Penguasa Romawi Ini Nyatakan Siap Tunduk dan Basuh Kaki Rasulullah

0 komentar 751 kali dilihat
Penguasa Romawi Ini Nyatakan Siap Tunduk dan Basuh Kaki Rasulullah, kerajaan romawi

mukjizat.co – Abu Sufyan bin Harb bercerita bahwa rombongan dagang Quraisy yang sedang mengadakan ekspedisi dagang ke negeri syam bertemu dengan Heraklius. Mereka diundang Heraklius untuk diajak dialog di istananya. Pertemuan itu juga dihadiri para pembesar negeri-negeri Romawi.

Melalui penerjemah, Heraklius berkata, “Siapa di antara kalian yang paling dekat hubungan keluarganya dengan orang yang mengaku sebagai Nabi itu?” Abu Sufyan berkata, “Akulah yang paling dekat hubungan kekeluargaannya dengan dia.” Heraklius berkata, “Dekatkanlah dia denganku dan juga sahabat-sahabatnya.”

Mereka menempatkan orang-orang Quraisy di belakang Abu Sufyan. Lalu Heraklius kepada mereka, “Aku akan bertanya kepadanya tentang laki-laki yang mengaku sebagai Nabi. Jika ia berdusta kepadaku, maka kalian harus memberitahuku.” Dalam hati, Abu Sufyan berkata, “Demi Allah, jika bukan karena rasa malu akan dituding sebagai pendusta pasti aku berdusta.”

Heraklius memulai pertanyaannya, “Bagaimana kedudukan nasabnya di antara kalian?” Abu Sufyan menjawab, “Dia adalah dari keturunan baik-baik”. Tanyanya lagi, “Apakah ada orang lain yang mengaku nabi sebelum dia?” Abu Sufyan jawab, “Tidak ada.”. Tanyanya lagi, “Apakah bapaknya seorang raja?” Jawab Abu Sufyan, “Bukan.”

Heraklius bertanya, “Apakah yang mengikuti dia orang-orang terpandang atau bukan?” Jawab Abu Sufyan, “Bukan, tapi orang-orang yang mengikutinya adalah orang-orang rendahan.” Heraklius bertanya lagi, “Pengikutnya selalu bertambah atau berkurang?” Abu Sufyan menjawab, “Bertambah.”

Heraklius bertanya, “Apakah ada yang murtad disebabkan dongkol terhadap agamanya?” Abu Sufyan menjawab, “Tidak ada.”. Heraklius bertanya lagi, “Apakah kalian pernah mendapatinya berdusta sebelum mengaku nabi?” Abu Sufyan menjawab, “Tidak pernah”.

Heraklius bertanya, “Apakah dia pernah berlaku curang?” Abu Sufyan menjawab, “Tidak pernah. Ketika kami bergaul dengannya, dia tidak pernah melakukan itu”. Heraklius bertanya lagi, “Apakah kalian memeranginya?” Abu Sufyan menjawab, “Iya.”

Heraklius bertanya, “Bagaimana kesudahan perang tersebut?” Abu Sufyan menjawab, “Perang antara kami dan dia sangat banyak. Terkadang dia mengalahkan kami terkadang kami mengalahkan dia.”

Heraklius bertanya, “Apa yang diperintahkannya kepada kalian?” Abu Sufyan menjawab, “Dia menyuruh kami menyembah Allah dengan tidak menyukutukannya dengan sesuatu apapun, dan meninggalkan apa yang dikatakan nenek moyang kami. Dia juga memerintahkan mengerjakan shalat, menunaikan zakat, berkata jujur, saling memaafkan dan menyambung silaturahim”.

Setelah itu Heraklius berkata, “Aku telah berkata kepadamu tentang keturunan orang itu, kamu ceritakan bahwa orang itu dari keturunan terbaik. Begitu juga seorang nabi diangkat dari keluarga terbaik di kaumnya.”

“Aku bertanya kepadamu apakah pernah ada orang sebelumnya yang mengaku nabi, kamu jawab tidak. Karena seandainya ada, tentu kuanggap orang ini meniru orang sebelumnya.”

“Aku tanyakan juga kepadamu apakah dia keturunan raja, kamu jawab tidak. Karena seandainya bapaknya dari keturunan raja, tentu orang ini sedang menuntut kekuasaan bapaknya.”

“Aku tanyakan kepadamu apakah kalian pernah mendapatinya berdusta sebelum mengaku nabi, kamu jawab tidak. Sungguh aku memahami, kalau kepada manusia saja dia tidak berani berdusta apalagi berdusta kepada Allah.”

“Aku bertanya kepadamu tentang para pengikutnya apakah orang-orang terpandang atau orang rendahan, kamu jawab orang-orang yang rendah yang mengikutinya. Memang seperti itulah yang menjadi pengikut Rasul.”

“Aku bertanya kepadamu apakah bertambah pengikutnya atau berkurang, kamu jawab bertambah. Memang begitulah perkembangan iman hingga menjadi sempurna.”

“Aku bertanya kepadamu apakah ada pengikutnya yang murtad karena marah terhadap agamanya, kamu menjawab tidak ada. Memang begitulah perkara iman bila telah masuk akan tumbuh bersemi di dalam hati.”

“Aku bertanya kepadamu apakah dia pernah berlaku curang, kamu jawab tidak pernah. Memang begitulah para Rasul tidak mungkin berlaku curang.”

“Aku bertanya kepadamu apa yang diperintahkannya, kamu jawab perintah untuk menyembah Allah dan tidak menyukutukannya dengan sesuatu apapun, melarang kalian menyembah berhala, dia memerintahkan kalian untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, berkata jujur, saling memaafkan dan menyambung silaturahim.”

Lalu Heraklius mengakhiri dialog itu dengan mengatakan, “Seandainya semua yang kamu katakan ini benar, pasti Muhammad pasti akan menguasai kerajaan yang ada di bawah kakiku ini. Aku yakin dia tidak ada bersama kalian sekarang, meninggalkan tempat kelian ke tempat yang baru. Seandainya saja aku bisa menemuinya dan berada disisinya, pasti akan aku basuh kedua kakinya.”

Kemudian Heraklius meminta dibacakan surat Rasulullah saw. yang pernah diterimanya. Surat itu berbunyi, “Bismillahirrahmanirrahim. Dari Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya untuk Heraklius. Penguasa Romawi, semoga keselamatan diberikan kepada siapa saja yang mengikuti petunjuk. Kemudian daripada itu, aku mengajakmu dengan seruan Islam. Masuk Islamlah kamu, maka kamu akan selamat, Allah akan memberimu pahala dua kali. Namun jika kamu berpaling, maka kamu menanggung dosa rakyatmu.

Hai Ahli Kitab, marilah berpegang kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu apapun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Rabb selain Allah”. Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).”

Ternyata semua hal telah menunjukkan bahwa Muhammad saw. benar-benar utusan Allah Taala. Orang yang berakal pasti bisa menerimanya, lalu mengikuti ajakan beliau. Tapi lagi-lagi, hidayah ada di tangan Allah Taala. Hanya orang-orang yang dikehendaki-Nya yang mendapatkan karunia agung ini. Heraklius tetap memilih mempertahankan posisinya, dan tidak menjadi pengikut Rasulullah saw. (sof1/mukjizat)

Tinggalkan Komentar Anda