Mau Pilih Hidup di Zaman Rasulullah Atau Zaman Jokowi?

0 komentar 757 kali dilihat

mukjizat.co – Suatu pagi, dalam kajian Dhuha sebuah kantor perusahaan, terjadi dialog yang cukup ramai. Awalnya, Ustadz melontarkan pertanyaan, “Bapak dan Ibu, kira-kira mau pilih hidup di zaman Nabi saw. atau zaman Jokowi?” Banyak yang terkaget-kaget karena pertanyaan itu seakan ingin membandingkan antara Jokowi dan Rasulullah saw.

“Tidak pas, Ustadz. Kalau antara Jokowi dan Suharto bolehlah,” salah seorang hadirin berusaha meluruskan. Namun ternyata Ustadz menjelaskan bahwa maksudnya bukan ingin membandingkan Jokowi dan Rasulullah saw. yang jelas sangat berbeda dalam pikiran siapapun. Maksud Ustadz itu lebih pada membandingkan antara kondisi kita masing-masing di zaman Jokowi dan kondisi kita di zaman Rasulullah saw.

“Bagaimana, Bapak Ibu, pilih yang mana?” Ustadz kembali mengulangi pertanyaannya?. “Ya sudah pasti lebih pilih zaman Rasulullah lah. Kan zaman ini sudah sangat rusak. Kalau dulu pasti lebih islami, terjaga akhlaknya, dan masih tinggi norma masyarakatnya. Apalagi ada Rasulullah saw. yang selalu memberikan bimbingan kepada kita sehari-hari,” jawab salah seorang jamaah yang terlihat masih cukup muda.

Ustadz kembali mengulang pertanyaannya, menandakan belum puas dengan jawaban dan rangsangan pada hati para hadirin. Karena diulang-ulang lagi, akhirnya ada hadirin yang memberanikan diri menjawab, “Saya pilih hidup di zaman Jokowi saja.” Ustadz pun tersenyum dan berkata, “Nah, ini dia. Jadi apa alasanya, Pak? Kenapa Bapak lebih memilih hidup di zaman Jokowi daripada zaman Rasulullah?” Bapak yang bertanya berubah bingung ditanya seperti itu.

Akhirnya, Ustadz pun menerangkan, “Bukan maksud saya zaman Jokowi saja. Tapi zaman ini, yang sudah jauh dari masa kehidupan Rasulullah saw. Saya lebih memilih hidup di zaman ini. Karena, alhamdulillah, saat ini saya menjadi seorang Muslim. Saya tidak tahu, apakah kalau hidup di zaman Rasulullah, akan menjadi salah seorang pengikut beliau atau tidak. Bahkan jangan-jangan malah menjadi pengikut Abu Jahal dan Abu Lahab.”

Mempercayai dan mengikuti Rasulullah saw. saat itu mungkin sama beratnya dengan meyakini janji bahwa umat Islam saat ini akan jaya, menjadi guru dan panutan bagi seluruh dunia. Islam akan menjadi agama yang tertinggi, mayoritas orang yang berkaca kepada Islam jika ingin hidupnya lurus dan bahagia. Umat Islam akan menjadi umat yang terdepan dalam menuntun peradaban umat manusia. Janji itu disampaikan kepada kita yang saat ini menjadi umat yang paling miskin, paling bodoh, dan paling lemah. Dalam segala hal, umat Islam bergantung kepada orang lain. Bahkan dalam urusan internalnya. Orang yang masih mengatakan umat Islam akan memimpin peradaban boleh dikatakan sebagai orang yang bermimpi.

Di awal dakwah, Rasulullah saw. sudah dinyatakan sebagai utusan Allah Taala yang menjadi rahmat bagi seluruh dunia. Apa itu rahmat bagi seluruh dunia? Perang. Ya, Rasulullah saw. harus memerangi para penguasa dunia yang zhalim dan kejam, menindas dan memaksakan rakyatnya. Rasulullah saw. akan melawan para penjajah untuk membebaskan bangsa-bangsa yang tidak bisa memiliki pilihannya. Itulah rahmat. Karena hanya dengan kemerdekaan itu bangsa-bangsa di dunia akan bebas menentukan pilihannya. Saat merdeka, pilihan mereka pasti akan jatuh kepada agama Islam. Seperti terjadi pada para penduduk wilayah-wilayah yang ditaklukkan umat Islam sepanjang sejarah.

Lalu siapakah yang mau percaya bahwa Rasulullah saw. akan berhasil melawan para penguasa besar dunia yang kejam? Apalagi saat itu Rasulullah saw. sendirian di Mekah, tidak ada partai, jamaah, apalagi kerajaan. Orang yang tidak dikaruniai hidayah oleh Allah Taala tentu akan lebih memilihi menjadi pengikut Abu Jahal, Abu Lahab, Al-Walid bin Al-Mughirah, dan para pembesar musyrikin Mekah lainnya. Kekuasaan dan pengaruh mereka jauh lebih besar dari anak muda yang bernama Muhammad. Sanggupkah kita memilih untuk menjadi pengikut Rasulullah saw. yang di awal dakwahnya hanya diperkuat oleh orang-orang lemah? Masihkah kita ingin hidup di zaman beliau yang kebanyakan umat Islamnya harus diuji dengan berbagai macam siksaan? Kuatkah kita seperti Bilal bin Rabah, Yasir, dan Sumayyah yang harus mempertaruhkan nyawanya demi keyakinan?

Beruntunglah kita saat ini. Kita tidak pernah bertemu dengan Rasulullah saw.; belum pernah disapanya, disalaminya, disenyuminya, diperhatikannya, dihadiahinya. Tapi ternyata Allah Taala berkenan memberikan hidayah-Nya, kita menjadi orang yang sangat mencintai Rasulullah saw. dan mengikuti Rasulullah saw. Padahal, dulu, orang yang sangat dekat dengan beliau, yaitu Abu Thalib, tidak mendapatkan nikmat iman itu. Tentang mahalnya nilai hidayah ini, Allah Taala berfirman:

“Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” [Al-An’am: 111].

Beruntunglah kita, karena ternyata Rasulullah saw. juga merindukan kita. Suatu kali Rasulullah saw. duduk-duduk bersama para sahabatnya. Beliau berkata sambil merenung, “Seandainya saja aku bisa bertemu dengan ikhwan (saudara-saudaraku).” Para sahabat pun bertanya, “Bukankah kami saudara-saudaramu, Rasulullah?” Jawab Rasulullah, “Bukan. Kalian adalah para sahabatku. Saudaraku adalah orang-orang yang beriman kepadaku, padahal mereka tidak bertemu denganku.” Terima kasih, Rasulullah. (sof1/mukjizat.co)

Tinggalkan Komentar Anda