Mengapa Kita Harus Mencintai Keturunan Nabi?

0 komentar 171 kali dilihat

mukjizat.co – Allah Taala berfirman, “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” [Al-Ahzab: 33]. Dalam ayat yang lain, Allah Taala juga berfirman, “Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” [Asy-Syuara: 23].

Ahlul Bait yang disebutkan dalam ayat di atas adalah istri-istri, anak, dan keluarga Rasulullah saw. Surat Al-Ahzab: 33 turun setelah perintah kepada para istri Rasulullah saw. untuk taat kepada Allah Taala, taat kepada Rasulullah saw., larangan tabarruj, larangan buka aurat, dan larangan berkata lembut kepada laki-laki.

Sehingga maksud ayat tersebut, bahwa hikmah dari perintah dan larangan itu adalah untuk mensucikan para istri Rasulullah saw. Lalu Rasulullah saw. memasukkan Ali ra., Fathimah ra., Hasan ra., dan Husain ke dalam kain, mengatakan, “Mereka juga Ahlul Bait, sucikan dan bersihkan mereka.” Mereka disebut Ahlul Kisa’ (kain).

Mencinta Ahlul Bait mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam. Mencintai mereka termasuk dalam mencintai Rasulullah saw. mencintai mereka adalah dalam rangka berterima kasih kepada Rasulullah saw. seperti disebut dalam Asy-Syuara: 23.

Dalam keyakinan umat Islam, mencintai Ahlul Bait, seperti perkataan Ibnu Taimiyah, adalah bagian dari akidah yang tidak bisa tidak ada. Sementara Imam Ath-Thahawiyah, mengatakan, “Kita membenci orang yang membenci mereka dan berkata buruk tentang mereka. Sedangkan kita hanya berkata yang baik tentang mereka. Mencintai mereka adalah agama, iman, dan ihsan. Sedangkan membenci mereka adalah kafir, munafik, dan zhalim. Orang yang berkata baik tentang para sahabat dan istri-istri Rasulullah saw. yang suci, maka orang itu terbebaskan dari penyakit munafik.”

Mencintai mereka termasuk dalam ajaran Islam. Iman tidak sempurna tanpa mencintai Ahlul Bait. Membenci Ahlul Bait adalah perbuatan dosa, tapi tidak membuat seseorang kekal di dalam neraka. Kebanyakan orang, tidak cinta juga tidak benci. Ini karena memang mereka tidak tahu hukumnya. Setelah tahu, mereka diwajibkan mencintai mereka.

Kisah Buraidah ra. yang sempat membenci Ali bin Abi Thalib ra. karena ada masalah di antara mereka. Rasulullah saw. bersabda, “Jangan kau benci Ali.” Ali kemudian menjadi orang yang paling dicintai Buraidah ra.

Walaupun demikian, mencintai merkea bukan berarti menjadikan Ahlul Bait sebagai perantara antara seseorang dengan Allah Taala seperti pada agama lain. Tidak diperbolehkan mengagungkan kuburan mereka, dan melakukan perbuatan-perbuatan syirik terkait mereka.

Dalam banyak kesempatan, Rasulullah saw. berwasiat kepada kita untuk mencintai Ahlul Bait. Rasulullah saw. bersabda, “Aku ingatkan kalian hal yang Allah wajibkan kepada kalian untuk Ahlul Bait. Beliau mengulanginya tiga kali.” [HR. Muslim].

Rasulullah saw. bersabda, “Fathimah adalah bagian dariku. Orang yang membuatnya marah, juga telah membuatku marah.” [HR. Bukhari-Muslim]. Kepada Ali bin Abi Thalib ra. Rasulullah saw. berkata, “Engkau adalah bagian dariku, dan aku adalah bagian darimu.” [HR. Bukhari-Muslim].

Suatu kali, Rasulullah saw. berdoa untuk Hasan bin Abi Thalib ra., “Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya, maka cintailah dia, dan cintailah orang yang mencintainya.” [HR. Bukhari-Muslim].

Karena itulah, para sahabat sangat mencintai mereka. Misalnya, Abu Bakar ra. yang mengatakan, “Demi Allah, aku lebih mencintai keluarga Rasulullah saw. daripada keluargaku sendiri.” Hal senada dikatakan oleh Umar bin Khattab ra. kepada Abbas bin Abdul Muttalib ra., “Demi Allah, masukmu ke dalam Islam lebih membuatku bahagia daripada masuk Islamnya ayahku sendiri. Karena Rasulullah saw. sangat bahagia dengan hal itu.”

Karena mencintai Rasulullah saw. dan ahlul bait bisa meluapkan emosi, maka sering dimanfaatkan sekelompok orang untuk kepentingan politik, materi, etnis, dan sebagainya. Namun banyak sekali keturunan Rasulullah saw. saat ini yang sangat tidak setuju dengan keyakinan salah seperti itu. Bahkan banyak ulama mereka yang menulis untuk meluruskan kesalahan-kesalahan tersebut. (sof1/mukjizat.co)

Tinggalkan Komentar Anda