Haru Biru Sahabat Ditinggal Rasulullah Saw

0 komentar 415 kali dilihat
mukjizat, menangis saat Rasulullah meninggal. Menangis

mukjizat.co – Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibunda Aisyah ra, bahwa beliau berkata, “Abu Bakar ra. datang dari tempat tinggalnya dengan menunggang kudanya. Sepanjang perjalanan, turun dari kuda, dan masuk masjid, beliau sama sekali tidak mau berbicara dengan orang lain. Beliau masuk masjid, kemudian menemuiku. Beliau berjalan menuju Rasulullah saw. yang tubuhnya sudah ditutup dengan kain. Beliau singkap kain itu dari wajahnya, kemudian bertubi-tubi menyiuminya. Sambil menangis beliau berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, Dia tidak akan memberimu dua kali kematian, dan kematian yang pertama sudah engkau alami.”

Dalam riwayat Abu Salamah, Ibnu Abbas ra. mengatakan bahwa ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. keluar dari rumah Rasulullah saw., Umar bin Khattab ra. sedang berbicara kepada orang-orang yang ada. Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. menyuruhnya untuk duduk, tapi beliau tidak segera duduk. Akhirnya Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. mengucapkan syahadat dengan kuat sehingga mereka pun menoleh kepada beliau dan meninggalkan Umar bin Al-Khattab ra.

Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. berkata, “Amma ba’du. Barangsiapa menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad sudah meninggal dunia. Dan barangsiapa menyembah Allah swt., maka sesungguhnya Allah swt. Maha Hidup dan tidak akan pernah mati.” Kemudian beliau membacakan sebuah ayat:

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” [Ali Imran: 144]

Sungguh, orang-orang itu seakan tidak yakin bahwa yang mereka dengar adalah sebuah ayat yang benar-benar telah diturunkan Allah swt. seakan-akan baru kali ini mereka dengar, dari mulut Abu Bakar Ash-Shiddiq ra.

Az-Zuhri meriwayatkan dari Umar bin Khattab ra. bahwa beliau berkata, “Demi Allah, begitu mendengar ayat itu, aku segera merasa sempoyongan. Kedua kakiku lemas, dan aku pun ambruk ke tanah. Karena saat itu aku baru tersadar bahwa Rasulullah saw. benar-benar telah meninggal dunia.”

Anas bin Malik ra. meriwayatkan bahwa keesokan harinya, Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. dibaiat menjadi khalifah (pengganti) Rasulullah saw. Ketika beliau berdiri di atas mimbar untuk memberikan sambutan, Umar bin Khattab ra. mengucapkan syahadat sebelum Abu Bakar ra. memulai. Beliau berkata, “Amma ba’du. Sesungguhnya kemarin, aku mengatakan sebuah perkataan yang tidak selayaknya. Demi Allah, seakan-akan aku belum pernah mendapatinya di dalam Al-Qur’an ataupun sabda Rasulullah saw. Aku benar-benar ingin Rasulullah saw. tetap hidup sehingga terus bersama kita. Aku menginginkan Rasulullah saw. adalah orang yang paling akhir meninggal dunia di antara kita. Namun ternyata Allah swt. lebih senang memberi Rasulullah saw. apa yang ada di Sisi-Nya daripada yang ada pada kita semua. Oleh karena itu, inilah Al-Qur’an yang telah memberi petunjuk kepada Rasulullah saw., maka ambillah agar kalian mendapat petunjuk seperti Rasulullah saw.”

Imam Ad-Darimi meriwayatkan dari Ikrimah ra. bahwa beliau berkata, “Rasulullah saw. wafat pada hari Senin. Hingga berlalu hari Senin, malamnya, dan keesokan harinya, jenazah Rasulullah saw. dibiarkan tergeletak tak dikuburkan. Beliau baru dikuburkan pada malam Rabu. Banyak di antara sahabat yang berkata bahwa sebenarnya Rasulullah saw. tidak wafat. Hanya ruh beliau saja yang diangkat, sama seperti yang terjadi pada nabi Musa as.

Umar bin Khattab ra. juga berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Rasulullah saw. belum wafat. Hanya ruh beliau saja yang diangkat, seperti yang terjadi pada nabi Musa as. Demi Allah, Rasulullah saw. tidak akan wafat sampai beliau dapat memotong tangan-tangan dan lisan-lisan sebuah kaum. Umar ra. terus saja berbicara sampai mulutnya berbuih saking banyaknya berbicara.“

Maka Al-Abbas ra. berkata, “Rasulullah saw. sudah wafat, karena beliau juga manusia yang akan mengalami seperti dialami manusia yang lain. Ayolah saudara-saudaraku, kita kuburkan beliau. Tidak mungkin bagi Allah swt. untuk mewafatkan beliau dua kali. Bagaimana mungkin Allah swt. mematikan kalian sekali, sedangkan mematikan beliau dua kali? Sungguh Allah swt. tidak akan melakukan hal itu. Jika kalian tetap saja berpendapat bahwa beliau belum meninggal, maka akan sangat mudah bagi Allah swt. untuk menguburkannya. Beliau benar-benar sudah meninggal. Beliau meninggal setelah membuat jalan hidup kita menjadi terang. Beliau halalkan segala sesuatu yang halal dan haramkan segala sesuatu yang haram. Beliau menikahkan seseorang dan menceraikan seseorang. Beliau melakukan peperangan dan melakukan perdamaian. Segala sesuatu yang baik sudah beliau perintahkan, dan segala sesuatu yang buruk sudah beliau larang. Maka kuburkanlah beliau segera.”

Mendengar perkataan Al-Abbas ra. itu, Ummu Aiman ra. menangis. Ada seseorang yang bertanya kepada beliau, “Apakah engkau menangisi kepergian Rasulullah saw.?” Beliau menjawab, “Aku sungguh menangis bukan karena sudah mengetahui bahwa Rasulullah saw. telah pergi ke tempat yang lebih baik daripada dunia ini. Tapi aku menangis karena mengetahui bahwa wahyu dari langit telah terputus sampai di sini.” (sof1/mukjizat.co)

Tinggalkan Komentar Anda