Kata Orang Ibadah dalam Islam Berat, Tapi Ternyata Ringan Dirasakan Muslimin, Kenapa?

0 komentar 486 kali dilihat

mukjizat.co – Tidak ada yang sia-sia kalau berasal dari Allah Taala. Hal yang sama juga dalam ibadah-ibadah yang disyariatkan-Nya kepada umat Islam. Melalui ibadah, Allah Taala hanya ingin mengetahui hamba-Nya yang tunduk. Bukan untuk menyengsarakan mereka.

Oleh karena itu, Allah Taala ridha dan senang ketika melihat hamba-Nya yang sudah tunduk kepada perintah-Nya. Allah Taala pun karuniakan nikmat-nikmat pahala. Bukan hanya di akhirat, tapi juga di dunia. Inilah mungkin yang membuat ahli ibadah berjuang keras untuk beribadah, karena mereka mendapatkan hal yang sangat indah dan lezat, yang mungkin tidak diketahui orang lain. Ibadah bukan lagi kewajiban yang terasa berat, tapi kenikmatan yang mereka kejar.

Rasa lezat ini dirasakan berbeda oleh masing-masing orang. “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” [An-Nahl: 97].

Rasa lezat dan nyaman ini hanya diberikan kepada orang yang beribadah kepada Allah Taala dengan sepenuh hati. Ibnul Qayim mengatakan, “Mendekat kepada Allah, kembali kepada Allah, ridha dengan segala yang berasal dari Allah, mencintai Allah dengan sepenuh hati, mengisi seluruh waktu untuk berdzikir kepada Allah, dan rasa gembira karena mengenal Allah, semua itu adalah pahala yang Allah berikan di dunia sebelum akhirat. Tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan yang dirasakan oleh para raja.”

Iman

Iman ternyata juga memiliki kelezatan, seperti lezatnya makanan. Rasulullah saw. bersabda, “Ada tiga hal yang jika dimiliki seseorang, maka dia akan mendapatkan rasa manisnya iman. Mencintai Allah Taala dan Rasul-Nya lebih dari cinta kepada yang lain; mencintai dan membenci seseorang karena Allah Taala; dan merasa benci kembali kepada kekafiran seperti benci kepada api neraka.” [HR. Bukhari].

Iman adalah yang menghidupkan hati. Karena seperti makanan, masing-masing orang berbeda dalam merasakannya. Ada makanan yang menurut seseorang enak, tapi menurut yang lainnya tidak enak. Ada pula orang yang merasa enak makan makanan yang berbahaya untuknya.

Ibadah

Shalat memiliki rasa lezat yang sangat agung seperti dirasakan oleh Rasulullah saw. Beliau meminta Bilal ra. untuk mengumandangkan adzan, “Bilal, rehatkan kami dengan shalat.”

Hal yang sama dialami oleh Urwah bin Az-Zubair ra. yang dipotong kakinya dalam keadaan melaksanakan shalat. Beliau tidak merasakan kesakitan karena kalah dengan lezatnya shalat yang sedang dinikmatinya.

Qiyamullail

Banyak ulama Salaf yang mengatakan, “Aku sangat berbahagia ketika malam datang. Hidupku saat itu terasa enak. Aku sangat senang dengan berbisik-bisik dengan Allah Taala yang kucintai. Aku berduaan dengan-Nya, tunduk di depan-Nya. Kalau datang fajar, aku merasa sedih. Kesibukan dunia akan menjauhkanku dari rasa nikmat itu.”

Tilawah

Utsman bin Affan ra. mengatakan, “Kalau hati kita bersih, kita tidak akan pernah kenyang membaca Al-Quran.” Sementara Ibnul Qayim menjelaskan sebabnya, “Bagaimana mungkin kita kenyang dan bosan dengan perkataan Kekasih kita? Perkataan itu sangat kita cari. Orang yang mencintai Al-Quran akan mendapatkan ketenangan hati, kelezatan, dan kebahagiaan, melebihi mendengarkan hal-hal enak yang berasal dari setan.” (sof1/mukjizat.co)

Tinggalkan Komentar Anda