Ibadah Haji Berperan Besar dalam Memerdekakan Indonesia

0 komentar 226 kali dilihat

mukjizat.co – Haji memiliki banyak sekali faidah dan hikmah. Itulah yang membuat orang sangat merindukannya. Rasulullah saw. bersabda, “Dan haji yang mabrur itu hanyalah surga yang layak menjadi balasannya.” [HR. Bukhari dan Muslim]. Beliau juga bersabda, “Orang yang melaksanakan haji ikhlas karena Allah swt., lalu tidak berkata kotor dan tidak berbuat kefasikan, maka dia akan pulang (bersih dari dosa) seperti saat dilahirkan oleh ibunya.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Tapi sadarkah kita, ternyata hikmah ibadah haji tidak hanya yang bersifat akhirat saja. Bahkan kemerdekaan negara kita juga ‘kecipratan’ berkah ibadah haji itu. Dalam salah satu versi sejarahnya, gelar ‘haji’ yang dipakai di depan nama orang yang pulang dari Tanah Suci ternyata adalah politik Belanda. Penjajah memadang, orang yang baru pulang dari ibadah haji bisa membahayakan politik imperialisme. Ketentuan ini diatur dalam Peraturan Pemerintahan Belanda Staatsblad tahun 1903.

Bahkan di Kepulauan Seribu ada tempat karantina untuk orang yang pulang haji. Dalihnya adalah screening dan penanggulangan penyakit-penyakit bawaan sepulang dari perjalanan jauh. Namun ternyata ada juga yang disuntik mati kalau dinilai mencurigakan akan berbahaya bagi imperialis.

Memang terbukti banyak orang yang memulai perjuangannya setelah pulang dari haji. Pangeran Diponegoro pergi haji dan ketika pulang melakukan perlawanan terhadap Belanda. Imam Bonjol yang pergi haji dan ketika pulang melakukan perlawanan terhadap Belanda dengan pasukan Paderinya. KH. Muhammad Darwis pergi haji dan ketika pulang mendirikan Muhammadiyah. Hadratusy Syaikh Hasyim Asyari pergi haji dan kemudian mendirikan Nadhlatul Ulama. Samanhudi pergi haji dan kemudian mendirikan Sarekat Dagang Islam. Cokroaminoto berhaji dan mendirikan Sarekat Islam.

Ada apa di haji sehingga bisa menggerakkan orang untuk berjuang? Haji mewujudkan kemerdekaan dari penghambaan kepada selain Allah Taala. Haji melahirkan hamba yang mengesakan Allah Taala dengan sebenar-benarnya. Setiap saat seorang haji disunnahkan untuk mengumandangkan talibiyah “Labbaikallahumma Labbaik Labbaika Laa Syarika Laka Labbaika Innal Hamda Wan Ni’mata Laka Wal-Mulka Laa Syarika Laka”  (Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, Aku datang memenuhi panggilan-Mu, Aku datang memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, Aku datang memenuhi panggilan-Mu, sesungguhnya segala puji, nikmat dan segenap kekuasaan milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu).

Ketika berihram dan mengenakan pakaian serba putih dengan persyaratan tertentu, seorang haji harus menaati peraturan-peraturan yang kebanyakan bertentangan dengan kebiasaan sehari-hari. Kemudian dia juga melaksanakan manasik hanya sesuai dengan yang diperintahkan Allah Taala. Semua ini tentu melahirkan orang yang mengesakan Allah Taala dengan sebenar-benarnya. Tidak tunduk kepada yang lain. Tidak takut kepada yang lain. Tidak bergantung kepada yang lain. Tidak memelas kepada yang lain. Tidak mau bersikap hina kepada yang lain. Orang seperti inilah yang benar-benar merasakan kemerdekaan.

Ketika pulang ke Indonesia, akan muncul jiwa-jiwa pemberontakan kepada penjajah yang selama ini memaksa mereka untuk tunduk, takut, bergantung, memelas, dan bersikap hina kepada mereka, bukan kepada Allah Taala saja. Mereka pun memahami dan akhirnya mengamalkan firman Allah Taala “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada orang yang hidup dalam siksaan, dan supaya ketaatan dan ketundukan itu semata-mata untuk Allah.” [Al-Anfal: 39].

