Kisah Surat Rasulullah yang Menjadi Barang Pusaka Romawi

0 komentar 1532 kali dilihat

mukjizat.co – Negara Islam di Madinah masih baru berdiri. Negara yang akan berjuang menyebarkan rahmat ke seluruh dunia ini akan menjadi anggota masyarakat dunia baru. Karenanya harus mendapatkan pengakuan negara-negara lain. Langkah Rasulullah saw. untuk mendapatkan pengakuan itu adalah dengan mengirimkan surat kepada para raja berpengaruh di dunia saat itu. Hal yang tidak beliau lakukan ketika dakwah masih dalam bentuk kelompok di Mekah.

Rasulullah saw. mengutus Dihyah bin Khalifah ke Heraklius dengan surat yang berbunyi, “Dari Muhammad, hamba dan utusan Allah,  kepada Heraklius, pembesar Romawi…”. Beliau juga menyurat Muqawqis, “Dari Muhammad, hamba dan utusan Allah kepada Muqawqis, pembesar Mesir…”. Yang juga dikirimi Rasulullah saw. adalah Kisra, “Dari Muhammad, utusan Allah, kepada Kisra, pembesar Persia…”

Rasulullah saw. benar-benar menempatkan para raja itu sebagai raja yang berkuasa di wilayahnya masing-masing. Bahkan khusus untuk penguasa Persia, Rasulullah saw. langsung menyebutkan gelar kebesarannya, yaitu Kisra. Kisra adalah sebutan lain raja di Persia, sama dengan Kaisar untuk Romawi. Dengan demikian Rasulullah saw. status de facto para penguasa itu di zamannya. Bahkan sekadar mengirim utusan saja cukup untuk menunjukkan pengakuan tersebut.

Usaha Rasulullah saw. ini ternyata berhasil. Romawi dan Mesir memberikan pengakuan kepada negara Islam di Madinah. Sementara Persia tidak sudi memberikannya. Penolakan ini ditunjukkan dengan menyobek surat Rasulullah saw., dan tidak memberikan penghormatan kepada sahabat yang membawanya.

Pengakuan Romawi itu di antaranya terlihat dari penghormatan yang mereka berikan kepada utusan Rasulullah saw. Bahkan, seperti diceritakan Ibnu Hajar, Heraklius meletakkan surat Rasulullah saw. itu di tempat yang terbuat dari emas. Sepeninggal Heraklius, surat itu menjadi barang pusaka yang terus diwariskan kepada raja-raja berikutnya.

Diceritakan, surat Rasulullah saw. pernah juga dipegang oleh salah seorang raja Franks yang berhasil menguasai Toledo. Abdul Malik bin Sa’ad, salah seorang panglima pasukan Islam jauh dari masa Rasulullah saw., pernah bertemu dengan raja itu. Dalam kesempatan itu, raja mengeluarkan sebuah kotak yang ternyata berisi surat Rasulullah saw. kepada Heraklius. Ketika mengetahuinya, Abdul Malik tersedih dan meminta ijin untuk mencium surat itu, tapi raja tidak mengizinkannya.

Saifuddin bin Falih bercerita bahwa dirinya diutus oleh raja Al-Mansur Qalawun, salah seorang raja Muslim Mamalik di Mesir yang bekuasa dari tahun 1279 M hingga tahun 1290 M, mengutusku untuk memberikan hadiah kepada salah seornag raja Franks. Raja itu mau menerima hadiah itu, dan menawarinya tinggal sementara waktu di kerajaan, tapi Saifuddin menolak. Saat membujukkan untuk tinggal, raja itu mengatakan, “Akan aku tunjukkan kepadamu sebuah pusaka yang sangat bernilai.”

Raja pun mengeluarkan sebuah kotak terbuat dari emas. Ternyata di dalamnya ada secarik kertas untuk beberapa tulisannya sudah mulai hilang, digulung dengan sehelai sutera. Raja mengatakan, “Ini adalah surat nabi kalian kepada kakekku, Kaisar. Hingga kini kami tetap menjadikannya sebagai pusaka turun-temurun. Kakek-kakek kami mewasiatkan bahwa selama surat ini masih bersama kita, maka kekuasaan pun akan tetap kita pegang. Maka kami benar-benar menjaganya dengan sangat hati-hati. Kami sangat menghormatinya. Kami juga menyembunyikannya dari orang-orang gereja agar kami tetap berkuasa.” (sof1/mukjizat.co)

Tinggalkan Komentar Anda