Beginilah Keseharian Hidup Rasulullah saw

0 komentar 200 kali dilihat

mukjizat.co –Sebagai pengikut Rasulullah saw., perlu kiranya kita mengetahui bagaimana keseharian hidup beliau, rutinitas apa saja yang dilakukannya saat tidak ada agenda besar seperti berperang dan sebagainya. Dengan mengetahuinya, kita bisa meneladani secara praktis sedikit demi sedikit.

Di pagi hari, Rasulullah saw. melaksanakan shalat Subuh bersama para sahabat. Kemudian beliau duduk berdzikir di masjid hingga terbit matahari. Banyak sahabat beliau yang juga turut duduk menemani. Saat berbincang, kadang mereka teringat dengan kehidupan mereka di jahiliyah. Saat itulah mereka tertawa mengingat kelucuan dan ketidaktahuan mereka. Lalu beliau melaksanakan shalat Dhuha empat rakaat atau lebih.

Saat berada di rumah, beliau lakukan semua yang biasa dilakukan laki-laki lain kepada keluarganya. Memeras susu kambing, menambal baju, memperbaiki sandal, dan sebagainya, untuk membantu keluarganya. Jika tiba waktu shalat, beliau bersegera pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat bersama para sahabat.

Rasulullah saw. adalah orang yang tidak pernah mencela makanan. Kalau dirasa enak, beliau makan. Kalau dirasa tidak enak, beliau biarkan makanan itu dan diam saja tanpa mencela. Bahkan beliau pun rela jika tidak makan secara layak dalam waktu yang cukup lama. Ibunda Aisyah ra. berkata, “Pernah selama tiga bulan, tidak ada dapur Rasulullah saw. yang menyala. Kami hanya makan kurma dan minum air. Tapi ada beberapa tetangga dari kalangan Anshar yang kadang memberi kami air susu.”

Saat ingin mengumpulkan para sahabat untuk sebuah urusan penting, Rasulullah saw. selalu memanggil, “Ash-Shalatu Jami’ah”. Maka para sahabat akan segera berkumpul, dan Rasulullah saw. menyampaikan maksudnya. Bisa untuk memberangkatkan utusan, menyampaikan wahyu baru, atau mengingatkan sesuatu.

Di siang hari, Rasulullah saw. menyempatkan diri untuk tidur sejenak demi mendapatkan kekuatan untuk menghidupkan malam dengan beribadah. Bahkan beliau mengatakan, “Tidurlah sejenak di siang hari, karena sesungguhnya setan tidak melakukannya.”

Dalam kesempatan-kesempatan tertentu Rasulullah saw. juga selalu memeriksa kondisi umat Islam. Menjenguk yang sakit, nimbrung yang sedang ngobrol, melihat yang sedang berjualan, hadir dalam pesta syukuran, mendatangi dan membantu miskin yang membutuhkan, dan sebagainya. Dalam kesempatan-kesempatan itu, beliau sampaikan tuntunan dan syariat Islam.

Suatu kali Rasulullah saw. masuk ke pasar. Beliau menghampiri seorang pedagang yang sedang menjaga setumpuk bahan makanan. Beliau masukkan tangannya ke dalam tumpukan itu. Ternyata bagian basah. Beliau pun bertanya, “Pak, kenapa bagian bawah ini basah?” Dia menjawab, “Terkena air hujan.” Lalu beliau menunjukkan cara yang benar, “Kenapa tidak engkau jadikan bagian yang basah itu di atas agar diketahui orang yang mau membelinya?”

Kesibukan Rasulullah saw. dengan umatnya tidak beliau kurang beribadah. Abdullah bin Aufa mengatakan, “Rasulullah saw. itu banyak berdzikir, jarang bersenda-gurau, memanjangkan shalat, memendekkan khutbah, dan tidak segan berjalan bersama nenek-nenek janda dan miskin. Beliau mendatangi orang miskin dan membantunya.”

Jika ada masalah besar yang sedang dihadapi, Rasulullah saw. mengumpulkan beberapa orang sahabat pilihan. Kadang beliau membicarakannya hingga malam. Pertemuan itu sering dilakukan di rumah Abu Bakar ra. Kalau tidak ada masalah seperti itu, beliau cepat pulang ke rumahnya untuk beristirahat agar siap menghidupkan malam dengan ibadah.

Bersama istri-istrinya beliau sering bercanda, dan bersikap santai dan ramah. Setiap malam beliau mengumpulkan mereka untuk menyantap makan malam di rumah yang bertepatan menjadi tempat bermalamnya Rasulullah saw. Usai berkumpul, satu persatu dari mereka pulang ke rumahnya masing-masing. Sementara itu Rasulullah saw. tetap tinggal untuk menginap.

Rasulullah saw. sudah tidur tak lama setelah shalat Isya dan berkumpul dengan istri-istrinya. Beliau tidur cepat untuk segera bangun lagi melaksanakan shalat malam yang menjadi kewajiban khusus baginya. Ibunda Aisyah ra. bercerita, “Sebelum tidur, sudah disiapkan siwak dan air wudhunya. Sehingga ketika bangun, beliau buang hajat, berwudhu, bersiwak, lalu melaksanakan shalat.”

Ketika bangun, beliau memandang ke langit, dan membaca ayat, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” [Ali Imran: 190]. Lalu beliau mengambil air wudhu, dan mulai melaksanakan shalat malam. (sof1/mukjizat.co)

Tinggalkan Komentar Anda