Beruntungnya Orang yang Yakin dengan Doa Nabi

0 komentar 269 kali dilihat
mukjizat berzikir

mukjizat.co – Abu Salamah ra. adalah seorang perwira yang gagah berani. Beliau sempat mengikuti dua buah peperangan, yaitu perang Badar dan Uhud. Dalam perang Uhud, beliau terluka sangat parah, namun beliau sangat bersabar. Selama kira-kira satu bulan, beliau mengobati luka itu bersama istri tercintanya, Hindun binti Abi Umayyah ra., atau sering disebut dengan Ummu Salamah.

Sang istri ini begitu perhatian dalam merawat beliau hingga akhirnya sembuh. Setelah sembuh, Rasulullah saw. mengutusnya untuk memimpin sebuah pasukan yang akan bertempur dengan Bani Asad. Dalam pertempuran itu, pasukan yang dipimpinnya menang, dan pulang membawa ghanimah dan kabar gembira untuk Rasulullah saw. Namun ternyata luka yang beliau alami pada perang Uhud kembali sakit, dan mengeluarkan darah.

Beliau kembali sakit parah. Dalam keadaan sakit, Ummu Salamah ra. kepada suaminya, “Aku pernah mendengar bahwa jika ada seorang wanita yang ditinggal mati suaminya, dan suaminya itu adalah penghuni surga, kemudian wanita tersebut tidak menikah lagi, maka Allah swt. akan mengumpulkan kembali kedua suami-istri tersebut di surga.”

Mendengar ucapan tersebut, Abu Salamah ra. berkata, “Apakah engkau akan menaati perintahku?” Akupun menjawab, “Iya, aku taat kepadamu.” Abu Salamah ra. kembali berkata, “Jika nanti aku mati, engkau menikahlah lagi. Ya Allah, berikanlah istriku sepeninggalku suami yang lebih baik dariku, suami yang tidak akan menyakiti dan membuatnya sedih.” Maka Abu Salamah ra. pun meninggal dunia. Setelah beliau meniggal, Ummu Salama ra. bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, “Siapakah gerangan yang lebih baik dari Abu Salamah ra.?”

Ummu Salamah ra. berkata, “Ketika Abu Salah ra. meninggal dunia, aku bertanya kepada Rasulullah saw., “Bagaimana aku berdoa?” Maka Rasulullah saw. berkata, “Berdoalah: Ya Allah, berikanlah ampunan kepadaku dan kepadanya (suami beliau). Kemudian gantikanlah dirinya dengan ganti yang baik.” Aku menuruti saja anjuran Rasulullah saw.

Sepeninggal suaminya, Ibunda Ummu Salamah ra. pun menjalani kehidupan dengan penuh kesabaran. Beliau sabar menerima qadha dan qadar Allah swt. seraya terus mengharapkan pahalanya di surga kelak. Dalam masa-masa itu pun beliau mendidik anak-anak yatimnya dengan penuh perhatian.

Datanglah Abu Bakar Ash-Shidiq ra. melamar beliau, namun beliau menolaknya. Datang pula Umar bin Khattab ra. setelah itu dengan tujuan yang sama, namun lagi-lagi lamaran itu beliau tolak. Alasan penolakan lamaran dua tokoh besar sahabat ini adalah karena Ibunda Ummu Salamah ra. sudah tua, dan beliau mempunyai anak-anak yang masih kecil.

Namun sebenarnya, ditolaknya lamaran itu adalah karena doa Abu Salamah ra. yang akan dikabulkan Allah swt. tersebut. Karena beberapa hari kemudian, Ibunda Ummu Salamah ra. yang penyabar itu benar-benar akan berbahagia, dan hatinya akan berbunga-bunga.

Maka hari itu Rasulullah saw. mendatangi Ibunda Ummu Salamah ra untuk menghiburnya dalam menerima musibah ini. Saat itu, Ibunda Ummu Salamah ra. sedang duduk di atas selembar tikar. Rasulullah saw. menghibur beliau dengan mengatakan, “Dalam musibah ini, berdoalah kepada Allah swt., niscaya Dia akan mengabulkan doamu dengan yang lebih baik.” Ibunda Ummu Salamah ra. pun balik bertanya, “Gerangan apakah ada orang yang lebih baik dari Abu Salamah?”

Mendengar hal itu, Rasulullah saw. pun keluar, dan mengutus Hathib bin Abi Balta’ah untuk pergi melamar Ibunda Ummu Salamah ra. Ketika menerima utusan Rasulullah saw. itu, Ibunda Ummu Salamah ra. sangat berbahagia. Bagaimana mungkin tidak bahagia, orang yang akan menikahinya adalah Rasulullah saw. Muhammad bin Abdullah, orang yang sangat lembut dan penyayang.

Rasulullah saw. pun menjadi suami Ibunda Ummu Salamah ra. Beliau turut mendidik anak-anaknya dengan kasih sayang yang sangat besar, sehingga anak-anaknya tidak merasakan kehilangan seorang ayah lagi. Kini rumah Ibunda Ummu Salamah ra. menjadi penuh keceriaan dan kebahagiaan. Ibunda Ummu Salamah ra. pun berlaku sebagai seorang istri yang selalu melaksanakan semua kewajibannya, baik kewajiban beliau kepada anak-anaknya, ataupun kepada suaminya yang sangat penyayang tersebut.

Setelah menikah dengan Rasulullah saw., Ibunda Ummu Salamah ra. berkata, “Setiap hamba Allah swt. yang terkena musibah, kemudian berdoa Inna lillahi wa Inna ilaihi Raji’un, Ya Allah, berilah pahala aku dalam musibah ini, dan berilah aku pengganti yang lebih baik, maka niscaya Allah swt. akan memberinya pahala, dan menggantinya dengan pengganti yang lebih baik lagi.

Ketika Abu Salamah ra. meninggal dunia, aku mengucapkan apa yang dianjurkan Rasulullah saw. tersebut, aku mengucapkan itu, dan benarlah, Allah swt. mengganti Abu Salamah ra. dengan orang yang lebih baik. Rasulullah saw. adalah seorang ayah yang sangat baik kepada anak-anakku. Setiap kali masuk rumah, beliau selalu mengitarkan pandangannya, dan berkata, “Di mana Zinab? Apa yang dilakukan Zinab? Di mana Zinab?” Yang beliau maksud dengan Zinab adalah Zainab, puteri Ibunda Ummu Salamah ra. dari suami pertamanya, Abu Salamah ra. Beliau benar-benar merupakan seorang suami yang lembut, penyayang, penuh tanggung jawab, dan tidak tutup mata dengan penderitaan orang lain. (sof1/mukjizat.co)

Tinggalkan Komentar Anda