10 Usaha Pembunuhan Nabi saw (3)

0 komentar 349 kali dilihat

mukjizat.co – Para nabi dan utusan Allah Taala mempunyai satu kelebihan dari Allah Taala, yaitu terpelihara (ma’shum). Selain terpelihara dari perbuatan dosa, ada beberapa nabi yang juga terpelihara dari upaya pembunuhan. Menurut beberapa ulama, para nabi yang terpelihara dari pembunuhan adalah nabi-nabi yang diperintahkan untuk berjihad. Karena ada beberapa nabi yang meninggal dunia karena dibunuh, seperti Nabi Zakaria as. dan Nabi Yahya as.

Adapun Rasulullah saw. adalah salah satu nabi yang diperintahkan (ada perintah jihad dalam syariatnya). Oleh karena itu, beliau termasuk yang terpelihara dari upaya pembunuhan. Tercacat ada 10 kali upaya pembunuhan terhadap beliau, ternyata tidak ada satu pun yang berhasil.

Kekalahan kaum Musyrikin dalam Perang Badar telah meninggalkan luka yang sangat parah dalam hati para penduduk Mekah. Sore itu ada dua orang tokoh muda Mekah yang sedang duduk-duduk di dekat Ka’bah. Dia adalah Shafwan bin Umayyah dan Umair bin Wahb Al-Jumahi.

Umair bisa dikatakan sebagai setannya Mekah karena banyak kelakuannya yang sangat menyakiti Rasulullah saw di Mekah. Sementara anaknya, Wahb bin Umair berada di Madinah karena jatuh menjadi tawanan kaum Muslimin dalam Perang Badar. Dengan penuh kesedihan, mereka berdua membayangkan tokoh-tokoh besar Quraisy yang mati dalam Perang Badar. Shafwan mengatakan, “Hidup ini terasa hampa sepeninggal mereka.”

Umair menimpali, “Benar ucapanmu. Seandainya saja tidak berhutang dan harus menaggung keluargaku yang banyak, pastilah aku sudah pergi ke Madinah untuk membunuh Muhammad. Apalagi anakku, Wahb, juga sedang ditawan di sana.”

Mendengar perkataan itu, Shafwan mempunyai ide, “Biar hutangmu aku yang membayarnya. Keluargamu juga kuasuh bersama keluargaku.” Umair menerima tawaran Shafwan itu. Dia berkata, “Kalau begitu, kita rahasiakan rencana kita ini. Umair pun menyiapkan pedangnya. Diasah dan direndam dalam racun. Kemudian bergegas pergi ke Madinah.

Saat sampai di Madinah dan menambatkan untanya di dekat masjid Nabawi, Umar bin Khattab ra. melihatnya bersama para sahabat yang sedang duduk-duduk membincangkan kemenangan Perang Badar. Umar ra. berkata, “Itu ada anjing, musuh Allah, si Umair. Pasti datang dengan niat jahat.”

Umar ra. pun pergi menemui Rasulullah saw., “Wahai Nabi Allah, ada musuh Allah, Umair datang dengan membawa pedang.” Rasulullah saw. pun menyuruh Umar ra. untuk mempersilahkan Umair masuk menemui Rasulullah saw.

Umar ra. pun menemui Umair dan mengajaknya masuk tapi dengan mendekatkan pedangnya ke arah Umair sebagai sikap hati-hati. Umar ra. berkata kepada para sahabat, “Kalian masuklah menemani Rasulullah saw. Berhati-hatilah dengan orang buruk ini. Dia tidak bisa dipercaya.” Kemudian mereka pun masuk menemui Rasulullah saw.

Rasulullah saw. mempersilahkan Umair untuk mendekat dan meminta Umar ra. untuk tidak mengancamnya dengan pedang. Umair pun mendekat dan mengucapkan, “Selamat pagi.” Rasulullah saw. menjawab dengan mengatakan, “Kami sudah punya salam yang lebih baik. Salamnya para penduduk surga. Apa maksud kedatanganmu, Umair?”

Umair menjawab, “Aku datang untuk memintamu memperlakukan anakku yang menjadi tawananmu dengan baik.” Rasulullah ra. kembali bertanya, “Lalu kenapa engkau membawa pedang itu?” Umair menjawab, “Oh pedang buruk ini. Ini pedang yang tak berguna.”

Rasulullah saw. terus menyelidik, “Jujurlah kepadaku. Apa maksud kedatanganmu?” Umair tetap saja bersikeras bahwa maksud kedatangannya adalah meminta perlakuan baik untuk anaknya.

Rasulullah saw. pun berkata, “Bukankah engkau duduk berdua dengan Shafwan di dekat Ka’bah mengenang tokoh-tokoh Mekah yang terbunuh dalam Perang Badar? Kemudian engkau berkata ingin pergi membunuhku seandainya saja tidak berhutang dan tidak mempunyai keluarga yang harus ditanggung. Kemudian Shafwan menyatakan siap membayarkan hutangmu dan menyantuni keluargamu. Demi Allah, Dia akan melindungiku dari rencana burukmu.”

Umair pun berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah. Aku hanya berdua dengan Shafwan saat membicarakan hal itu. Tidak ada orang lain yang tahu. Ini benar-benar kabar dari langit yang datang kepadamu. Ini benar-benar wahyu dari Allah. Segala puji bagi Allah yang telah menuntunku menuju hidayah ini.”

Kemudian Umair mengucapkan dua kalimat syahadat, dan Rasulullah saw. memerintahkan para sahabat untuk mengajarinya Islam. Rasulullah saw. juga menyuruh para sahabat untuk membebaskan anak Umair.

Sementara itu, di Mekah, Shafwan sesumbar kepada para penduduk, “Sebentar lagi akan datang kabar yang bisa membuat kalian lupa dengan kekalahan Perang Badar.” Shafwan selalu bertanya kabar Umair kepada setiap kafilah yang datang dari Syam. Ternyata mereka mengabarkan bahwa Umair telah masuk Islam.

Shafwan pun bersumpah untuk tidak mau mengajak bicara Umair, tidak akan memberikan bantuan apapun kepada Umair. Adapun Umair, dia pulang ke Mekah dan mengajak para penduduknya untuk turut mengikuti dakwah Rasulullah saw. Banyak orang yang akhirnya mendapatkan hidayah melalui tangannya. (sof1/mukjzat.co)

Tinggalkan Komentar Anda