Bangsa-bangsa Penyembah Matahari

0 komentar 1555 kali dilihat

mukjizat.co – Menyembah matahari dan segala yang terkait dengannya adalah salah bentuk penyembahan terkuno yang dilakukan manusia. Matahari adalah hal terbesar yang pertama dilihat manusia kemudian dihubung-hubungkan dengan keyakinan dan ritual keagamaan.

Orang-orang primitif memiliki keyakinan adanya hubungan erat antara cahaya matahari dengan segala perubahan yang terjadi pada makhluk hidup dan kejadian-kejadian di alam semesta. Hingga mereka berkesimpulan bahwa panas mataharilah faktor utama dalam fenomena udara, pergantian musim, dan sarana keberlangsungan kehidupan di atas bumi.

Generasi primitif sangat takut dengan gerhana matahari. Bila terjadi, mereka akan berlarian ke kuil-kuil untuk berdoa dan meminta keselamatan. Rasa takut ini diwariskan dari zaman ke zaman hingga saat ini, walaupun kadarnya sudah sangat berkurang. Hal itu karena matahari adalah salah satu sumber kekuatan alam yang mereka agungkan.

Bangsa yang pertama kali menyembah matahari dalam tatanan keagamaan yang teratur adalah bangsa Sumeria, Akkadian, dan Chaldean. Mereka membangun kuil-kuil untuk menyembah dewa matahari. Mereka menyebut dewa matahari sebagai penyebar cahaya alama, cahaya langit dan bumi; dewa yang menyelaraskan malam dan siang; dewa yang memberikan kehidupan dan melindungi orang-orang yang telah mati. Karena matahari adalah dewa yang menerangi kegelapan, maka matahari juga dewa keadilan.

Setelah orang-orang Assyria menguasai negeri sungai eufrat dan tigris, dewa matahari menjadi dewa yang menguasai air di langit termasuk di dalamnya hujan yang menjadi faktor terpenting dalam kehidupan negeri itu karena mengandalkan pertanian. Dewa itu kemudian dilambangkan dengan matahari yang bersayap. Itulah dewanya orang-orang Assyria.

Sementara dalam sejarah Mesir Kuno, Amon adalah dewa yang diwujudkan dalam rupa seorang laki-laki dewasa dengan janggot, di atas kepala ada dua mahkota, merah dan putih. Mahkkota merah menggambarkan Mesir bagian hilir sungai Nil; dan mahkota putih menggambarkan Mesir bagian hulu sungai Nil. Dewa ini bertempat di matahari. Tempat peribadahannya dinamakan Ain Syams (mata matahari).

Pada mitos orang Turki Kuno, matahari adalah hal yang paling penting. Saat itu bangsa Huns memisahkan antara matahari dan bulan. Masing-masing mempunyai keistimewaan dan kekuatannya. Mereka mempersembahkan sembelihan-sembelihan. Arah timur yang merupakan arah terbitnya matahari menjadi arah yang sangat penting. Rumah-rumah mereka dihadapkan ke arah timur.

Lain lagi dalam keyakinan bangsa Arya atau yang juga disebut Mithraisme. Mereka menyembah dan menghormati matahari lebih dari dewa-dewa lainnya karena merupakan sumber cahaya dan kehidupan. Mithra adalah dewa matahari yang diyakini bangsa Arya di India, Persia, dan bangsa Turan. Dewa ini sempat diyakini hingga enam abad, menyebar dari Iran, Mesir, Romania, Yunani, hingga Inggris.

Bangsa Persia menyebutnya sebagai dewa matahari, cahaya, kebenaran, keadilan, alam semesta dan pencipta manusia. Mithranisme ini telah ada dan tersebar di Iran sebelum Zoroastrianism. Bahkan Zoroastrianism sangat terpengaruh dengan Mithranisme ini, terutama dalam masalah menyucikan matahari.

Adapun bangsa Arab, mereka menyembah benda-benda langit termasuk di dalamnya matahari dan bulan. Setiap dewa yang mereka sembah adalah simbol dari benda-benda langit itu. Mereka juga menyakini bahwa bulan adalah pemimpin dewa, sedangkan matahari adalah istrinya dan ibu dari dewa-dewa lainnya. Adapun bintang-bintang adalah anak-anak mereka berdua.

Karena pengaruh dakwah tauhid Nabi Ibrahim as. bahwa tiada tuhan selain Allah (El), mereka meyakini bahwa di alam semesta hanya ada satu dewa yaitu El. Keyakinan ini berlangsung cukup lama, hingga mereka memberikan istri kepada El yang mereka sebut dengan Elat. Kemudian mereka singkat menjadi Lat, itulah yang mereka jadikan simbol untuk dewa matahari.

Dalam Al-Quran dikisahkan ratu Saba yang menyembah matahari di masa Nabi Sulaiman as. “Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan setan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk.” [An-Naml: 23-24].

Allah Taala menyebutkan bahwa perbuatan itu adalah salah, “Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” [Fushilat: 37]. (sof1/mukjizat.co)

Tinggalkan Komentar Anda