Bagaiamana Cara Membaca Al-Quran dan Terjemahnya dengan Penuh Penghayatan?

0 komentar 378 kali dilihat

mukjizat.co – Al-Quran adalah kitab hidayah bagi semua orang. Laki-perempuan, tua-muda, kaya-miskin, berpendidikan-tak berpendidikan. Hidayah berupa bimbingan dan semangat untuk mendekatkan diri kepada Allah Taala (hidayah taufiq) sangat mungkin didapatkan dari Al-Quran. Semangat beribadah ini bisa merasuk dalam hati seseorang ketika membaca Al-Quran.

Allah Taala menjanjikan, hidayah ini akan kita dapatkan jika kita mengikuti hidayah jenis lain, yaitu hidayah petunjuk yang juga terdapat dalam Al-Quran. Lalu bagaimana dengan orang yang tidak bisa memahami bahasa Arab? Padahal Al-Quran diturunkan Allah Taala dengan bahasa Arab. Karena untuk semua orang, maka hidayah Al-Quran tidak hanya untuk orang yang berbahasa Arab saja. Orang-orang yang tak mengenal bahasa Arab tentu bisa mendapatkan hidayah dari membaca Al-Quran.

Apalagi jika orang tersebut berusaha untuk memahami firman Allah Taala yang dibacanya. Baik dengan mempelajari tafsir Al-Quran maupun dengan membaca terjemahnya. Dia paham, mengetahui petunjuk, lalu berusaha untuk mengikuti petunjuk tersebut. Saat itulah, sangat diharapkan Allah Taala berkehendak memberikan hidayah-Nya.

Tapi bagaimana cara membaca Al-Quran dan terjemahnya dengan tepat? Biasanya orang membaca Al-Quran dulu, baru kemudian membaca terjemahnya, atau sari tilawahnya. Itu yang sudah lumrah kita temukan. Baik ketika kita membaca dan belajar Al-Quran sendiri di rumah, maupun saat pembacaan Al-Quran pada acara-acara.

Banyak ulama membuat analogi bahwa Al-Quran sangat mirip dengan alat pemancar yang dimiliki oleh stasiun televisi atau radio. Sedangkan hati kita masing-masing bagaikan pesawat televisi atau radio yang menerima siaran. Alat selalu memancarkan siarannya, tapi siaran yang diterima masing-masing pesawat sangat mungkin berbeda-beda. Ada yang menerima gambar dan suaranya dengan sangat bagus, ada yang biasa saja, ada yang terganggu, bahkan ada juga yang tidak bisa menampilkan gambar dan suaranya. Padahal siaran tetap berlangsung. Ternyata hal itu sangat terpengaruh dengan kualitas dan kondisi pesawat masing-masing.

Diri kita adalah pesawat penerima hidayah yang dipancarkan Allah Taala melalui Al-Quran. Penerimaan hidayah sangat tergantung dengan kondisi kita; pendengaran, otak, dan hati kita. Kuat-tidaknya kita menangkap pancaran hidayah itu kita sendiri yang menentukan. Apakah kita bisa mengkondisikan suasana tempat kita membaca Al-Quran sehingga telinga kita tidak terganggu? Apakah kita bisa mengondisikan otak kita dengan memahami isi firman Allah itu? Apakah kita bisa menyiapkan hati dengan membersihkan penyakit-penyakit hati seperti riya’, sombong dan lainnya?

Membaca terjemah Al-Quran termasuk dalam upaya mengkondisikan otak kita. Kalau sudah demikian, bagaimana cara yang lebih tepat agar otak kita siap saat menerima pancaran hidayah? Kira-kira membaca terjemahnya sebelum atau setelah membaca Al-Quran? Kalau seperti yang sudah lumrah kita lakukan, membaca terjemahnya setelah selesai membaca Al-Quran, maka kita akan ketinggalan momen pancaran. Kita baru memahami maksud ayat setelah bacaannya selesai.

Mengapa tidak kita coba mengubahnya, membaca terjemah dulu, baru membaca Al-Qurannya? Ketika kita berniat membaca Al-Quran, kita mempunyai alokasi waktu tertentu. Kita tentukan akan membaca beberapa halaman, dalam satu surat dari ayat berapa hingga ayat berapa. Maka, buka dan bacalah terjemah Al-Quran sejumlah ayat itu. Setelah selesai, bacalah Al-Quran dengan niat ingin mendapatkan hidayah Allah Taala. Bukan sekadar ingin mendapatkan pahala. Selamat mencoba. (sof1/mukjizat.co)

Tinggalkan Komentar Anda