Agar Selamat dari Bencana Menurut Al-Quran

0 komentar 219 kali dilihat

mukjizat.co – Siksaan Allah Taala diturunkan kepada orang yang menentang agama Allah Taala. Firman Allah Taala:

فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri..” [Al-Ankabut: 40].

Allah Taala telah menyebutkan faktor-faktor keselamatan dari bencana dan siksaan itu.

Iman kepada Allah Taala. Ketika umat-umat terdahulu dibinasakan Allah Taala, ada sekelompok orang yang diselamatkan. Mereka adalah para nabi dan pengikutnya.

ثُمَّ نُنَجِّي رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا كَذَلِكَ حَقّاً عَلَيْنَا نُنْجِ الْمُؤْمِنِينَ

“Kemudian Kami selamatkan rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman, demikianlah menjadi kewajiban atas Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” [Yunus: 103].

Menolak kerusakan dan berusaha memperbaiki keadaan. Tidak turut dalam melakukan kerusakan, baik dalam keimanan, sosial, ekonomi, dan sebagainya, mungkin masih bisa dilakukan banyak orang. Tapi itu belum cukup untuk menjadi sebab diselamatkan Allah Taala dari siksaan di dunia.

فَلَوْلا كَانَ مِنْ الْقُرُونِ مِنْ قَبْلِكُمْ أُوْلُوا بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنْ الْفَسَادِ فِي الأَرْضِ إِلاَّ قَلِيلاً مِمَّنْ أَنْجَيْنَا مِنْهُمْ وَاتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا مَا أُتْرِفُوا فِيهِ وَكَانُوا مُجْرِمِينَ* وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ

“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat dan mengusahakan kebaikan.” [Huud: 116-117].

Tidak berleha-leha dan berfoya-foya. Nikmat dari Allah Taala harus membuat tambah beriman. Jika tidak, maka siksaan akan ditimpakan kepada kita.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنْ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

 “Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” [Al-A’raf: 96].

أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتاً وَهُمْ نَائِمُونَ* أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ* أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

“Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” [Al-A’raf: 98-99].

Ada bangsa yang jauh dari petunjuk Allah Taala. Lalu mereka ditegur dengan cara ditimpakan kesulitan dan kesengsaraan. Tapi mereka tidak tersadar. Saat itulah Allah Taala akan membukakan pintu-pintu kesenangan. Biasanya dalam kondisi seperti ini, mereka akan semakin jauh dari petunjuk. Karena mereka merasa jauh dari petunjuk tidak mereka kehilangan kesenangan dunia. Saat itulah mereka dibinasakan.

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami-pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” [Al-An’am: 44].

Hasan Al-Basri  ra. mengatakan, “Demi Tuhan Pemiliki Ka’bah,bangsa itu benar-benar tertipu. Mereka diberi yang mereka sukai, lalu mereka berpaling dari agama Allah. Saat lengah itulah mereka disiksa.”

Hal senada dikatakan oleh Qatadah ra., “Janganlah kalian tertipu dengan Allah Taala. Karena Allah Taala akan menurunkan siksaan kepada sebuah bangsa saat mereka sedang mabuk kenikmatan dunia, berleha-leha dan bermain-main.”

Selalu Istighfar dan tobat kepada Allah Taala. Para sahabat tidak disiksa karena hidup bersama Rasulullah saw. Sangat beruntung mereka. Tapi ternyata kondisi aman dari siksaan Allah Taala juga bisa dirasakan oleh orang-orang yang selalu beristighfar, meminta ampun kepada Allah Taala.

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” [Al-Anfal: 33].

Tentang hal ini, Ibnu Abbas ra. mengatakan, “Ada dua kondisi aman; saat keberadaan Nabi saw. di tengah-tengah mereka, dan saat mereka sedang bertobat dan beristighfar.”

Banyak bersimpuh hina dan memohon kepada Allah Taala. Ternyata Allah Taala sangat senang melihat hamba-Nya merendahkan diri di depan-Nya. Hal itu terwujud saat berdoa.

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعاً وَخُفْيَةً إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” [Al-A’raf: 55].

Bahkan, agar hamba-Nya bersimpuh rendah diri, Allah Taala sampai mengirimkan bencana. Dengan bencana itu, akhirnya mereka terpaksa rendah diri. Tidak sukarela seperti saat berdoa.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.” [Al-An’am: 42].

Melaksanakan amar makruf nahi munkar. Iman dalam hatinya menggerakkan badannya agar memerintahkan kebaikan saat ditinggalkan, dan mencegah kemungkaran saat dikerjakan.

لَـتَأمُرُنَّ بالمعروفِ، ولَـتَنهوُنَّ عن المنكرِ أو ليوشكن اللهُ أن يَعُمَّكم بعذابٍ؛ فَـتَدْعُونَ؛ فلا يستجاب لكم

“Sungguh kalian harus memerintahkan yang makruf dan melarang yang munkar. Kalau tidak, maka hamor-hampir Allah akan meratakan siksaanNya. Maka saat itu kalian berdoa tidak akan dikabulkan Allah Taala.”

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ. كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

“Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israel dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” [Al-Maidah: 78-79].

Menjauhi perbuatan zhalim dan menghilangkannya saat dilakukan orang lain. Kezhaliman, apalagi yang dilakukan oleh penguasa adalah sebab paling cepat mendatangkan siksaan Allah Taala. Agar selamat, bukan hanya harus meninggalkan kezhaliman tersebut, tapi kita pun hendaknya mengusahakan hilangnya kezhaliman dari sekitar kita.

وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ

“Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim.  Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras.” [Huud: 102].

إن الله ليملي للظالم حتى إذا أخذَه لم يُفلِته

“Sesungguhnya Allah Taala mengulur kesempatan kepada orang yang zhalim, hingga ketika menyiksanya tidak bisa melepaskan diri.”

إن الناسَ إذا رَأَوْا الظالم فلم يأخذوا على يديه أوشك أن يَعُمَّهم اللهُ بعاقبة من عنده

“Sesungguhnya jika orang-orang menemukan seorang zhalim lalu tidak berusaha mengubahkan, maka Allah Taala akan meratakan siksaan-Nya kepada mereka semua.”

Bersatu dalam kebenaran. Ternyata, saling bersaudara adalah tali keselamatan ketika sebuah bangsa sudah berada di pinggir jurang kehancuran. Mereka akhirnya selamat karena mengusahakan saling bersaudara, ukhuwah islamiyah.

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” [Ali Imran: 103].

Al-Quran yang diwasiatkan Rasulullah saw. kepada kita agar selamat ibarat tali keselamatan. Siapa yang berpegang erat tali itu, dia akan selamat.

وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَاناً وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنْ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا

“dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya.” [Ali Imran: 103].

Hanya yakin dengan pertolongan Allah Taala. Allah Taala sangat senang ketika kita hanya mengandalkan-Nya dalam kehidupan kita. Tapi saat kita mengandalkan jumlah, otak, harta, sumber daya alam, maka saat itulah Allah Taala murka dan menurunkan siksaan-Nya.

وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئاً وَضَاقَتْ عَلَيْكُمْ الأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ* ثُمَّ أَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ

“dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, [At-Taubah: 25-26].

Tidak mempersempit luasnya Islam. Islam bukan hanya ibadah, akhlak, atau akidah. Islam adalah pedoman hidup manusia. Di mana manusia hidup, di situlah Al-Quran hendaknya menjadi pedoman.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمْ الإِسْلامَ دِيناً

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.” [Al-Maidah: 3]

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلاَّ خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” [Al-Baqarah: 85]. (sof1/www.mukjizat.co)

Tinggalkan Komentar Anda