Wakil Ulama Dunia: Demokrasi Hanya Alat, Bisa Baik Bisa Buruk

0 komentar 243 kali dilihat

mukjizat.co – Perbedaan dan perdebatan masih saja menghiasi ruang publik menjelang diadakannya pemilihan umum untuk memilihi wakil rakyat, presiden, gubernur dan sebagainya. Perbedaannya adalah antara yang menerima dan menolak dibolehkannya pemilihan umum yang merupakan salah satu perangkat demokrasi tersebut.

Syaikh Ahmad Al-Raysuni, salah seorang pendiri Persatuan Ulama Muslim Sedunia (IUMS) dan kini menjadi wakil ketuanya, mengatakan, “Dalam Islam ada maqashid (tujuan-tujuan syariah), dan ada juga wasa’il (sarana-sarana yang diperintahkan untuk mencapai tujuan tersebut). Maqashid bersifat tetap, sedangkan wasa’il bisa berubah. Kadang malah maqashid yang menuntut berubahnya wasa’il. Ini yang membuat Islam agama yang bisa mempertahankan bentuk inti, tapi bisa mengikuti zaman.”

Syaikh Ahmad Al-Raysuni mencontohkan hal tersebut dengan syura dalam Islam. “Rasulullah saw. pernah melakukan wasa’il dalam mengatur negara Islam. Tapi wasa’il tersebut bukanlah sesuatu yang tetap dan harus seperti itu. Buktinya, Rasulullah saw. mencari-cari sarana (wasa’il) yang tepat dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi negara saat itu. Termasuk di dalamnya adalah sarana untuk syura.”

Syaikh Ahmad Al-Raysuni, yang menjadi rujukan ulama dunia dalam Ilmu Maqashid ini, menjelaskan lebih detail tentang syura, “Syura adalah salah satu wasa’il. Syura bukan ibadah mahdhah, bukan hal yang harus disucikan, dan tidak ditentukan bentuk pastinya. Syura adalah sebuah cara dan metode, bukan gaya yang kaku.”

Ulama asal Maroko ini kemudian membandingkan syura dan demokrasi, “Demikian juga demokrasi. Demokrasi tidaklah seperti mesin yang sudah dilengkapi dengan katalog penggunaannya. Demokrasi juga bukan akidah dan agama. Oleh karena itu demokrasi tidak mesti bersifat liberal dan kapitalis.”

Lebih lanjut, Syaikh Ahmad Al-Raysuni menjelaskan, “Pada dasarnya, demokrasi adalah kebebasan memilih dan kebebasan bergerak yang diinginkan sebuah kelompok atau bangsa. Penentuan dan pengikatannya dilakukan dengan mekanisme mayoritas. Untuk mengetahui suara mayoritas itu, dilakukakan cara yang transparan dan bersih dari kecurangan.”

Syaikh Ahmad Al-Raysuni membuktikan kesimpulannya tersebut dengan sebuah pertanyaan, “Apakah anda bisa berharap demokrasi di sebuah nagara Eropa menjadikan sebuah negara tersebut negara Islam? Tentu tidak. Hal yang sama juga, demokrasi di negara Islam, jika dilakukan dengan benar-benar dan dimanfaatkan oleh orang-orang baik, tidak akan menjadikan sebuah negara Islam menjadi negara kafir. Demokrasi hanyalah alat. Tak ubahnya seperti pisau; bisa digunakan di dapur, bisa juga digunakan untuk kejahatan.”

Agar tidak terjadi kesalahpahaman, Syaikh Ahmad Al-Raysuni menjelaskan, “Aku tidak sedang membicarakan demokrasi dengan segala macam kecurangan, tekanan, politik uang, dan sebagainya. Aku hanya membicarakan tentang demokrasi sebagai sebuah ide dan prinsip. Bagaimana digunakannya, tergantung orang-orang yang memanfaatkannya. Semakin berhasil dakwah dalam membentuk masyarakat yang islami, semakin mungkin bagi demokrasi untuk menghasilkan negara yang islami juga.” (sof1/mukjizat.co)

Tinggalkan Komentar Anda