, kaya dan mempunyai posisi dunia yang strategis menjadi umat pngekor. Sedangkan para sahabat yang jumlah mereka sedikit menjadi umat pioneer?

Islam kita pelajari dengan cara yang salah, lalu kesalahan ini dipelihara oleh musuh-musuh Islam agar mereka bisa langgeng dalam kekuasaan mereka. Ulama sekarang kembali melakukan perdebatan ilmiah seperti yang dilakukan ulama terdahulu. Padahal dulu, mereka berdebat saat negara Islam besar, ditakuti, aman, sejahtera. Sementara sekarang, saat umat Islam dalam kondisi berbahaya, kenapa hal-hal remeh-remeh seperti ini mereka ulangi kembali?

Kita harus arahkan dan kembalikan umat Islam kepada kitab Allah, Al-Quran. Sibukkan mereka seperti kesibukan ulama salaf, kesibukan berjuang. Ulama salaf bisa memerdekakan bangsa lain, sekarang kita sendiri masih butuh kebebasan. Kesucian hati jauh lebih bernilai di sisi Allah Taala daripada kebenaran pendapat. Bukanlah seorang salafi jika tidak tahu bagaimana memperbaiki akhlak, sosial dan politik, menjadi seperti yang dibawa Islam, dan ditinggikan oleh para salafusalih. Bukanlah seorang salafi yang membangkitkan lagi perdebatan yang sudah kedaluarsa dan hanya membuang-buang waktu dan tenaga. (sof1/www.mukjizat.co)

Tinggalkan Komentar Anda