Begini Cara Membaca Sejarah Shalahuddin Al-Ayyubi

0 komentar 187 kali dilihat

Semangat keislaman sangat penting dalam mengeluarkan umat Islam dari keterpurukan. Separah apapun, misalnya saat umat Islam berada dalam jajahan musuh-musuhnya, semangat inilah yang berhasil membangkitkan mereka dari permasalahan. Hal ini sering dicontohkan dengan peran Shalahuddin Al-Ayyubi dan keberhasilannya dalam Perang Salib.

Ketika membahas peran Shalahuddin, biasanya alur dimulai dari datangnya Pasukan Salib dengan berbagai kekejamannya yang membuat umat Islam mengalami tragedi kemanusiaan sangat parah. Namun pembahasan kemudian melompat sekitar 50 tahun berikutnya. Karena langsung membicarakan kepribadian pemimpin Islam, Shalahuddin, yang  sangat menginspirasi itu.

Sejarah yang ditulis dengan cara seperti ini akan menggiring kita kepada sebuah kesimpulan bahwa untuk menghadirkan sebuah kebangkitan diperlukan sosok pemimpin yang bisa menebarkan semangat jihad dan memobilisir umat untuk melakukannya. Pemahaman seperti ini sangat berbahaya karena dua hal:

Pertama, akan menutup mata kita dari penyakit sebenarnya yang diderita umat Islam. Dapat dipastikan ada banyak penyakit yang menyebabkan kemunduran dan kelemahan yang membuat Pasukan Salib tergiur dengan Dunia Timur. Penyakit-penyakit inilah yang kemudian memerosokkan umat Islam dalam kekalahan yang sangat mengerikan.

Kita hanya sibuk dengan efek luaran yang dimunculkan dari penyakit-penyakit tersebut. Sehingga akhirnya sebuah gerakan kebangkitan akan dipaksakan kepada sebuah umat yang penuh dengan penyakit. Bagaimana mungkin umat bisa mengalahkan musuh eksternal kalau internalnya sendiri berantakan?

Hal ini juga cenderung akan mengarahkan umat untuk melakukan perjuangan individual. Para pemimpin akan bersikap individual dalam membuat rencana dan melaksanakannya, yang pada akhirnya pasti akan berujung dengan kegagalan.

Bukti sejarah menyebutkan bahwa sebenarnya Shalahuddin Al-Ayubi pada awalnya tak lebih dari ‘bahan baku’ generasi seperti sosok-sosok lainnya. Di masanya, banyak ‘bahan baku’ lainnya yang juga menokoh dan berjasa dalam kebangkitan umat Islam. Tapi karena karakter sejarah yang lebih dominan mencatatkan para pemimpin politik, tokoh-tokoh itu pun tidak banyak dikenal orang saat ini.

Shalahuddin dan ‘bahan baku’ lainnya ini melewati proses perubahan seperti yang tertulis dalam Surat Ar-Ra’du ayat 11, bahwasanya Allah Taala hanya akan mengubah kondisi sebuah kaum setelah kaum itu mengubah apa yang ada dalam jiwa mereka. pengubahan dan perbaikan itu meliputi pemikiran, persepsi, nilai, tradisi, kebiasaan, dan sebagainya.

Masing-masing ‘bahan baku’ akan menjadi ikon bidangnya sesuai dengan potensi diri masing-masing baik jiwa, akal, maupun fisik. Maka perubahan umat akhirnya terlihat pada bidang seluruh bidang; politik, ekonomi, sosial, militer, dan sebagainya. Aktivitas mereka dalam bidang-bidang itu menjadi benar.

Sementara orang yang membina mereka dan memimpin proses perubahan adalah orang-orang yang tertempa, karena mereka telah merasakan peristiwa yang keras, pengalaman yang pahit karena kesalahan sebuah ijtihad, tapi juga pernah merasakan manisnya keberhasilan dalam berijtihad dan mewujudkannya.

Langkah pertama yang mereka lakukakan adalah melakukan memastikan terjadinya perubahan dalam diri mereka sendiri dulu, hingga akhirnya bisa mengkristalkan buah interaksi mereka dalam bentuk kaidah-kaidah perubahan. Setelah terwujud dalam diri mereka, akan ada perasaan niscayanya kelengkapan paket perubahan dalam segala bidang. ‘Bahan baku’ segala bidang harus merasakan proses perubahan ini demi terwujudnya sebuah kerja sama raksasa dalam membangkitkan umat.

Strategi besar ini mereka jalankan dengan pentahapan yang baik, serasi, dan terukur hingga sampai pada langkah terakhir yaitu mobilisasi umat untuk melakukan jihad fi sabilillah, membebaskan umat dari belenggu penjajahan. Inilah yang terjadi dalam sejarah. Tidak sederhana hanya dengan kemunculan pemimpin super seperti Shalahuddin Al-Ayyubi. Tapi melibatkan semua elemen dalam umat yang besar ini. Semua berperan. Oleh karena itu, kondisi Palestina bisa dijadikan barometer kondisi umat Islam; sehat atau sakitnya. (moso/mukjizat.co)

Tinggalkan Komentar Anda