Negara Hukum vs Negara Firaun

0 komentar 308 kali dilihat

mukjizat.co – Dalam kehidupan berdemokrasi, salah satu hal yang sangat ditekankan adalah masalah supremasi hukum. Semua orang harus tunduk dengan hukum. Hukum harus sama dalam memandang semua orang. Tidak ada orang yang terlepas dari jeratan hukum jika melanggar. Tidak ada orang yang dikecualikan sehingga kebal hukum.

Ini adalah perkembangan yang sangat besar dalam sejarah manusia. Karena sebelumnya, bangsa-bangsa di dunia dikuasai oleh individu-individu. Hukum adalah perintah mereka; kewajiban adalah yang mereka wajibkan; kemashlahatan adalah yang mereka pandang baik; kemudharatan adalah yang merekat pandang buruk. Sama dengan yang dilakukan oleh Firaun, “Firaun berkata: “Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar.” [Ghafir: 29]

Oleh karena itu, ketika melihat Nabi Musa as. membahayakan kekuasaan dan nama besarnya, keluarlah vonis dari Firaun, “Dan berkata Firaun (kepada pembesar-pembesarnya): “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.” [Ghafir: 26].

Sekarang masanya negara hukum, sudah tidak zamannya lagi negara Firaun. Dan ternyata Islam mempunyai peran yang sangat besar dalam perkembangan baik ini. Bukan hanya mengakui prinsip supremasi hukum, tapi juga menegakkannya dalam kehidupan nyata. Keadilan di depan hukum diterapkan dengan tegas dan penuh idealisme.

Seorang pemikir yang getol membela demokrasi, Ismat Seif Al-Dawla, mengatakan, “Dengan penuh netralitas, aku katakan bahwa diktatorisme pertama kali berakhir dalam sejarah adalah di Dunia Timur. Di antara tahun 610 hingga 632, peradaban manusia mengenal konstitusi tertulis pertama yang memenuhi segala persyaratan sebuah konstitusi. Itulah Al-Quran.

Konstitusi yang unik ini telah mengakhiri diktatorisme setelah menjadi konstitusi tertulis yang berlaku untuk semua orang tanpa kecuali, baik rakyat maupun penguasa. Hal inilah yang dikenal dalam istilah modern dengan persamaan di depan hukum dan supremasi hukum. Banyak sekali ayat yang menekankan hal ini:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat.” [An-Nisaa’: 105].

“Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” [Al-Maidah: 48].

“Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang lalim.” [Al-Maidah: 45].

“Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [Al-Mumtahanah: 10].

Rasulullah saw. sebagai nabi, rasul, pemimpin, diperintahkan untuk konsisten dengan hukum. Sama dengan orang-orang lain. Tidak seorang pun, meski dia adalah pemimpin, dibolehkan untuk lebih tinggi dari hukum, kemudian bebas melakukan apa saja terkait dengan hubungan sesama manusia.

Di era kenabian, keadilan tidak melihat membedakan orang dengan garis keturunannya, tidak membedakan antara kawan dan lawan, tidak membedakan antara mukmin dan kafir. Rasulullah saw. selalu menegakkan keadilan, walaupun mengadili keluarga atau kerabatnya sendiri. Seorang wanita dari Bani Makhzum mencuri, lalu keluarganya meminta tolong sahabat kesayangan Rasulullah saw., Usamah bin Zaid ra., untuk menghadap dan meminta keringanan dari Rasulullah saw.

Saat mendengar hal itu, Rasulullah saw. bahkan marah kepada Usamah ra., “Sesungguhnya yang menghancurkan umat-umat terdahulu adalah ketidakadilan. Jika ada orang terpandang mencuri, tidak ditindak. Sedangkan jika yang mencuri adalah orang lemah, mereka menegakkan keadilan. Demi Allah, seandainya saja Fatimah, putriku, mencuri, pastilah aku potong tangannya.” [HR. Bukhari].

Di masa Umar bin Khattab ra., seorang raja Ghassan (wilayah Suriah dan Yordania) yang bernama Jabalah bin Al-Aiham, masuk Islam. Dia kemudian tinggal di Madinah. Pada saat melaksanakan ibadah haji, tepatnya saat thawaf mengelilingi Ka’bah, kain bajunya terinjang oleh jamaah lain. Jabalah bin menamparnya hingga pecah hidungnya dan tanggal giginya. Orang itu melapor kepada Umar ra.

Umar ra. menyampaikan putusannya, “Ada dua opsi; orang itu memaafkanmu atau qisas (dia akan membalasmu setimpal).” Jabalah yang masih merasa sebagai elit bangsawan mengatakan, “Bagaimana mungkin dia diperbolehkan membalasku. Aku kan raja.” Dengan penuh ketegasan, Umar ra. mengatakan, “Islam telah menyamakan kalian berdua.” Dengan masih kesal, Jabalah berkomentar, “Kukira, dengan masuk Islam kedudukanku lebih kuat. Akan aku pertimbangkan putusanmu itu malam ini.”

Malam itu juga Jabalah membereskan seluruh hartanya, dan bergegas melarikan diri ke Syam lalu ke Konstantinopel. Dia murtad, berpindah ke agama Kristen, dan tinggal dalam lindungan Kaisar. Murtad dan kaburnya Jabalah tidak membuat sedih Umar ra. karena menyepelekan prinsip Islam jauh lebih berbahaya dari kaburnya Jabalah ke negeri musuh. (sof1/mukjizat.co)

Tinggalkan Komentar Anda