Kemukjizatan Islam Tampak Saat Penaklukan Al-Quds, Apa yang Dilakukan Tentara Islam?

0 komentar 438 kali dilihat
Kemukjizatan Islam Tampak Saat Penaklukan Al-Quds, Apa yang Dilakukan Tentara Islam?, mukjizat, mukjizat.co, al-quds, palestina, al-aqsha

mukjizat.co – Kota Al-Quds, yang merupakan tanah suci ketiga umat Islam, berhasil dibuka di masa Umar bin Khattab ra. tahun 636 M. Panglima pasukan Muslimin saat itu adalah Amru bin Al-Ash dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. Kota Al-Quds, yang saat itu berada di bawah kekuasaan Romawi Kristen, dikepung selama 4 bulan. Setelah merasa tidak bisa melawan pasukan Islam, para penguasa Al-Quds pun meminta damai. Mereka akan menyerahkan kota Al-Quds dengan syarat Amirul Mukminin, Umar bin Khattab ra., sendiri yang datang untuk serah terima kuncinya.

Hal itu karena ciri-ciri pemimpin Muslim yang akan membuka Al-Quds lebih cocok dengan kepribadian Umar bin Khattab ra. bukan Amru bin Al-Ash. Begitu sampai di Al-Quds, Umar ra. yang datang bersama seorang pembantunya langsung memberikan jaminan keamanan kepada seluruh penduduk Al-Quds. Berikut jaminan yang dikenal dengan nama ‘Perjanjian Umar’:

“Bismillahirrahmanirrahim. Ini adalah jaminan keamanan dari hamba Allah, Umar, amirul mukminin, kepada penduduk Jerusalem. Umar memberikan jaminan terhadap jiwa mereka, harta, gereja-gereja, salib-salib, orang-orang yang lemah, dan mereka tidak dipakasa meninggalkan agama mereka. Tidak ada seorang pun diantara mereka yang merasa terancam dan diusir dari Al-Quds. Dan orang-orang Yahudi tidak akan tinggal bersama mereka di Jerusalem.” Terkait orang-orang Yahudi, keberadaan mereka di Al-Quds memang tidak diinginkan oleh orang-orang Kristen.

Sedangkan tentang perebutan Al-Quds oleh Tentara Salib pada tahun 1099, seorang penulis sejarah asal Perancis, Gustave Le Bon, menulis dalam bukunya ‘Peradaban Islam dan Arab’, “Tentara Salib telah melakukan kejahatan kepada umat Islam dan penganut Kristen Timur. Kejahatan seperti yang mereka lakukan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang gila. Mereka terlihat menikmati ketika memotong-motong tubuh anak-anak kecil lalu membakarnya.

Dalam banyak peperangan, Tentara Salib terbukti telah menjadi monster-monter ganas yang paling dungu. Mereka bahkan tidak bisa membedakan antara lawan dan kawan. Pasukan kita sudah keterlaluan dalam menumpahkan darah di Haikal Sulaiman. Tubuh-tubuh korban terlihat mengambang di kubangan darah. Ada potongan-potongan tangan dan kaki bergerak di permukaan kubangan seakan mencari pasangannya. Saat itu Tentara Salib membunuhi semua warga Al-Quds baik Muslim, Yahudi, maupun Kristen.”

Selang 88 tahun berikutnya, tepatnya pada tahun 1187 M, saat Al-Quds dibebaskan oleh Shalahudin Al-Ayyubi, para penduduk mengira akan menjadi korban balas dendam oleh tentara umat Islam. Tapi ternyata pasukan pemenang tidak membunuh dan membantai, mereka benar-benar memegang aturan perang dan prinsip-prinsip kemanusiaan. Bahkan disebutkan bahwa Shalahudin Al-Ayyubi memerintahkan para polisi untuk berkeliling di jalan-jalan untuk menjamin tidak terjadinya kejahatan kepada warga setempat.

Diceritakan bahwa raja saat itu merasa sedih dengan pemandangan para tawanan. Lalu beliau meminta Shalahuddin untuk membebaskan seribu orang tawanan. Setelah dibebaskan dan diserahkan Shalahuddin kepadanya sebagai budak, raja pun membebaskan mereka. Tak lama kemudian, Shalahuddin juga membebaskan seluruh tawanan wanita dan laki-laki yang sudah berumur lanjut.

Kaum wanita Kristen berdatangan kepada Shalahuddin sambil menangis. Mereka menanyakan nasib mereka setelah suami dan ayah mereka meninggal dunia atau berada dalam tahanan. Melihat hal tersebut, Shalahuddin membebaskan seluruh tawanan yang memiliki istri dan anak-anak yang harus ditanggung. Kepada para janda, Shalahuddin memberikan hadiah dan dana yang berlimpah dari kas umat Islam.

Shalahuddin merasa heran dengan sikap para pemimpin Kristen sendiri yang dengan mudahnya membayar uang tebusan. Lalu mereka pergi meninggalkan Al-Quds dengan membawa harta mereka yang sangat melimpah.

Kemukjizatan Islam tidak hanya bisa dilihat di zaman Rasulullah saw. Tapi bisa dilihat dari Al-Quran yang ada saat ini, buku-buku yang menceritakan tentang kehidupan beliau, dan juga tokoh-tokoh yang merupakan hasil pendidikan ajaran beliau. Para panglima perang yang bersikap seperti di atas sangat bisa dikatakan sebagai bentuk kemukjizatan Islam yang berlaku saat itu. Subhanallah. (sof1/mukjizat.co)

Tinggalkan Komentar Anda