Permintaan Maaf Terbaik dalam Sejarah

0 komentar 426 kali dilihat

mukjizat.co – Suatu hari, tanpa Rasulullah saw. para sahabat berkumpul membahas sebuah masalah. Di antara yang hadir dalam pertemuan itu adalah Khalid bin Walid ra., Abdurrahman bin Auf ra., Abu Dzar ra., dan Bilal bin Rabah ra.

Abu Dzar ra. menyampaikan pendapatnya tentang apa yang harus dilakukan oleh pasukan Islam. Namun usulan Abu Dzar ra. itu dikritik oleh Bilal ra. Usulan itu dikatakannya salah. Mendengar usulannya dikritik, Abu Dzar ra. mengatakan, “Sampai kamu, anak perempuan hitam, juga ikut menyalahkanku?”

Bilal ra. kaget dan kecewa dengan ucapan saudaranya yang cukup menyakitkan hati itu. Dia mengatakan, “Demi Allah, aku akan menyampaikan hal ini kepada Rasulullah.” Bilal ra. pun bergegas pergi menemui Rasulullah saw.

“Wahai Rasulullah, tahukah engkau apa yang dikatakan Abu Dzar kepadaku?” Bilal ra. memulai pembicaraannya. Dengan penuh perhatian, Rasulullah saw. bertanya, “Dia mengatakan apa?” Bilal ra. pun menceritakan penghinaan yang dilakukan Abu Dzar ra. kepada dirinya hanya lantaran perbedaan pendapat. Mendengar laporan itu, Rasulullah saw. marah hingga merah wajahnya.

Abu Dzar ra. sendiri mendengar berita marahnya Rasulullah saw. tersebut. Dia segera datang ke masjid, menemui Rasulullah saw., “Assalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.” Rasulullah saw. langsung mengatakan, “Abu Dzar, engkau marahi Bilal dengan menghina ibunya? Sungguh engkau masih membawa kebiasaan jahiliyah.”

Abu Dzar ra. mendekati Rasulullah saw., dan mengatakan, “Ya Rasulullah, aku mohon engkau mintakan ampunan kepada Allah Taala untukku. Ya Rasulullah, tolonglah aku.” Karena Rasulullah saw. diam saja, Abu Dzar ra. pun keluar masjid menemui Bilal ra., lalu berbaring dan meletakkan kepalanya di tanah. Salah satu pipinya ditempelkan ke tanah.

“Demi Allah, Bilal, aku tidak akan pernah mengangkat pipiku dari tanah sebelum kau injak dengan kakimu. Engkaulah orang yang mulia, sedangkan aku adalah orang yang hina,” Abu Dzar ra. memelas dengan penuh ketakutan sembari menangis.

Ternyata mendengar ratapan itu, Bilal ra. malah menangis dan mencium pipi Abu Dzar ra., “Demi Allah, aku tidak akan pernah menginjak wajah yang sujud kepada Allah Taala.” Lalu keduanya bangkit dan saling berpelukan. Mereka menangis sejadi-jadinya.

Apakah pernah terjadi hal seperti ini selain dalam sejarah Islam? Kalau zaman sekarang, orang berkali-kali menyakiti saudaranya, dia hanya bisa mengatakan, “Maaf ya.” Bahkan masih banyak yang sungkan meminta maaf. Dalam anggapannya, meminta maaf adalah bentuk kehinaan dan merendahkan diri sendiri. Padahal sebenarnya, meminta maaf adalah sebuah budaya peradaban tinggi.

Al-Quran memuji istri pejabat Mesir yang berbuat jahat kepada Nabi Yusuf as. hanya karena keberaniannya mengakui kesalahan dan meminta maaf, “Raja berkata (kepada wanita-wanita itu): Bagaimana keadaanmu ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadamu)?” Mereka berkata: Maha Sempurna Allah, kami tiada mengetahui sesuatu keburukan daripadanya. Berkata istri Al Aziz: Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar.” [Yusuf: 51]. (sof1/mukjizat.co)

Tinggalkan Komentar Anda