Abdelhamid Ben Badis, Anak Pejabat yang Jadi Ulama Al-Quran

0 komentar 202 kali dilihat

mukjzat.co – Memuliakan Al-Quran tidak hanya dilakukan dengan membaca, memahami, dan mengamalkannya. Memuliakan Al-Quran juga bisa dilakukan dengan menghormati para pecinta Al-Quran. Merekalah para ulama yang menghabiskan umurnya untuk mempelajari dan mengajarkan Al-Quran. Banyak di antara mereka yang memiliki buku-buku seputar tafsir Al-Quran dan lainnya.

Baik kiranya kita menengok ke sejarah yang tidak begitu jauh ke belakang. Tepatnya pada akhir abad ke-19. Lahir seorang ulama Al-Quran yang terkenal di dunia Islam modern. Dialah Abdelhamid Ben Badis, yang dilahirkan pada tahun 1889 di sebuah kota Konstantin. Kota terbesar ketiga di Aljazair.

Ben Badis kecil mendapatkan pendidikan yang sangat baik. Hal itu bisa diberikan karena ayahnya adalah pejabat politik yang terkemuka sehingga tidak ditemukan permasalahan keuangan untuk memberikan yang terbaik buat anaknya. Jabatan tinggi ayahnya juga membuat Ben Badis mendapat kebebasan dalam melakukan aktivitas-aktivitasnya. Ben Badis tidak mendapat gangguan dari pemerintah kolonial Prancis yang menjajah Aljazair kala itu.

Ben Badis sudah mulai belajar di Kuttab (sekolah Al-Quran) sejak usia dini. Al-Quran selesai dihafalkannya pada umur 13 tahun. Setelah itu, Ben Badis belajar bahasa Arab dan dasar-dasar keislaman dari seorang ulama bernama Syaikh Hamdan Lounissi. Kemudian di umur belajar tingkat atas, Ben Badis berhijrah ke Tunisia untuk melanjutkan studinya di perguruan tinggi Masjid Al-Zaytuna. Ben Badis belajar kepada ulama-ulama terkenal di dunia saat itu selama empat tahun.

Setelah itu, Ben Badis pulang ke negerinya. Berkali-kali Ben Badis berusaha memulai mengajarkan ilmu-ilmu keislaman dalam sistem sekolah seperti yang didapatkannya di Tunisia. Namun usaha demi usahanya mengalami hambatan. Karena itulah, Ben Badis terpaksa harus meninggalkan Aljazair, dan sempat tinggal di beberapa negara seperti Tunisia, Hijaz (Arab Saudi), Suriah, Libanon, dan Mesir. Hingga akhirnya kembali lagi ke tanah airnya, Aljazair.

Namun kembalinya Ben Badis kali ini dengan membawa tekad lebih besar dan perencanaan lebih matang dalam menghapi hambatan-hambatan dakwahnya. Di antara hal yang memberinya semangat adalah wasiat guru yang sangat dicintainya, Syaikh Hamdan Lounissi, agar tidak mendekati jabatan-jabatan pemerintahan, dan jangan sampai ilmunya digunakan untuk mendapatkan jabatan-jabatan tersebut. Apalagi saat itu yang berkuasa adalah penjajah Prancis. Ternyata wasiat ini telah lama disimpan untuk dirinya sendiri. Ben Badis setahun sebelum meninggal dunia saat merayakan selesainya pelajaran tafsir 30 juz penuh.

Selain dikenal sebagai ulama tafsir, Ben Badis juga seorang da’i yang selalu berusaha memperbaiki kondisi umat Islam di Aljazair yang sangat parah di masa penjajahan Prancis. Namun demikian, sisi keilmuan beliau lebih dominan, terutama aktivitas pengajaran ilmu-ilmu keislaman di Masjid Al-Akhdhar. Aktivitas keilmuan itu dinilai banyak orang sebagai prestasi yang sangat besar, karena terus dilakukannya dengan kontinyu sejak tahun 1913 hingga wafat beliau tahun 1940.

Dalam rentang waktu itu, Ben Badis menghabiskan waktunya untuk mengajar berbagai bidang keilmuan mulai dari waktu subuh hingga isya. Khusus waktu antara shalat maghrib hingga shalat isya’ digunakan untuk pengajian umum tafsir yang dilakukannya selama 25 tahun, menghabiskan 30 juz Al-Quran. Saat itulah kota Konstantin menjadi kiblat pendidikan bahasa Arab dan ilmu-ilmu keislaman. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai ibukota Aljazair dalam bidang keilmuan. (sof1/mukjizat)

Tinggalkan Komentar Anda