Kenapa Aku Belum Berangkat ke Tanah Suci?

0 komentar 356 kali dilihat

mukjizat.co – Mayoritas umat Islam mengelu-elukan ibadah haji. Karena memang memiliki faidah yang sangat banyak.  Rasulullah saw. bersabda, “Ulangilah haji dan umrah, karena keduanya menghapuskan kefakiran dan dosa seperti api yang membersihkan kotoran dalam besi.” [HR. An-Nasa’i].

Orang yang sedang melaksanakan ibadah haji dan umrah berada dalam pemeliharaan dan lindungan Allah swt. Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang pergi haji lalu meninggal dunia, maka akan ditulis mendapatkan pahala haji yang mengalir hingga hari kiamat. Orang yang pergi umrah lalu meninggal dunia, maka akan ditulis mendapatkan pahala umrah yang mengalir hingga hari kiamat. Orang yang pergi berjihad lalu meninggal dunia, maka akan ditulis mendapatkan pahala jihad yang mengalir hingga hari kiamat.” [HR. Thabrani]

Melaksanakan ibadah haji mungkin meletihkan. Tapi pahala yang didapat akan disesuaikan dengan letih yang dirasakan. Rasulullah saw. berkata kepada Ibunda Aisyah ra. yang sedang keletihan, “Sesungguhnya pahala yang engkau dapatkan sesuai dengan letih yang dirasakan dan biaya yang dikeluarkan.” [HR. Al-Hakim].

Ibadah-ibadah lain yang dilaksanakan selama di sana nilainya juga berlebih. Rasulullah saw. bersabda, “Shalat di masjidku ini lebih utama seribu kali lipat dari shalat di masjid yang lain kecuali Masjidil Haram. Sedangkan shalat di Masjidil Haram lebih utama seratus ribu kali lipat lebih melaksanakan shalat di masjidku ini.” [HR. Ahmad, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban].

Ibadah itu juga mempunyai hikmah yang tidak biasa. Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang melaksanakan shalat di masjidku (masjid Nabawi) sebanyak empat puluh kali shalat, dan tidak terlewat walaupun satu kali shalat, maka dia ditulis sebagai orang yang dibebaskan dari siksaan, dan selamat dari perbuatan orang munafik.” [HR. Ahmad dan Thabrani].

Adakah seorang Muslim mengetahui keutamaan yang sangat besar seperti di atas lalu tidak tergerak hatinya untuk berangkat? Ada juga orang yang belum berangkat dengan alasan belum dipanggil Allah Taala. Padahal semua orang sudah dipanggil-Nya. Allah Taala berfirman, “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” [Al-Hajj: 27].

Apakah dia tidak merasa takut dengan ancaman Rasulullah saw. bahwa Allah Taala tidak akan lagi memedulikan orang yang demikian? Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang memiliki perbekalan dan tunggangan yang bisa membawanya ke Baitullah, tapi tidak melaksanakan haji, maka tidak mengapa baginya untuk mati sebagai orang Yahudi atau Nasrani.” [HR. Tirmidzi].

Orang yang telah menyadarinya sungguh memandang ibadah haji sebagai sesuatu yang sangat besar dan harus diusahakan. Saat bertemu dengan sekelompok kafilan haji, Umar bin Khattab ra. berkata kepada mereka, “Kalian biarkan rambut kusut-masai, dan badan berdebu; kalian korbankan banyak harta. Tapi walaupun demikian kalian tidak menginginkan sesuatu yang duniawi sedikit pun. Demi Allah, aku tidak mengetahui perjalanan yang lebih baik dari ini.”

Orang sekaliber Ibnu Abbas ra. juga dibuat sedih karena menurut dirinya belum optimal dalam melaksanakan ibadah haji. Beliau berkata, “Ada satu hal di dunia ini yang tidak aku dapatkan hingga aku bersedih, yaitu aku sudah setua ini tapi belum sempat pergi haji dengan berjalan kaki. Padahal Allah swt. berfirman, ‘niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus.’” [Al-Hajj: 27]

Dalam masalah kebaikan, hendaknya kita mencontoh para sahabat Rasulullah saw. yang selalu mengusahakan kebaikan, semampu-mampunya, bahkan sangat mengusahakannya saat tidak mampu. Dalam sebuah hadits diceritakan, “Ada beberapa orang sahabat Nabi saw. datang dan berkata kepadanya, “Wahai Rasullah, orang-orang kaya itu sudah membawa pergi semua pahala. Mereka melaksanakan shalat seperti kami, mereka berpuasa seperti kami, tapi mereka bisa bersedekah dengan harta-harta yang melimpah.” Rasulullah saw. menjawab, “Bukankah Allah swt. sudah memberikan kalian apa yang bisa kalian sedekahkan? Sesungguhnya bertasbih sekali nilainya satu sedekah, bertakbir sekali nilainya satu sedekah, bertahmid nilainya satu sedekah, bertahlil sekali nilainya satu sedekah, melakukan amar makruf sekali nilainya satu sedekah, melakukan nahi munkar sekali nilainya satu sedekah, dan melakukan hubungan suami-isteri bernilai satu sedekah.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah seseorang dari kami melampiaskan syahwatnya lalu dia mendapatkan pahala?” Rasulullah saw. menjawab, “Coba pikirkan. Kalau orang itu lampiaskan syahwatnya pada sesuatu yang haram, bukankah dia akan berdosa? Maka kalau dia lampiaskan pada yang halal, dia pun akan mendapatkan pahala.” [HR. Baihaqi].

