Kenapa Ada Birrul Walidain Tapi Tidak Ada Birrul Aulad?

0 komentar 336 kali dilihat
mukjizat, mukjizat.co, birul walidain

mukjizat.co – Allah Taala memerintahkan seorang anak untuk berbakti kepada orang tua kita. Bahkan perintah itu disandingkan dengan perintah mengesakan Allah Taala dan larangan menyekutukan-Nya. “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” [Al-Isra: 23].

Sebaliknya, berbuat durhaka kepada kedua orangtua termasuk sebuah dosa besar. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Maukah kalian kuberitahu tentang dosa yang paling besar?” Beliau mengulanginya tiga kali, hingga para sahabat mengiyakannya. Lalu berkata lagi, “Berbuat syirik kepada Allah dan durhaka kepada orangtua.”

Kenapa sampai sedemikian Islam menekankan kewajiban birrul walidain? Sementara kita hampir-hampir tidak menemukan ayat yang memerintahkan untuk berbuat baik kepada anak?

Sayid Qutub menerangkan bahwa ternyata fitrah yang telah ada dalam diri setiap manusia adalah mencintai turunan dan melupakan asalnya. Seluruh manusia pasti lebih mencintai anak-anaknya daripada cinta kepada orangtua. Padahal orangtua telah mengorbankan segala yang bisa mereka lakukan demi kehidupan dan kebaikan anak-anaknya.

Rasa berterima kasih inilah yang hendaknya menjadi motivasi untuk berbuat baik kepada mereka. Allah Taala berfirman, “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.  Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” [Luqman: 14].

Sementara cinta kepada anak adalah sebuah cinta fitri. Cinta yang sudah menjadi bawaan setiap manusia sejak dilahirkan. Cinta ini ada tanpa harus belajar dan diusahakan. Cinta ini yang mendorong orangtua untuk mengorban apa yang mereka bisa demi anak-anaknya. Oleh karena itu, manusia tidak memerlukan perintah kewajiban untuk mencintai dan berbuat baik kepada anaknya. Apalagi harus menggunakan ancaman siksaan di akhirat.

Sangat tepatlah ketika Al-Quran dan Hadits sangat menekankan birrul walidain, di saat yang sama, tidak menyebutkan kewajiban birrul aulad. Subhanallah.

Tinggalkan Komentar Anda