Beginilah Kami Memuliakan Ulama

0 komentar 371 kali dilihat

mukjizat.co – Sepanjang sejarah Islam, terbukti ulamalah benteng pertama pertahanan umat. Ulama yang menjaga akidah, syariah, dan kejayaan umat. Karena itulah, ulama layak mendapatkan kedudukan mulai dalam tradisi umat Islam.

Ulama adalah pewaris kenabian sejak berakhir turunnya wahyu dari langit. Mereka menggantikan tugas-tugas para nabi sebagai konsekwensi pengikut nabi terakhir, Rasulullah saw. Sehingga tak heran, Rasulullah saw. sendiri yang mengajari bagaimana menghormati mereka.

Pada suatu hari, di majelis Rasulullah saw., berkumpul banyak sahabat. Mereka dengan antusias mendengarkan sambil berlomba untuk menjadi yang terdekat dengan beliau. Tiba-tiba datanglah, Abu Bakar Ash-Shiqqiq. Para sahabat diminta bergeser, bahkan ada yang diminta berdiri untuk memberikan tempat duduknya kepada sahabat yang ulama ini.

Turunlah ayat Al-Quran yang membimbing umat bagaimana menghormati ulama, memberitahukan betapa mulianya ulama di Sisi Allah Taala. “Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al-Mujadilah: 11].

Jika seperti ini bimbingan Al-Quran agar kita memuliakan ulama, bagaimanakah sikap kita jika ada ulama yang dilecehkan, dihina, diberitakan dengan buruk? Jika ingin tetap berada dalam bimbingan Allah Taala, umat Islam tidak boleh membiarkan ada ulamanya yang diperlakukan demikian. Walaupun itu berdalihkan kebebasan berpendapat seperti yang dikatakan oleh para pengusung liberalisme.

Syariah Islam menempatkan ulama dalam kedudukan yang sangat mulia. Karena peran dan tanggung jawab mereka yang sangat besar kepada umat. Maka Islam menjadikan ketaatan mereka sebagai ketaatan kepada Rasulullah saw., dan tentunya kemudian sebagai ketaatan kepada Allah Taala. “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” [An-Nisaa’: 59]. Kebanyakan pendapat menyebutkan Ulil Amri adalah ulama.

Ibnu Abbas ra. mengatakan, “Mereka adalah para ulama fiqh dan agama. Mereka adalah orang-orang yang sangat dekat kepada Allah Taala, mengajarkan nilai-nilai agama, memerintahkan kebaikan, mencegah kemunkaran. Umat diwajibkan menaati mereka.” Bahkan para umara’ (pemimpin politik) harus ditaati juga jika mereka menaati ulama. Alangkah baiknya jika umara’ kita juga adalah ulama.

Allah Taala berfirman, “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Demikian juga orang-orang yang menegakkan keadilan, para malaikat, dan orang-orang yang berilmu (menyatakan yang demikian itu). Bahwa tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Ali Imran: 18].

Ayat ini menunjukkan keutamaan ilmu dan ulama. Karena kemuliaan mereka, Allah Taala sampai menyebutkan mereka bersama Dzat-Nya, orang-orang yang menegakkan keadilan, dan para malaikat.

Kedudukan ulama tidak bisa disamakan dengan manusia biasa. “Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” [Az-Zumar: 9]. Karena tanggung jawab mereka besar, kemuliaan mereka juga ditinggikan. Bahkan kita juga harus menjadikan mereka sebagai referensi, lalu menaati petuah mereka. “Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” [Al-Anbiya: 7].

Umat tidak boleh merujuk kepada orang yang jawabannya tidak dianggap dalam syariah. Ketika melakukan demikian, maka umat telah merujuk kepada orang yang salah, memberikan tanggung jawab kepada orang yang tidak layak.

Saat merujuk kepada para ulama, umat harus berkeyakinan penuh bahwa para ulama tidak akan menyesatkan mereka. Karena ulama adalah orang-orang yang paling takut kepada Allah Taala. Ulama paling merasa takut karena merekalah orang-orang yang paling mengetahui siapa Allah Taala. “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” [Fathir: 28].

Semakin seorang hamba mengetahui Allah Taala, dia akan semakin takut, semakin jauh dari kemaksiatan, semakin berhati-hati dalam bersikap, semakin amanah dalam mengemban tanggung jawab, dan semakin sayang kepada umat.

Ulama adalah orang-orang baik. Bukti kebaikan mereka adalah karena Allah Taala jadikan mereka berilmu. Ketika Allah Taala jadikan mereka berilmu, itu adalah salah satu bukti Allah Taala menghendaki kebaikan untuk mereka. Rasulullah saw. bersabda, “Jika Allah Taala menghendaki kebaikan untuk seseorang, maka Allah Taala akan menjadikannya paham dalam agama.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Oleh karena itu, Hari Kiamat yang merupakan hari terburuk di dunia ditandai dengan habisnya para ulama. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu secara langsung, tapi dengan cara mencabut nyawa para ulama. Sehingga jika tidak tersisa ulama di dunia, maka orang-orang akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Jika ditanya, mereka menjawab tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” [HR. Bukhari]. (sof1/mukjizat.co)

Tinggalkan Komentar Anda