Yang Ada di Masjid Sulaimaniah, dan Tak Ada di Masjid Lain

0 komentar 56 kali dilihat

mukjizat.co – Masjid Sulaimaniah, (Tr; Süleymaniye Camii), mempunyai tampilan estetik, letak yang panoramik, dan teknik arsitek yang ajaib. Tapi lebih dari itu, Camii ini mempunyai kedudukan dan fungsi dalam sistem sosial yang sangat penting.

Menjadi semacam budaya dalam masyarakat Turki (Utsmani), baik dari golongan istana, kaum tajir, maupun dari rakyat biasa, berwakaf untuk kemaslahatan ummat. Camii Sulaimaniah inilah salah satu contoh tipikalnya.

Masjid ini dibangun bukan sekedar tempat sujud dan rukuk sendi tubuh dalam ibadah mahdhah, tapi juga sebagai komplek tempat bersujud seluruh sendi kehidupan. Karena komplek ini dilengkapi dengan berbagai kelengkapan infrastruktur kehidupan seperti maktab (sekolah pendidikan dasar), madrasah (institusi pendidikan tinggi) dengan berbagai jurusan seperti Alquran, hadis, ilmu keislaman umum, sekolah kedokteran.

Dilengkapi juga dengan rumah sakit, tempat semua orang bisa berobat sesuai kemampuannya. Ada yang membayar, ada yang berdiskon, ada juga yang gratis. Disediakan juga tempat penginapan para musafir, lengkap dengan tempat persitirahatan kuda (hewan lainnya).

Tak kalah penting, ada dapur umum yang menyiapkan makanan untuk para pekerja masjid, ahli madrasah, pekerja rumah sakit, para pesakit, para musafir yang sedang bersinggah maupun fakir miskin di sekitar. Untuk investasi, ada pertokoan, perumahan dan lahan produktif yang dikelola atau disewakan untuk memenuhi pembiayaan semua aktifitas tadi. Jadi masjid ini telah menjadi sentra keagamaan, pendidikan, ekonomi, kesehatan dan aktifitas kehidupan lainnya.

Pembangunan masjid ini menggunakan wakaf. Modalnya dari Sultan Sulaiman, pengelolaannya oleh para profesional, dan manfaatnya untuk seluruh ummat. Beginilah wakaf, tradisi filantropi berkelanjutan yang menyentuh seluruh aspek hidup, yang diajarkan, dihidupkan dan dicontohkan oleh Rasulullah saw. dan generasi awal terbaik.

Seperti itulah wakaf, sistem jaminan sosial yang diajarkan wahyu, di mana asetnya menjadi milik Allah, tidak boleh diganggu gugat, pengelolanya disebut nazir yang berkewajiban menjaga dan mengelola dengan sebaik mungkin sebagai amanah, dan manfaatnya bersih murni untuk ummat, tanpa sebarang apa pun; dan pahalanya terus mengalir ke pewakaf, sampai ke akhirat. (andika/moso/mukjizat.co)

Tinggalkan Komentar Anda