Kerajaan Terkuat dalam Sejarah Ini Dipimpin Seorang Muslim

0 komentar 560 kali dilihat

mukjizat.co – Kisah adalah sarana yang sangat baik untuk menyampaikan pelajaran. Karena dapat menampilkan tokoh-tokoh cerita lengkap dengan gerakan mereka, akhlak mereka, pikiran mereka, kejiwaan mereka, kecenderungan hati mereka, dan setting kehidupan mereka.

Allah Taala berfirman, “Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu KEBENARAN serta PENGAJARAN dan PERINGATAN bagi orang-orang yang beriman.” [Hud: 120].

Berikut adalah kisah sebuah kerajaan terbesar dalam sejarah. Diceritakan dari sudut pandang tokoh cerita seekor burung. Hud-hud terancam mendapatkan sanksi berat karena dituduh tidak disiplin. Tapi saat diinterogasi, Hud-hud memberitahu Nabi Sulaiman as. bahwa dirinya telah menemukan sebuah kerajaan besar yang dipimpin oleh seorang ratu. Tapi mereka tidak beriman kepada Allah Taala, bahkan menyembah matahari.

Melalui sepucuk surat, Nabi Sulaiman as. memerintahkan mereka untuk beriman kepada Allah swt. Mereka berusaha untuk menolak, dengan cara menawarkan harta-benda. Tapi usaha ini sia-sia, karena kerajaan Nabi Sulaiman as. jauh lebih besar dan kaya. Singkat cerita, kerajaan Saba’ ini tunduk dan bergabung dengan kerajaan Nabi Sulaiman as. Apa faktor-faktor kebesaran kerajaan Nabi Sulaiman as. sehingga demikian tangguh?

Kekuatan

Kekuatan yang sangat penting dalam sebuah negara adalah kekuatan ilmu dan fisik. “Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu”. Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang  dia pun tidak diberi kekayaan yang banyak?” (Nabi mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang  dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” [Al-Baqarah: 247].

Agar umat Islam tidak sekadar teoritis, maka Al-Qur’an memberikan contohnya. Militer Nabi Sulaiman as. sangat besar, dan terdiri dari berbagai kalangan. “Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan).” [An-Naml: 17].

Pasukan Nabi Sulaiman as. sangat besar. Tidak ada yang tidak takut kepada pasukannya. Sampai semut pun. “Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” [An-Naml; 18].

Ilmu

Allah Taala telah mengaruniakan ilmu yang lebih kepada Nabi Daud as. dan Nabi Sulaiman as. “Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba-Nya yang beriman.” Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: “Hai Manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu.  Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu karunia yang nyata.” [An-Naml: 15-16].

Ilmu yang dimiliki Nabi Sulaiman as. di antaranya adalah bagaimana berkomunikasi dengan seluruh makhluk hidup sehingga bisa memanfaatkannya untuk kemashlahatan kerajaan. “Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya.” [Saba’: 12].

Cerdik-pandai pun memberikan kontribusi membesarkan kekuasaan Nabi Sulaiman as. “Berkata Sulaiman: “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.”

“Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya.”

“Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya).” [An-Naml: 38-40].

Misi

Negara yang kuat harus bermisi mulia, yaitu merealisasikan tauhidullah, dan menyebarkanya ke seluruh dunia. Sehingga dunia bebas dari kedhaliman, orang merdeka untuk memilih keyakinannya. Kebebasan itu akan membuat orang memilih Islam.

Dalam kisah Nabi Sulaiman as., misi ini bukan hanya ada dalam benak raja, tapi juga seluruh rakyatnya. Bahkan seekor burung pun merasa berkewajiban mengemban misi ini.

“Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.

“Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan setan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk.” [An-Naml: 23-24].

Maka Nabi Sulaiman as. pun mengirimkan sepucuk surat kepada ratu tersebut. “Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi) nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang berserah diri.” [An-Naml: 30-31].

Perhatian Seorang Pemimpin

Seorang pemimpin hendaknya mengetahui dan mengimani misinya, memperjuangkan misinya, memperhatikan yang dipimpinnya, dan menegakkan disiplin terhadap aturan.

“Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: “Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir. Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang.” [An-Naml: 20-21].

Nabi Sulaiman as. masih sempat memerhatikan seekor burung, berarti beli lebih perhatian kepada yang lainnya. Nabi Sulaiman as. sangat teliti dalam memerintah. Walaupun banyak sekali pasukannya, masih sempat merasa kehilangan seekor burung.

Nabi Sulaiman sungguh pemimpin yang menghormati bawahannya. Beliau memberikan burung Hud-hud posisinya. Mungkin orang bertanya, apa sebenarnya yang bisa diberikan seekor burung? Tapi keyakinan beliau, setiap pasukan harus melaksanakan tugas masing masing-masing.

Rakyat yang Beriman dengan Misi Negara

Burung Hud-hud sangat bangga dengan tugas dirinya. Dia sangat berani saat berkata kepada seorang raja diraja, “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.” [An-Naml: 22-23].

Tidak seperti bangsa Saba’. Para pembesar kerajaan saja tidak berani menyampaikan pendapatnya. Mereka mengatakan, “Dan keputusan berada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan.” [An-Naml: 33]. (sof1/mukjizat.co)

Tinggalkan Komentar Anda