Jangan Pernah Ragu dengan Rezeki yang Dijamin Allah, Ini Buktinya

0 komentar 665 kali dilihat

mukjizat.co – Ada seorang ulama shalih bernama Hatim bin Al-Asham. Sudah bertahun-tahun dia merindukan Baitullah. Dia memendam keinginan melaksanakan ibadah haji, tapi apa daya dirinya tidak memiliki nafkah (biaya). Bukan hanya itu, Hatim juga tidak bisa meninggalkan keluarganya tanpa biaya hidup selama ditinggalkannya.

Kesedihan semakin terasa ketika musim haji semakin dekat. Putrinya yang merupakan gadis shalihah turut iba saat melihat ayahnya menangis karena menahan rindu. Putri bertanya kepada ayahnya, “Ayah, apa yang membuatmu menangis?” Ayah menjawab, “Musim sudah semakin dekat, Nak.”

“Lalu kenapa ayah tidak berangkat saja?” tanya putri. Ayah menjawab, “Ayah tidak punya biaya.” Dengan penuh keyakinan, putri berkata, “Yakinlah, pasti Allah akan memberi ayah rezeki.” “Lalu bagaimana dengan kalian? Kalian akan makan apa selama ayah tinggalkan?” tanya ayah. Seperti kali pertama, putri menjawab, “Kami yakin, Allah pasti akan memberi kami rezeki.”

Keraguan masih menghinggapi Hatim, hingga akhirnya istri dan anak-anaknya terus mendorongnya berangkat, “Pergilah ayah melaksanakan ibadah haji. Allah pasti akan memberi kami rezeki.” Akhirnya Hatim berangkat bersama rombongan. Dia hanya meninggali keluarganya uang makan untuk tiga hari. Karena malu dengan rekan-rekan seperjalanannya, Hatim pun berjalan di belakang rombongan.

Baru di hari pertama perjalanan, seorang kalajengking menyengat kepala rombongan. Dia pun kesakitan. Dicarilah orang yang bisa meruqyah untuk mengobatinya. Mereka pun meminta Hatim yang seorang ulama untuk melakukannya. Hatim membacakan beberapa ayat Al-Quran hingga akhirnya kepala rombongan sembuh dari rasa sakitnya.

Begitu sembuh, dia berkata kepada Hatim, “Seluruh biaya perjalanan pergi dan pulang hajimu biar aku yang menanggungnya.” Mendengar hal itu, Hatim teringat dengan putrinya yang berkata dengan penuh keyakinan bahwa Allah Taala akan memberinya rezeki. Dalam hati Hatim berkata, “Ini adalah rencana-Mu dalam memberiku rezeki. Bagaimanakah Engkau berencana memberi rezeki keluargaku?” Sebuah pertanyaan yang juga mengandung doa.

Tiga hari telah berlalu sejak kepergian Hatim. Bekal yang ditinggalkan untuk keluarga di rumah pun telah habis. Rasa lapar mulai menghampiri mereka. Tampak ada sikap menyalahkan dari anggota keluarga kepada putri Hatim. Mereka bersedih, bahkan sudah ada yang mulai menangis. Tapi apa tanggapannya? Putri Hatim hanya tersenyum dan sedikit tertawa melihat sikap anggota keluarga lainnya.

Merasa aneh, mereka pun bertanya, “Kenapa kamu kok malah tertawa? Padahal sebentar lagi kita mati kelaparan.” Putri Hatim menjawab, “Aku mau bertanya, ayah kita itu pemberi rezeki atau pemakan rezeki seperti kita?” Mereka menjawab, “Ya tentu seperti kita, orang yang makan rezeki dari Allah.”

“Kalau begitu tenanglah, yang pergi hanyalah pemakan rezeki. Sementara pemberi rezeki, Allah Taala, masih tetap ada bersama kita,” demikian kata putri Hatim penuh keyakinan. Di saat yang sama, terdengar suara orang mengetuk pintu rumah mereka. “Siapa?” salah satu penghuni rumah. Segera ada yang menjawab di luar, “Ini, amirul mukminin, ingin meminta minum kepada kalian.” Ternyata ada rombongan khalifah pemimpin umat Islam yang sedang dalam perjalanan, dan kehausan. Utusan Khalifah datang mencari air minum.

Segeralah keluarga Hatim mengisikan tempat air rombongan itu dengan air minum. Setelah dibawa sampai ke rombongan, Khalifah langsung meminum air itu, dan merasa sangat puas, “Air ini segar sekali. Dari mana kalian dapatkan air ini?” tanya Khalifah. Utusan itu menjawab, “Dari rumah Hatim.” Khalifah langsung berkata lagi, “Panggil dia ke sini, aku ingin memberinya hadiah.”

Utusan pun menjawab bahwa Hatim sedang dalam perjalanan haji. Maka saat itu juga Khalifah melepas ikat pinggang yang dikenakannya untuk diberikan kepada keluarga Hatim. Ikat pinggang itu dibuat dari kain yang sangat bagus, dan dihiasi dengan perhiasan-perhiasan mahal. Tak hanya itu, Khalifah juga berkata kepada para pejabat dan kalangan elit yang sedang bersamanya, “Siapa yang cinta kepadaku, hendaknya melakukan yang sama.”

Maka terkumpullah setumpuk perhiasan yang kemudian dibeli oleh seorang pedagang dengan uang emas sangat banyak, cukup untuk biaya hidup keluarga Hatim seumur hidup mereka. Diberikanlah uang emas itu kepada keluarga Hatim.

Seluruh anggota keluarga Hatim pun bergembira, bersyukur kepada Allah Taala. Kecuali putri Hatim, dia malah menangis. Ibundanya pun menghampiri dan bertanya, “Kemarin ketika kami menangis, kamu malah tertawa. Sekarang kami bergembira, kamu malah menangis. Ada apa, Nak?”

Masih dengan menangis, putri Hatim berkata kepada ibunya, “Khalifah adalah manusia biasa. Ketika melihat kondisi kita, dia tergerak hatinya lalu membantu kita, dan memerintahkan orang banyak untuk membantu kita. Kita pun selamat dari kelaparan. Kalau manusia saja seperti itu, bagaimana dengan Allah Taala yang Maha Pengasih Maha Penyayang?”

Kisah ini mencontohkan bagaimana seorang Muslim hendaknya selalu yakin dengan pertolongan Allah Taala, yakin bahwa Allah Taala adalah Maha Pemberi Rezeki. Rezeki seluruh makhluk-Nya sudah dijamin-Nya. Allah Taala berfirman dalam Al-Quran:

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz).” [Huud: 6]

Tinggalkan Komentar Anda