Banjir, Masihkah Menyalahkan Alam?

0 komentar 700 kali dilihat
Banjir, Masihkah Menyalahkan Alam, berita banjir terkini, jakarta banjir 2016, penyebab banjir Jakarta, contoh berita tentang banjir, berita banjir 2016, bencana banjir di Jakarta, pengertian bencana banjir, bencana banjir di Indonesia, bencana tanah longsor, artikel bencana alam banjir, akibat banjir, cara mengatasi banjir, cara menanggulangi banjir

mukjizat – Saat ini sangat sering terjadi banjir. Aliran sungai meluap, menggenangi jalanan dan mengganggu lalu lintas orang dan kendaraan. Tak hanya itu, luapan itu juga tak jarang mengenai perumahan, merendamnya, dan menghancurkannya. Kenapa musibah ini banyak terjadi? Apakah hanya faktor alam?

Curah hujan yang sangat tinggi, perubahan iklim, dan sebagainya, seringkali menjadi jawaban ketika pemimpin dimintai pertanggung jawaban tentang masalah banjir yang diderita oleh rakyatnya. Kenapa harus menyalahkan alam? Padahal alam telah menjalankan tugas Penciptanya melakukan semua demi kemashalatan manusia. Tanpa kerja alam yang sangat baik, manusia akan hidup sangat menderita.

Misalnya matahari yang menguapkan air laut. Ternyata penguapan yang terjadi hanya menarik zat airnya saja ke udara. Tidak bersama zat garamnya. Terbayangkah jika air hujan mengandung garam dan terasa asin? Allah Taala berfirman, “Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Kalau Kami kehendaki niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?” [Al-Waqi’ah: 70].

Hujan juga diturunkan dalam bentuk percikan-percikan air yang turun dengan banyak dan berturut-turut. Tidak terbayangkan bisa air yang sangat banyak tersimpan di udara itu diturunkan langsung dalam guyuran besar seperti air bah yang bisa sangat menghancurkan. Allah Taala berfirman, “Dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah.” [An-Naba’: 13-14]. Kata “tsajjajan” seperti terdapat dalam ayat itu bermakna tercurah dengan banyak dan berketerusan. Bisa juga dipakai untuk darah yang memancar dari hewan kurban.

Kadang curah hujan yang besar juga disalahkan sebagai penyebab sungai dan selokan tidak bisa menampungnya sehingga terjadi banjir. Padahal hukum alam sangatlah akurat. Air yang diturunkan melalui hujan sama persis dengan air yang dinaikkan oleh matahari dalam bentuk uap. Allah Taala berfirman, “Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya.” [Al-Mu’minun: 18]. Air hujan turun dalam ukuran tidak kurang tidak lebih. Sesuai ukurannya.

Kata “biqadarin” dalam ayat di atas menunjukkan sistem dan akurasi. Semua proses itu terjadi dengan teori yang sangat akurat. Ada sedikit ketimpangan yang dilakukan oleh manusia, pasti akan berpengaruh kepada bencana.

Di antara kesalahan kita mungkin adalah tidak menyediakan tempat resapan air yang memadai. Kebanyakan permukaan bumi sudah terisi dengan bangunan, jalanan dan sebagainya sehingga tidak ada jalan bagi air untuk masuk ke dalam tanah. Padahal sebagian dari air yang diturunkan itu harus disimpan seperti firman Allah Taala, “Dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya.” [Al-Hijr: 22].

Jadi masihkah kita menyalahkan alam? Kenapa tidak berani menyalahkan diri sendiri? Astaghfirullah. (sof1/mukjizat.co)

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Tinggalkan Komentar Anda