Dengan beribadah haji, iman juga bertambah. Hal itu misalnya terjadi pengorbanan besar yang diberikan oleh jamaah haji. Perjalanan haji yang bisa memakan waktu hingga 2 tahun dengan meninggalkan keluarga, mengeluarkan dana yang tidak sedikit, bahkan nyawa juga sangat mungkin terancam karena bahaya perjalanan maupun berbagai macam penyakit. Pengorbanan yang besar akan melahirkan perasaan bahwa hal yang ingin diraih adalah hal yang jauh lebih besar lagi, yaitu kebahagiaan akhirat.

Jamaah haji pulang ke tanah air dengan membawa cinta yang besar pada kebahagiaan akhirat. Apa yang akan terjadi? Pengorbanan sebesar apapun bisa diberikan demi mendapatkan kebahagiaan itu, termasuk berjuang melawan penjajahan. Akan hilang rasa takut menghadapi militer yang besar. Karena mereka menyadari bahwa hidup di bawah penjajahan tidaklah membuat Allah Taala ridha. Mereka yang awalnya sibuk dengan kepentingan pribadi, asyik dengan kenikmatan dunia, sepulang dari haji berubah menjadi orang yang memikirkan bangsa, dan rela kehilangan dunia demi kebahagiaan akhirat.

Dalam haji, jamaah juga berinteraksi dengan umat Islam dari belahan dunia yang lain. Mereka akan bertukar pikiran dengan kondisi negara masing-masing. Dulu, pertemuan semacam itu sudah terkoordinir dengan cukup baik. Misalnya pertemuan Maret 1936, November 1945, dan tahun 1946. Dalam pertemuan-pertemuan itu ada penyadaran keumatan, perlawanan dan tidak mudah menyerah dengan keadaan. Datang juga tokoh-tokoh pemikir dan pembaharu dari berbagai belahan dunia seperti Jamaludin Al-Afghani, Rasyid Ridha, Muhammad Abduh, Hasan Al-Banna, dan sebagainya.

Di antara hal yang sangat ditekankan adalah mewujudkan persatuan keumatan di Indonesia. Karena kekuatan mustahil didapatkan tanpa kesatuan, karena Allah Taala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang mukmin pastilah bersaudara.” [Al-Hujurat: 10]. Sehingga tidak mengherankan jika di Indonesia kemudian bermunculan organisasi Islam yang berskala nasional, bukan lagi kedaerahan.

Dalam interaksi dengan umat Islam dunia, mereka juga akan memberikan perhatian besar pada kondisi negara kita. Mereka turut membantu semampunya untuk kemerdekaan Indonesia, seperti firman Allah Taala, “Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang lalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!” [An-Nisaa’: 75].

Mereka menyadari bahwa membantu kita termasuk dalam kesempurnaan iman. Seperti sabda Rasulullah saw., “Tidak sempurna iman seorang di antara kalian hingga senang saudaranya mendapatkan kebaikan yang kita juga mencintainya.” [Bukhari]. Kondisi Indonesia di mata umat Islam dunia mungkin sama dengan kondisi Palestina hari ini di mata kita. Kita turut memikirkan, membantu dana, mendoakan, berdemonstrasi dan sebagainya. Terbukti bahwa Hasan Al-Banna (pemimpin Ikhwanul Muslimin, Mesir) dan Syaikh Amin Al-Husaini (mufti agung Palestina) yang pertama kali mengamalkannya. Bukan negara-negara lain yang sekarang kita anggap sebagai sahabat.

Ternyata agama, apalagi Islam, terbukti menjadi faktor yang sangat penting dalam mewujudkan perlawanan yang akhirnya melahirkan kemerdekaan yang kita idam-idamkan. Sehingga tidaklah bijak jika umat Islam tidak diberi kesempatan untuk mengembangkan keislamannya di tanah air ini. (www.mukjizat.co)

Tinggalkan Komentar Anda