(Video) Pilu, Rahasia Takdir yang Benar-benar Un-Predictable

0 komentar 321 kali dilihat
mukjizat takdir Bara’ah

mukjizat.co – Bara’ah adalah seorang bocah perempuan berusia 10 tahun. Ayahnya seorang Mesir, dan ibunya seorang Suriah. Keduanya adalah dokter yang bekerja di sebuah rumah sakit di Arab Saudi. Mereka hijrah ke Saudi untuk kehidupan yang lebih baik.

Bara’ah adalah anak yang sangat cerdas. Buktinya, seumur itu sudah menyelesaikan hafalan Al-Qurannya dengan tajwid. Guru di sekolah juga sering mengatakan bahwa tempatnya yang tepat adalah sekolah SLTP bukan SD.

Keluarga Bara’ah adalah keluarga yang bahagia dan kuat memegang ajaran Islam. Tapi ternyata takdir menyimpan sebuah rahasia besar tentang keluarga ini. Rahasia itu adalah kematian. Tanpa peringatan sama sekali, sang ibu mengalami rasa sakit di tubuhnya yang ketika diperiksa ternyata adalah penyakit kanker pada stadium lanjut.

Dia bingung bagaimana cara memberitahu putri tersayangnya. Pernah dikatakannya, “Nak, ibu akan mendahuluimu ke surga. Hanya Al-Quran yang bisa menjagamu. Bacalah Al-Quran setiap hari, maka dia akan menjagamu dalam kehidupan ini.” Namun ternyata bocah shalihah itu belum benar-benar memahami kata-kata ibunya.

Dirinya baru mulai paham ketika ibunya harus berada dalam pengawasan intensif dan tinggal di rumah sakit. Setiap harinya, Bara’ah pergi belajar ke sekolah. Usai sekolah, Bara’ah pulang ke rumah sakit untuk menemani ibunya. Bara’ah membacakan ayat-ayat Al-Quran di sisi ranjang ibunya. Di sore hari, ayah akan menemaninya pulang ke rumah.

Di sebuah pagi, pihak rumah sakit menelpon ayahnya. Dikatakan bahwa kondisi istrinya sedang kritis. Pihak rumah sakit memintanya untuk segera datang. Ayah segera pergi ke sekolah untuk menjemput Bara’ah agar bisa melihat ibunya karena dikhawatirkan ini adalah saat-saat terakhir kehidupan istrinya.

Sesampai di rumah sakit, sang ayah meminta Bara’ah untuk tetap berada di mobil. Sang ayah berniat melihat istrinya dulu, memastikan keadaannya sehingga bisa bertindak yang tepat agar Bara’ah tidak terpukul ketika melihatnya. Cepat-cepat ayah keluar dari mobil dengan mata berlinangan air mata, dan pikiran tidak keruan. Sehingga saat menyeberang jalan menuju gedung rumah sakit, sebuah kendaraan menabraknya dengan kencang. Ayah meninggal di tempat kejadian di depan mata Bara’ah. Bara’ah turun dan memeluki tubuh ayahnya di jalanan.

Tidak berhenti sampai di sini kesedihan Bara’ah. Lima hari kemudian, sang ibu pun meninggal dunia tanpa mengetahui bahwa sang suami telah mendahuluinya lima hari sebelumnya. Sejak hari itu Bara’ah menjadi seorang yatim piatu.

Rekan-rekan ayahnya, baik dari Mesir maupun Suriah, berkumpul dan membicarakan bagaimana mengurus Bara’ah kemudian hari. Mereka sepakat untuk mengantar Bara’ah ke sanak familinya di Mesir. Namun tanpa diduga-duga, Bara’ah merasa sakit di tubuhnya. Ternyata di mengidap penyakit yang sama diidap oleh ibunya.

Ujian demi ujian dihadapinya dengan penuh ketabahan. Ketika ditanya tentang penyakitnya, Bara’ah memberi jawaban yang sangat mengejutkan, “Alhamdu lillah, aku akan segera bertemu Mama dan Papa.” Dia terlihat sangat ridha dengan catatan kehidupannya yang sangat mengejutkan dirinya sebagai manusia. Namun karena iman yang ditanamkan kedua orang tuanya, semua itu diterima dengan penuh ketabahan. Diketahui, kini Bara’ah pun sudah meninggal dunia. Semoga Allah Taala merahmati keluarga shalih ini di Sisi-Nya.

Takdir adalah catatan ilmu Allah Taala yang akan berlaku dalam kehidupan. Seluruh yang terjadi di alam semesta tercatat di dalamnya. Karena Allah Taala Maha Mengetahui segala sesuatu.

Allah Taala Maha Berkehendak. Karena itu kehendak-Nya tidak ada yang bisa membatasinya. “Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.” [Huud: 107].

Bukan berarti keluarga dokter yang paling menjaga kesehatan akan berumur panjang. Bukan berarti keluarga yang shalih dan rajin beribadah tidak akan mati muda. Bukan berarti seorang anak kecil lucu dan hafal Al-Quran akan bisa terus membacanya di dunia. Takdir adalah misteri, hanya iman yang bisa membuat kita menerimanya dengan penuh keridhaan. (sof1/mukjizat)

Tinggalkan Komentar Anda