Kata-kata Ini Menghidupkan Hati Para Sahabat (Bagian 2)

0 komentar 252 kali dilihat

mukjizat.co – Kata-kata adalah sihir. Iya, kata-kata bisa mengubah kondisi hati orang yang diajak berbicara. Kata-kata penuh makna bisa membangkitkan orang yang sudah putus asa, bisa menggerakkan orang untuk berjuang, bisa mendorong orang untuk berkorban, bisa menjadikan orang ikhlas memberikan semua yang dimilikinya untuk perjuangan.

Itulah yang dilakukan Rasulullah saw. kepada para sahabatnya. Kata-kata beliau benar-benar menghidupkan hati para sahabatnya. Bukan sekadar basa-basi dan pemanis bibir, dari benar-benar dari hati dan keinginan yang murni. Hasilnya? Bisa kita lihat dalam peri kehidupan para sahabat yang masing-masing membangun monumen kepahlawanan.

Allah Taala tidak membutuhkan bantuan manusia hanya untuk memenangkan agama-Nya. Namun demikian memerintahkan umat Islam untuk menolong Rasulullah saw. dan ajaran yang dibawanya. Untuk apa? Untuk kepentingan umat Islam sendiri. Menolong Rasulullah saw. adalah bukti cinta kepadanya. Cinta yang bukan sekadar pemanis bibir, tapi cinta yang sebenarnya. Bagaimana kiranya perasaan Zubair bin Al-Awwam, ketika Rasulullah saw., “Setiap Nabi memiliki Hawari, dan Hawariku adalah Zubair ibn Al ‘Awwam.” Rasulullah saw. menerima cinta Zubair yang telah berhasil dibuktikannya.

Amanah adalah sifat seorang Muslim yang sangat istimewa. Karena amanah bukan sebuah sifat yang berdiri sendiri. Amanah baru bisa terwujud dalam diri seseorang jika dia memiliki sifat melaksanakan kewajiban, berusaha selalu membersihkan diri dari yang bukan haknya, menjauhi hal-hal yang haram, dan merasa terus diawasi Allah Taala. Satu sifat tapi terbangun dari sekian banyak kebaikan. Jarang orang bisa mewujudkannya secara sempurna. Bagaimana kiranya perasaan Abu Ubaidah ketika Rasulullah saw. berkata, “Setiap ummat memiliki Amin yang kuat memegang amanah, dan amin ummat ini adalah Abu Ubaidah.” Rasulullah saw. sendiri yang menyematkan status amanah itu pada dirinya.

Sembarang cinta mungkin bisa kita dapatkan dengan hanya sedikit berusaha. Tapi sembarang cinta, yang tidak bisa menyelamatkan kita di kehidupan dunia dan akhirat. Berbeda dengan cinta Allah Taala dan Rasul-Nya saw. yang tentunya akan menyelamatkan dari siksa neraka. Bagaimana perasaan kita ketika dinyatakan mendapat cinta ini? Begitulah kiranya perasaan Muadz bin Jabal ketika Rasulullah saw. berkata kepadanya, “Wahai Mu’adz, demi Allah, aku benar-benar mencintaimu.”

Semua kebaikan berasal dari ilmu. Ketika Allah Taala menghendaki seorang hamba-Nya mendapatkan kebaikan, maka Dia pun akan memudahkan pintu-pintu pengetahuan untuknya. Ilmulah yang membuat para ulama semakin takut dan mengagungkan Allah Taala. Sungguh beruntung orang yang berilmu. Adakah yang lebih beruntung dari sahabat Ibnu Abbas ra. karena didoakan Rasulullah saw. untuk mendapatkan ilmu? Rasulullah saw. berdoa kepada Allah Taala, “Ya Allah faqihkan dia & ajarkan tafsir padanya.” Nyatalah doa ini terkabul. Ibnu Abbas ra. benar-benar menjadi rujukan umat Islam dalam berbagai masalah agama berkat keluasan ilmunya.

Mendapat perhatian dari orang lain membuat hati kita berbunga-bunga. Mendengar nama kita disebutkan oleh orang yang kita hormati meninggalkan bekas yang indah di hati kita. Bagaimana kiranya jika yang menyebut nama kita bukan manusia seperti kita, tapi Allah Taala? Suatu hari Rasulullah saw. berkata kepada Ubay bin Kaab ra., “Allah memerintahkanku tuk membacakan Surat Al Bayyinah ini kepadamu.” Wajah Ubay ra. pun berseri-seri dan bertanya, “Wahai Rasulullah, benarkah Allah menyebut namaku kepadamu?” Rasulullah saw. menjawab, “Benar.” (sof1/mukjizat.co)

Tinggalkan Komentar Anda