Kita Diminta Takut Saat Gerhana, Ternyata Ini Alasannya

0 komentar 48 kali dilihat

mukjizat.co – Ada kejadian di alam semesta yang terjadi sesuai dengan sunnatullah (aturan Allah di alam semesta) yang diketahui manusia, dan ada juga yang terjadi di luar sunnatullah yang diketahui manusia.

Oleh karena itu, dulu sebelum ada ilmunya, umat Islam diperintahkan shalat untuk memohon perlindungan kepada Allah Taala ketika terjadi gerhana. Karena bisa saja terjadi hal yang membahayakan mereka. Allah berfirman, “Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti.” [Al-Israa: 59]. Selain shalat, umat Islam juga banyak bersedekah, berdzikir, dan melakukan kebaikan.

Sekarang, setelah kita ketahui bahwa gerhana hanyalah posisi sejajar antara matahari, bumi dan bulan, apakah kita masih perlu merasa takut?

Sebagai orang yang beriman kepada Allah, kepada kebenaran sabda Rasulullah saw., kita tetap harus merasa takut karena dikatakan ada hal yang perlu ditakuti saat itu. Beberapa ilmuwan berusaha menyebutkan hal-hal menakutkan saat terjadi gerhana.

Ada yang mengatakan bahwa sangat mungkin terjadi gelombang laut pasang yang tinggi dan juga gempa bumi tektonik di waktu yang berdekataan dengan gerhana. Baik sebelum maupun sesudahnya. Karena gaya gravitasi matahari dan bulan berkumpul dalam waktu bersamaan.

Ada juga yang mengatakan bahwa kita diperintahkan untuk shalat dan banyak berzikir, demi memelihara kesehatan mata. Mata kita memiliki 130 juta jaringan syaraf. Jaringan ini bisa terbakar, dan rusak permanen jika melihat gerhana secara langsung. Terutama gerhana matahari. Sujud dan rukuk dalam shalat gerhana disunnahkan panjang agar mata melihat ke bumi, bukan ke langit.

Kalau merenungi alam angkasa, kita memang akan menyadari bahwa keselamatan kita memang sangat tergantung kepada Allah Taala. Alam semesta terdiri dari sekitar 100 miliar galaksi. Satu galaksi bisa berisi bintang (seperti matahari) dari 10 juta bintang hingga 100 triliun bintang.

Matahari adalah salah satu bintang yang berada di galaksi Bimasakti. Matahari menjadi pusat tata surya yang terdiri dari planet Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus. Sementara bulan adalah satelit yang mengelilingi matahari.

Matahari sudah berumur 50 miliar tahun, dan diperkirakan masih bisa menyala hingga 50 miliar tahun lagi.

Jarak antara bumi dan matahari 156.000.000 km, ditempuh oleh cahaya dalam 8 menit. Bumi berputar mengelilingi matahari selama 365 hari satu kali putaran. Sementara jarak bulan ke bumi hanya 1 detik cahaya (300.000 km).

Ukuran matahari sebesar 1.300.000 kali lipat ukuran bumi. Panas matahari di bagian dalam 20 juta derajat, dan permukaannya 6 ribu derajat. Kalau dibenturkan ke matahari, bumi akan luluh hanya dalam waktu satu detik. Lidah api matahari saja bisa mencapai 1 juta km.

Yang mengendalikan peredaran benda-benda langit ini adalah gaya gravitasi antar mereka. Bumi pun beredar di orbit tertutup, tidak akan keluar dari orbitnya sesuai dengan kehendak Allah Taala. Inilah yang mungkin dimaksud Allah dengan ‘tiang yang tidak kalian lihat’ dalam ayat “Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat” [Ar-Ra’du: 2].

Bumi mengelilingi matahari pada orbit yang berbentuk oval, sehingga ada dua jenis diameter pada orbit ini; besar dan kecil. Kecepatan bumi saat mengelilingi matahari adalah 30 km/detik.

Ketika diameter mengecil, jarak bumi dan matahari  berkurang, sehingga gravitasi pun menguat. Bisa saja bumi tertarik ke arah matahari, dan hilang menguap begitu saja dalam 1 detik, karena suhu matahari adalah 20 juta derajat, dan besarnya bisa melahap 1.300.000 planet seukuran bumi. Maka saat itu, bumi mempercepat gerakannya sehingga menimbulkan gravitasi sendiri yang bisa mengimbangi tarikan matahari.

Ketika diameter melebar, gaya gravitasi matahari melemah. Bisa saja bumi terlepas, terhempas, dan hilang di kegelapan alam semesta. Lalu kehidupan manusia pun punah karena bumi membeku, saat itu suhunya menjadi minus 270 derajat. Oleh karena itu, gerakan bumi melambat sehingga gaya gravitasi matahari bisa menahannya.

Itulah yang mungkin dimaksud Allah Taala dengan firman-Nya, “Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” [Fathir: 41].

Allah Taala Maha Kuasa menjadikan semua itu teratur, dengan sunnatullah yang sangat rumit. Allah Taala juga Maha Kuasa menjadikan semuanya berantakan, bertubrukan dan hancur. Hal itulah yang akan terjadi pada Hari Kiamat.

“Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpulkan, pada hari itu manusia berkata: “Ke mana tempat lari?” Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali.” [Al-Qiyamah: 7-12]

Tinggalkan Komentar Anda