Ternyata Rakyatlah yang Melahirkan Diktator

0 komentar 473 kali dilihat

mukjizat.co – Al-Quran berisi kisah yang sangat lengkap tentang kehidupan manusia: Seorang ayah dengan anaknya. Seorang suami dengan istrinya. Seorang kaya dengan hartanya. Seorang raja dengan kekuasaannya.

Firaun digambarkan sebagai seorang diktator yang telah melampaui batasnya hingga mengaku menjadi penguasa tertinggi di alam semesta, “Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. (Seraya) berkata: “Akulah tuhanmu yang paling tinggi”. [An-Naziat: 23-24].

Dia marah besar ketika para pembesar pembentunya beriman dan mengikuti agama Nabi Musa as., “Berkata Firaun: “Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian.” [Thaha: 71].

Demi melanggengkan kekuasaanya, Firaun dan pemerintahannya selalu mencari dalih untuk memberangus lawan politiknya. Termasuk dengan menuduh mereka sebagai orang yang korup atau melakukan kerusakan di negeri Mesir. “Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Firaun (kepada Firaun): “Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?[Al-A’raf: 127].

Kepada rakyatnya, Firaun menyatakan diri sebagai pemilik mutlak atas kekayaan negeri, dan berkuasa melakukan apapun kepada aset negara. “Dan Firaun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: “Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat (nya)?” [Az-Zukhruf: 51].

Bukan hanya menguasai tanah, air dan udara, Firaun juga menguasai otak dan pikiran seluruh rakyatnya. “Firaun berkata: “Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar”. [Ghafir: 29].

Untuk membungkam kehendak, pendapat dan pikiran rakyatnya, digunakanlah kekuatan senjata dan hukum secara serampangan. “Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya.” [Thaha: 71].

Sehingga kata as-sijnu (penjara) dalam Al-Quran sebanyak 10 kali. Anehnya, semuanya terdapat dalam kisah yang setting peristiwanya di Mesir, baik dalam kisah Nabi Yusuf as. maupun dalam kisah Nabi Musa as. Lalu semuanya terkait dengan tindakan kejam penguasa dan orang di sekitarnya kepada rakyat.

Semua itu dilakukan Firaun disertai sikap diam dan acuh rakyatnya, baik karena takut atau pun karena setuju. Firaun pun semakin menjadi-jadi dan sama sekali tidak lagi memedulikan dan menghormati pikiran rakyatnya. Rakyat dianggapnya tidak ada, “Maka Firaun meremehkan rakyatnya, dan mereka pun patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.” [Az-Zukhruf: 54].

Mereka semua akhirnya dibinasakan Allah Taala dengan ditenggelamkan di lautan. Semuanya. Bukan hanya Firaun dan mesin kekuasaannya saja, tapi juga semua yang mendiamkan kekejaman mereka. “Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut).” [Az-Zukhruf: 55].

Kebersamaan itu ternyata tidak hanya di dunia. Di akhirat pun mereka akan masuk neraka berjamaah dengan dipimpin langsung oleh Firaun. “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan tanda-tanda (kekuasaan) Kami dan mukjizat yang nyata, kepada Firaun dan pemimpin-pemimpin kaumnya, tetapi mereka mengikut perintah Firaun, padahal perintah Firaun sekali-kali bukanlah (perintah) yang benar. Ia berjalan di muka kaumnya di Hari Kiamat lalu memasukkan mereka ke dalam neraka. Neraka itu seburuk-buruk tempat yang didatangi.” [Huud: 96-98].

Untuk apa kisah yang terjadi ribuan tahun lalu itu kita baca? Ternyata Allah Taala ingin kita semua menjadikan mereka sebagai pelajaran, “dan Kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian.” [Az-Zukhruf: 56].

Oleh karena itu Rasulullah saw. selalu mengingatkan kita, “Setiap orang yang berada di sebuah masyarakat yang didalamnya kemaksiatan kerap dilakukan, lalu dia tidak mengubahnya padahal dia mampu mengubahnya, maka siksaan Allah Taala akan diratakan kepada semuanya sebelum mereka meninggal dunia.” [HR. Abu Dawud].

Kesulitan dan derita akan ditimpakan kepada semua orang akibat dari sikap diam membiarkan kezhaliman dan kemungkaran yang dilakukan segelintir orang. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak akan menyiksa masyarakat secara umum hanya karena kejahatan yang dilakukan segelintir orang. Sampai masyarakat umum melihat kemungkaran dilakukan di lingkungan mereka dan mereka bisa menghentikannya tapi tidak menghentikannya. Saat itulah Allah Taala akan menimpakan siksaan kepada semua orang baik yang melakukan kejahatan maupun yang mendiamkannya.” [HR. Thabrani]. (moso/mukjizat.co)

Tinggalkan Komentar Anda