Kenapa Kebanyakan Hakim Masuk Neraka?

0 komentar 491 kali dilihat
mukjizat

mukjizat.co – Peradilan adalah pilar yang sangat penting dalam sebuah peradaban. Kepada pilar inilah, keadilan dipertaruhkan. Ketenangan dan kebahagiaan rakyat pun sangat tergantung dengan lurus-tidaknya peradilan sebuah negara. Bila keadilan hilang, maka timpanglah norma-norma dalam masyarakat. Karena itulah, di antara tujuan besar kedatangan para rasul adalah untuk mewujudkan keadilan.

Allah Taala berfirman, “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” [Al-Hadid: 25]. “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.” [An-Nahl: 90].

Para hakim yang berlaku adil dalam menghukumi orang akan mendapatkan kedudukan sangat mulia di sisi Allah Taala kelak, “Sesungguhnya orang yang berlaku adil di dunia akan ditempatkan di atas mimbar-mimbar dari mutiara di Hari Kiamat di depan Allah yang Maha Pengasih. Itu sebagai balasan keadilannya di dunia.” [HR. Ahmad]

Namun kedudukan mulia itu ternyata hanya dinikmati segelintir hakim saja. Kebanyakan hakim malah memilih untuk masuk neraka. Rasulullah saw. bersabda, “Hakim itu ada tiga macam. Satu di antara mereka masuk surga, dan dua lainnya masuk neraka. Hakim yang masuk surga adalah hakim yang mengetahui kebenaran dan menghakimi orang dengan kebenaran tersebut. Sedangkan hakim yang mengetahui kebenaran lalu menghakimi orang dengan kezhaliman, maka di masuk neraka. Demikian juga hakim yang menghakimi orang lain tanpa mengetahui kebenaran, dia juga masuk neraka.” [HR. Abu Daud].

Di era kenabian, keadilan tidak melihat membedakan orang dengan garis keturunannya, tidak membedakan antara kawan dan lawan, tidak membedakan antara mukmin dan kafir. Rasulullah saw. selalu menegakkan keadilan, walaupun mengadili keluarga atau kerabatnya sendiri. Seorang wanita dari Bani Makhzum mencuri, lalu keluarganya meminta tolong sahabat kesayangan Rasulullah saw., Usamah bin Zaid ra., untuk menghadap dan meminta keringanan dari Rasulullah saw.

Saat mendengar hal itu, Rasulullah saw. bahkan marah kepada Usamah ra., “Sesungguhnya yang menghancurkan umat-umat terdahulu adalah ketidakadilan. Jika ada orang terpandang mencuri, tidak ditindak. Sedangkan jika yang mencuri adalah orang lemah, mereka menegakkan keadilan. Demi Allah, seandainya saja Fatimah, putriku, mencuri, pastilah aku potong tangannya.” [HR. Bukhari].

Keadilan yang ditegakkan akan menghadirkan kebahagiaan dan stabilitas di sebuah negeri. Sementara kalau tidak ditegakkan, maka tatanan kehidupan akan berantakan, keberkahan akan dihilangkan. Tak lama kemudian, negeri itu pun akan hilang karena turunnya kebinasaan dari Allah Taala, “Dan (penduduk) negeri itu telah Kami binasakan ketika mereka berbuat lalim, dan telah Kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka.” [Al-Kahfi: 59].

Semua yang disebutkan dalam Al-Quran dan hadits di atas ternyata kita temukan dalam kehidupan bernegara kita. Sangat sulit menemukan hakim yang berlaku adil. Kebanyakan hakim tergiur dengan godaan dunia, kalau pun tidak, mereka mengadili orang di bawah pengaruh, tekanan, ancaman, dan sebagainya. Hasilnya maka seperti yang disebutkan dalam hadits di atas. Tebang pilih dalam mengadili. Apakah umur negeri ini akan segera berakhir? (sof1/mukjizat)

Tinggalkan Komentar Anda