Wanita Yahudi Ini Bermimpi Menguasai Negeri Arab

0 komentar 794 kali dilihat
Wanita Yahudi

mukjizat.co – Pada bulan Al-Muharram tahun 7 Hijriah, pasukan umat Islam berangkat menuju benteng pertahanan orang-orang Yahudi di Khaibar. Ketika hampir sampai, Rasulullah saw. berkata, “Allahu Akbar, hancurlah Khaibar. Ketika kami datang pada sebuah kaum yang telah diberi peringatan, maka hari itu sungguh sangat buruk bagi mereka.”

Dalam perang itu, Allah swt. berikan kemenangan kepada pasukan umat Islam. Mereka dapat membuka benteng-benteng Khaibar yang terkenal tangguh tersebut. Banyak sekali kaum laki-laki mereka yang terbunuh, dan kaum wanita mereka yang menjadi rampasan perang.

Di antara wanita yang menjadi rampasan perang itu adalah Ibunda Shafiyah binti Huyaiy bin Akhthab ra. Dan di antara kaum laki-laki yang terbunuh adalah suami beliau sendiri, Kinanah bin Abi Al-Haqiq.

Selesai perang, Bilal bin Abi Rabah ra. datang dengan membawa Ibunda Shafiyah ra. dan salah seorang wanita sepupunya. Ketika datang, mereka melewati jenazah para korban perang dari pihak Yahudi. Rasulullah saw. melihat ke wajah Ibunda Shafiyah ra. dan mengetahui betapa lara hatinya ketika melihat ayah dan suaminya tergeletak di antara para korban perang.

Rasulullah saw. pun sedikti marah kepada Bilal, “Bilal, apakah rasa belas kasihan sudah tercabut dari dalam hatimu? Beliau menawarkan diri untuk membebaskan Ibunda Shafiyah ra. jika memang mau memilih untuk beriman kepada Allah swt. dan Rasulullah saw. Ibunda Shafiyah ra. menjawab, “Aku memilih Allah swt. dan Rasulullah saw.”

Kemudian Rasulullah saw. bertanya, “Bagaimana pendapatmu jika menikah denganku?” Ibunda Shafiyah ra. menjawab, “Menikah denganmu sudah kuinginkan sejak aku masih dalam kemusyrikan. Bagaimana mungkin aku menolaknya saat aku sudah masuk Islam?”

Jawaban Ibunda Shafiyah ra. ini menunjukkan bahwa beliau benar-benar telah beriman kepada kerasulan Muhammad saw. Sebenarnya beliau sudah meyakini bahwa Muhammad saw. adalah seorang rasul jauh hari sebelum perang Khaibar. Yaitu ketika beliau bermimpi sesuatu. Kemudian mimpi itu beliau diceritakan kepada suaminya. Ternyata hasil penafsiran mimpi itu membuat suaminya marah besar. Bahkan saking marahnya, suaminya itu memukul wajah Ibunda Shafiyah ra. hingga meninggalkan bekas luka yang tidak tidak bisa hilang.

Rasulullah saw. melihat bekas luka tersebut di wajah Ibunda Shafiyah ra. Beliau pun bertanya, “Kenapa wajahmu ini?” Ibunda Shafiyah ra. menjawab, “Dulu aku pernah bermimpi seakan bulan jatuh ke pangkuanku. Kemudian kuceritakan mimpi itu kepada suamiku. Ternyata dia marah, dan menamparku. Kemudian dia berkata, “Apakah engkau menginginkan kerajaan Yatsrib?” Atau berkata, “Demi Allah, yang engkau inginkan adalah kerajaan Arab.” Kemudan dia memukulku.”

Kemudian Rasulullah saw. menunggu masa. Setelah Ibunda Shafiyah ra. kembali suci dari masa haidhnya, beliau pun membebaskannya dan menikahinya. Mahar dalam pernikahan itu adalah pembebasan dirinya dari perbudakan.

Dalam perjalanan meninggalkan daerah Khaibar, Rasulullah saw. mempersilahkan Ibunda Shafiyah ra. untuk menjulurkan kakinya di atas kaki Rasulullah saw. Namun Ibunda Shafiyah ra. menolak hal tersebut sebagai rasa hormat kepada beliau. Yang beliau lakukan hanya menyentuhkan lututnya ke paha Rasulullah saw.

Kemudian Rasulullah saw. menutupi Ibunda Shafiyah ra. dan memboncengkannya di belakang Rasulullah saw. Cara menutupinya adalah dengan menjulurkan kain selendang Rasulullah saw. ke arah belakang sehingga menutupi punggung, kepala dan wajah Ibunda Shafiyah ra. Kemudian ujung kain tersebut dari arah bawah kaki Ibunda Shafiyah ra. Demikianlah, beliau sudah memperlakukan Ibunda Shafiyah ra. seperti isteri-isteri beliau yang lain. (sof1/mukjizat.co)

Tinggalkan Komentar Anda