Demi Ilmu, Mereka Rela Menjomblo Seumur Hidup

0 komentar 242 kali dilihat

mukjizat.co – Menikah adalah hal yang sangat dianjurkan dalam Islam. Bahkan merupakan fitrah yang sudah ada dalam diri setiap manusia sejak dari lahirnya. Sehingga menjalaninya adalah hal yang tepat untuk tetap dalam fitrah yang suci dan tidak jatuh ke dalam kemaksiatan yang dibenci Allah Taala.

Selain merupakan kenikmatang yang dihalalkan Allah Taala, menikah juga merupakan kebutuhan pokok manusia dalam hidupnya. Tidak ada orang yang rela tidak menikah, kecuali jika ada sesuatu yang menurutnya lebih dibutuhkan, lebih dirindukan, lebih dicintai, lebih dihargai, seperti mencintai ilmu. Sehingga ada beberapa ulama terkemuka dalam sejarah Islam yang diketahui tidak menikah sepanjang hidupnya.

Bagi para ulama itu, menjomblo alias tidak menikah adalah hal yang sangat berat. Tidak ada labuhan hati, orang yang memberi ketenangan, teman hidup sehari-hari, orang yang merawat dalam kondisi membutuhkan seperti sedang sakit, sepi saat usia sudah lanjut, dan sebagainya. Tapi mereka meyakini kehilangan semua itu tidak ada apa-apanya dibandingkan kehilangan kesempatan terus menambah dan menyebarkan ilmu. Mereka bisa merasakan ilmu sebagai kenikmatan yang lebih besar.

Lalu, apakah pilihan mereka untuk menjomblo demi ilmu adalah pilihan yang dibenarkan syariat? Padahal mereka adalah orang yang paling mengetahui hukum dan keutamaan menikah?

Sejauh hal yang bisa dibaca dari buku-buku para ulama itu, mereka menjomblo karena pilihan pribadi dan tidak memfatwakannya kepada orang lain. Dengan mata hati, mereka bisa mengetahui bahwa keutamaan mencari dan menyebarkan ilmu bagi mereka lebih besar daripada keutamaan menikah. Mereka hanya memilih antara dua keutamaan, tanpa menafikannya. Lalu mereka juga tidak mengajak orang lain untuk mengikuti langkah ini.

Di antara ulama terkemuka yang memilih menjomblo hingga akhir kehidupannya adalah: Ibnu Taimiyah, Imam An-Nawawi, Imam Ath-Thabari, Imam Az-Zamakhsyari, Abdullah bin Abi Najih Al-Makki, Yunus bin Habib Al-Basri, Husain bin Ali Al-Ju’fi, Bisyr Al-Hafi, Hanad Al-Kufi, Abu Bakar Al-Anbari, Abu Ali Al-Farisi, Abu Nashar As-Sajzi, Abu Saad Samman Ar-Razi, Abul Barakat Al-Anmathi, Ibnul Khasyab Al-Baghdadi, Nashihuddin Al-Hanbali, Jamaluddin Al-Qifthi, Basyir Al-Ghazi, Abul Wafa’ Al-Afghani, Karimah Al-Marwaziyah, dan lainnya.

Dalam kesempatan lain, kita akan membahas sisi kehidupan beberapa ulama tersebut dalam artikel-artikel tersendiri. Nantikan bagaimana kemukjizatan ilmu Islam bisa mengalahkan kedahsyatan cinta. (sof1/mukjizat)

Tinggalkan Komentar Anda