Kata-kata Ini Menghidupkan Hati Para Sahabat (Bagian 3, Habis)

0 komentar 402 kali dilihat

mukjizat.co – Kata-kata adalah sihir. Iya, kata-kata bisa mengubah kondisi hati orang yang diajak berbicara. Kata-kata penuh makna bisa membangkitkan orang yang sudah putus asa, bisa menggerakkan orang untuk berjuang, bisa mendorong orang untuk berkorban, bisa menjadikan orang ikhlas memberikan semua yang dimilikinya untuk perjuangan.

Itulah yang dilakukan Rasulullah saw. kepada para sahabatnya. Kata-kata beliau benar-benar menghidupkan hati para sahabatnya. Bukan sekadar basa-basi dan pemanis bibir, dari benar-benar dari hati dan keinginan yang murni. Hasilnya? Bisa kita lihat dalam peri kehidupan para sahabat yang masing-masing membangun monumen kepahlawanan.

Al-Quranul Karim diturunkan kepada Rasulullah saw. Beliau menerimanya langsung dari malaikat Jibril. Kekuatan ruhani Al-Quran benar-benar beliau rasakan dengan sangat jelas. Kekuatan inilah yang kemudian ditransfer kepada para sahabat, sehingga hati, akal dan akhlak mereka berubah. Jadi orang yang paling bisa merasakan keagungan kalam Allah Taala adalah Rasulullah saw. Kira-kira apa perasaan jika jika Rasulullah saw. ingin merasakan kekuatan Al-Quran dari lisan kita? Kira-kira itulah perasaan Abu Musa Al-Asyari saat Rasulullah saw. berkata kepadanya, “Esok datanglah menjumpaiku, aku ingin mendengarkan bacaan Qur’an-mu.”

Ungkapkanlah rasa cintamu kepada orang yang kau cintai. Itu pesan Rasulullah saw. kepada umatnya. Kenapa? Karena merasa dicintai orang lain meninggalkan kesan yang sangat mendalam di dalam hati. Dicintai siapa saja. Apalagi kalau kita adalah orang yang paling dicintai orang tersebut. Bagaimana rasanya kalau orang yang mencintai kita adalah Rasulullah saw? Seperti itulah perasaan Ibunda Aisyah ra. saat mendengar jawaban Rasulullah saw. ketika ditanya tentang orang yang paling dicintainya. Ternyata Rasulullah saw. menyebut namanya tanpa ragu di urutan pertama. “Orang yang paling kucintai adalah Aisyah.” Bertabur bungalah hati ibunda kita ini.

Nilai dunia tidak ada apa-apanya dibanding nilai akhirat. Tidak berarti apa-apa seseorang memiliki segalanya di dunia ini saat tidak mendapatkan bagian kebaikan di sisi Allah Taala di akhirat. Namun perasaan akan sangat puas dan nyaman saat tidak memiliki hal yang dibanggakan orang lain di dunia, tapi dikatakan telah disediakan hal yang sangat besar di akhirat. Ketiadaan di dunia tidak membuatnya merasa nelangsa. Itulah yang dirasakan sahabat ulama bernama Ibnu Mas’ud saat ditertawakan rekannya lantaran betisnya yang kecil, namun Rasulullah saw. mengatakan, “Betis ini lebih berat dari bukit Uhud di sisi Allah.”

Hidup di dunia penuh dengan misteri. Hati manusia saat mudah berubah-ubah. Bahkan dari beriman menjadi kafir. Sehingga tidak ada orang yang boleh merasa aman saat masih hidup di dunia. Selain para nabi dan orang-orang tertentu, tidak ada jaminan masuk surga. Apalagi masuk surga yang sangat indah tanpa melalui proses penghitungan. Lalu bagaimana rasanya jika ada orang yang dikatakan termasuk orang-orang beruntung itu? Itulah hal yang dirasakan oleh Ukasyah, saat Rasulullah saw. menyebutkan adanya 70 ribu orang masuk surga tanpa dihisab, dan Rasulullah saw. berkata kepada Ukasyah, “Engkau termasuk di antara mereka.”

Kita beribadah tentunya dengan penuh harapan ibadah kita diterima Allah Taala dan dibalas dengan surga-Nya. Tapi tak satu pun di antara kita yang merasa yakin amalannya diterima Allah Taala. Kalau ada orang yang sudah tahu bahwa amalannya, sedangkan dia masih hidup di dunia, kira-kira apa perasaannya? Itulah perasaan Bilal ibn Rabah, saat Rasulullah saw. berkata kepadanya, “Ceritakan padaku hai Bilal, amalan apa yang paling kau jaga dalam Islam, sebab sungguh aku mendengar bunyi sandalmu di surga?”, lalu dia menjawab dengan tersipu, “Aku menjaga wudhu dan dua raka’at syukur atas wudhu.”

Mendapat perhatian khusus dari orang kita cintai dan hormati adalah hal yang sangat besar bagi kita. Kita merasa sangat beruntung. Apalagi kalau orang yang kita cintai dan hormati itu sangat mengutamakan kita daripada orang lain. Itulah peraan orang-orang Anshar, ketika Rasulullah saw. berkata kepada mereka, “Jika orang-orang memilih jalan melalui sebuah lembah, sedang orang-orang Anshar mengambil suatu celah, niscaya aku turut serta di celah yang dilalui orang-orang Anshar. Ya Allah, rahmatilah orang-orang Anshar dan anak-cucu mereka.” (sof1/mukjizat.co)

Tinggalkan Komentar Anda