Kamu Cinta Rasul, Apa Buktinya?

0 komentar 463 kali dilihat

mukjizat.co – Banyak orang mengklaim sebagai pengikut dan mencintai Rasulullah saw. Tapi ternyata cinta bukan soal pengakuan dan kata-kata indah. Cinta adalah soal pembuktian. Mencintai Rasulullah saw. juga memerlukan hal yang bisa membuktikan apakah cinta kita sejati atau sekadar pengakuan? Orang-orang yang hidup bersama Rasulullah saw. telah berhasil membuktikan cinta mereka.

Ali bin Abi Thalib ra. rela mempertaruhkan nyawanya demi keberhasilan hijrah Rasulullah saw. dari Mekah ke Madinah. Beliau tidur menggantikan Rasulullah saw. di atas kasurnya. Padahal di saat yang sama para pemuda Mekah telah berkumpul dan mengepung rumah Rasulullah saw. untuk membunuhnya.

Bilal bin Rabah adalah orang yang dipilih Rasulullah saw. untuk mengumandangkan adzan di Masjid Nabawi, di Madinah. Tugas yang sangat dicintainya karena ditunjuk langsung oleh Rasulullah saw., dipuji bersuara merdu, dan dijanjikan mendapat pahala yang sangat indah di Akhirat. Begitu Rasulullah saw. wafat, Bilal melepaskan tugas khusus ini. Setelah bertahun-tahun, Umar bin Khattab ra. memintanya mengumandangkan adzan lagi dalam kesempatan berhasilnya penaklukan kota Al-Quds. Begitu sampai pada kalimat “Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah,” semua yang mendengarnya pun menangis, teringat dengan Rasulullah saw. dan kebenaran janjinya.

Abu Bakar ra. menceritakan pengalaman menemani Rasulullah saw. dalam berhijrah ke Madinah, “Aku menyiapkan semangkuk susu, dan kuberikan kepada Rasulullah saw. Kupersilahkan Rasulullah saw. untuk meminumnya. Beliau pun akhirnya meminumnya hingga ‘aku merasa kenyang’.” Ternyata Abu Bakar ra. sudah merasa kenyang cukup dengan melihat Rasulullah saw. meminum susu yang disiapkannya.

Ketika umat Islam masih berada di Mekah, Az-Zubair ra. mendengar kabar isu terbunuhnya Rasulullah saw. Saat itu juga Az-Zubair ra. keluar dari rumahnya sambil menghunus pedangnya mencari siapa orang yang telah membunuh Rasulullah saw. Beliau siap menjadi orang Islam pertama yang menggunakan pedangnya dalam membela Islam. Padahal saat itu Az-Zubair ra. baru berumur 15 tahun.

Suatu kali Rasulullah saw. memberikan tawaran sangat istimewa kepada Rabi’ah bin Ka’ab ra., “Apa keinginanmu?” Rasulullah ra. menanyakan hal yang akan dimohon Rasulullah saw. kepada Allah Taala. Ternyata jawaban Rabi’ah ra, “Aku hanya ingin menemanimu di surga.”

Kehebatan bukan hanya monopoli kaum lelaki. Seorang wanita dari Bani Dinar melepas keberangkatan tiga orang keluarganya untuk ikut serta dalam perang Uhud. Ayah, suami dan saudaranya. Usai perang, ternyata ketiga-tiganya mendapatkan kesyahidan. Para sahabat menyampaikan kabar itu pada wanita yang kemalangan itu. Wanita yang dikira akan bersedih itu malah balik menanyakan kabar Rasulullah saw. Setelah dikabari Rasulullah saw. dalam kondisi baik, wanita itu berkomentar, “Kalau Rasulullah saw. selamat, musibah apapun yang terjadi ringan rasanya.”

Suatu kali Rasulullah saw. melihat hal yang berbeda pada diri Tsauban ra. Beliau menanyakan, “Kau terlihat pucat, kenapa?” Tsauban ra. menjawab, “Aku tidak sakit apa-apa. Hanya saja kalau lama tidak bertemu denganmu, aku merasa sangat kesepian, dan terlihat sakit seperti ini. Aku baru sembuh setelah melihatmu.”

Dalam perjalanan hijrah ke Madinah, Rasulullah saw. ditemani oleh Abu Bakar Ah-Shidiq ra. Saat hendak mampir beberapa hari di Gua Tsur, Abu Bakar ra. masuk gua itu sebelum Rasulullah saw., “Rasulullah, biarkan aku masuk duluan, jangan engkau. Sehingga kalau ada serangga berbahaya, akulah yang disengatnya.” (sof1/mukjizat.co)

Tinggalkan Komentar Anda