Alangkah baiknya kita melakukan introspeksi diri. Jangan-jangan kita belum juga berangkat haji karena diri kita penuh dengan dosa. Karena ternyata dosa itu sifatnya memberati kita dari melakukan kebaikan-kebaikan. Seperti Allah Taala firmankan, “Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?, dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu?” [Al-Insyirah: 1-3]. Dosa-dosa kita mungkin yang telah membuat kita tidak menyenangi kebaikan. Kalaupun menyenangi dan meniatkannya, kita disulitkan untuk menyiapkannya.

Karena haji adalah perjalanan suci sebagaimana disabdakan Rasulullah saw., “Orang yang berperang di jalan Allah swt., orang melaksanakan haji, dan orang yang melaksanakan umrah adalah wafdullah (tetamu Allah swt.). Allah swt. menyeru dan mereka menyambutnya, maka ketika mereka meminta Allah swt. pun akan memberi mereka.” [HR. Ibnu Majah]. Kita bertamu kepada Allah Taala yan Maha Suci. Kira-kira layakkah diri kita yang penuh dosa, dan belum mensucikannya dengan bertobat, untuk datang bertamu kepada Allah Taala?

Ataukah kita sudah menginginkannya, mengusahakannya, dan berdoa, tapi doa kita mungkin tidak diterima sehingga tidak juga berangkat. Sedangkan sebab ditolaknya doa ada banyak, di antaranya yang sangat akrab dengan keseharian kita adalah masalah harta kita yang tidak halal. Rasulullah saw. “Kemudian menyebut seorang laki laki yang berjalan jauh, berambut kusut lagi berdebu, sambil menadahkan tangannya ke langit seraya berkata, ”Wahai Tuhanku! wahai Tuhanku! Sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dikenyangkan dengan yang haram, bagaimana mungkin ia akan dikabulkan [permohonannya] “. [HR Muslim].

Atau mungkin saja kita bisa berangkat, tapi saat berada di Tanah Suci doa-doa kita tidak dikabulkan Allah Taala. Alangkah sayangnya, waktu pengkabulan doa terlewat begitu saja. Jadi keterlambatan kita berangkat ke Tanah Suci adalah kesempatan yang Allah Taala berikan kepada kita untuk kembali membersihkan harta dari yang haram. Itu keyakinan positif kita.

Haji diwajibkan sekali seumur hidup bagi setiap Muslim yang mampu. Rasulullah saw. bersabda, “Wahai sekalian manusia, diwajibkan kepada kalian melaksanakan ibadah haji.” Kemudian Al-Aqra’ bin Habis berdiri dan berkata, “Apakah setiap tahun, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab, “Kalau aku katakan, pasti akan menjadi wajib. Kalau wajib, kalian pasti tidak akan melaksanakannya. Kalaupun mau, kalian pasti tidak akan bisa melaksanakannya. Haji hanya wajib dilaksanakan sekali saja. Selebihnya adalah haji sunnah.” [HR. Ahmad].

Kenapa diwajibkan hanya sekali? Para ulama menyebutkan, di antara hikmahnya adalah agar jamaah haji benar-benar serius dalam melaksanakannya. Sebelum berangkat mereka mempersiapkan sebaik-baiknya. Haji bukan hanya ritual fisik saja yang kosong dari nilai-nilai iman. Haji diharapkan memberikan bekal iman dan ruhani yang cukup untuk seumur hidup kita.

Oleh karena itu, keterlambatan kita berangkat kita yakini sebagai kesempatan yang Allah Taala berikan untuk lebih mempersiapkan diri. “Carilah bekal yang banyak, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” [Al-Baqarah: 197].

Ibadah haji adalah rukun Islam kelima. Rasulullah saw. bersabda, “Islam dibangun di atas lima tiang; bersyahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah.” [HR. Tirmidzi]. Diletakkan terakhir, menurut beberapa ulama, menunjukkan haji adalah puncak penghambaan kita kepada Allah Taala. Karena berada di puncak, maka harus diawali dengan ibadah-ibadah di bawahnya. Ketika ingin puncak kita sempurna, kita harus menyempurnakan ibadah-iabdah di bawahnya dulu. Inilah kesempatan kita mengoreksi, sudah sempurnakah shalat kita? Puasa kita? Zakat kita? (www.mukjizat.co)

Tinggalkan Komentar Anda