Rahasia dan Mukjizat di Balik Nama Rasulullah saw (Bagian 2)

0 komentar 353 kali dilihat

mukjizat.co – Tampak sangat jelas kerendahan hati Rasulullah saw. saat tidak memerintahkan dan menganjurkan umatnya menggunakan nama beliau. Kalau mau, pastilah beliau sudah melakukannya sementara umat Islam adalah orang-orang yang sangat senang mengikuti dan meneladani nabi mereka.

Memang ada hadits yang menyebutkan, “Gunakanlah namaku, tapi jangan gunakan nama panggilanku (dengan mengatakan bapaknya fulan).” Tapi ternyata hadits ini adalah kasus yang bersifat khusus. Yaitu saat ada seorang sahabat memanggil “Hai Abal Qasim” (ayahnya Qasim, panggilan Rasulullah saw.) kemudian Rasulullah saw. menengok, ternyata sahabat itu menginginkan Abul Qasim yang lain, bukan Rasulullah saw.

Saat itulah beliau mengatakan, “Gunakanlah namaku, tapi jangan gunakan nama panggilanku,”  yang maknanya adalah dibolehkan menggunakan nama beliau (Muhammad), tapi tidak dibolehkan menggunakan nama panggilan beliau (Abul Qasim) selagi beliau masih hidup. Agar tidak terjadi kesalahan seperti kasus di atas.

Oleh karena itu, hadits-hadits yang menganjurkan memberi nama ‘Muhammad’ kepada anak-anak yang baru dilahirkan adalah hadits yang lemah. Bahkan ada ulama yang menyebutkannya palsu. Seperti hadits, “Orang yang diberi karunia anak, lalu menamainya ‘Muhammad’ dengan niat mendapat berkah, maka orang itu dan anaknya akan masuk surga.” Ternyata Ibnul Jauzi menuliskan hadits ini di dalam buku hadits-hadits palsu. Atau hadits yang di antara periwayatnya ada seorang pembohong.

Adapun hadits yang menyebutkan, “Nama yang terbaik adalah nama yang menggunakan Abdullah (dan sejenisnya) dan Muhammad (dan turunannya),” walaupun sangat terkenal, ternyata bukan perkataan Rasulullah saw. Banyak ulama yang menggolongkannya hadits palsu, seperti Al-Ajluni. Ulama seperti Imam As-Suyuthi pun tidak menshahihkannya.

Memang ulama bersepakat tentang bolehnya menggunakan nama para nabi terutama nama Rasulullah saw. Namun ternyata Rasulullah saw. tidak menganjurkannya seperti disebutkan dalam hadits-hadits di atas. Hadits shahih tentang keutamaan nama adalah, “Nama yang paling dicintai Allah Taala adalah Abdullah dan Abdurrahman.” [HR. Muslim].

Hal ini sesuai juga dengan yang difirmankan, “Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Abdullah) (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadah), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya.” [Al-Jin: 19].

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (Ibadurrahman/jamak dari Abdurrahman) (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” [Al-Furqan: 63].

Menggunakan nama Abdullah dan Abdurrahman dianjurkan Rasulullah saw. karena kesempurnaan seorang manusia adalah ketika bisa menjadi hamba yang sebenarnya kepada Allah Taala. Karena Dia menciptakan manusia untuk beribadah (menghamba) kepada-Nya. Oleh karena itu, Rasulullah saw. pun disebut sebagai hamba-Nya saat mengalami peristiwa paling indah yaitu Isra dan Mikraj: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidilharam ke Al Masjidilaksa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [Al-Isra: 1].

Subhanallah, itulah Rasulullah saw. yang keagungannya bukan karena para pengikutnya dianjurkan menggunakan namanya; yang namanya menjadi nama paling populer dan paling banyak digunakan walaupun tidak dianjurkan; yang menunjukkan pilihan terbaik yaitu menjadi hamba Allah Taala. (sof1/mukjizat.co)

Tinggalkan Komentar Anda