Kisah Khatib yang Melecehkan Al-Quran

0 komentar 297 kali dilihat
Mukjizat Al-Quran di Era Digital

mukjizat.co – Umat Islam diperintahkan mengimani dan menghormati Al-Quran. Mereka dilarang menjadikan Al-Quran sebagai bahan pelecehan, candaan, ejekan dan sebagainya. Karena Al-Quran adalah firman Allah Taala yang menjadi petunjuk dan hidayah bagi seluruh manusia.

Seorang ulama dan dai yang dikenal luas, Syaikh Saleh Al-Moghamsy, pernah menyebutkan kisah tentang seorang Muslim yang melecehkan ayat Al-Quran untuk kepentingan duniawinya.

“Kisah ini bukan kisah lama. Tapi terjadi sekitar 60 tahun yang lalu di sebuah negara. Ada seorang tokoh di negara itu mengirim seorang pelajar miski dan buta untuk belajar ke luar negeri. Singkat cerita, pelajar itu menyelesaikan pendidikannya, dan kembali ke negeri itu.

Saat kembali, pelajar itu ingin menemui tokoh yang telah berjasa mendanai pendidikannya. Waktu itu adalah hari Jumat. Sang tokoh sedang berada di masjid ketika didatangi pelajar itu. Orang-orang di masjid melihat kedatangannya, karena sebelumnya mereka sudah mendengar kabar kepulangan pelajar itu setelah lulus dalam pendidikannya.

Ketika bertemu, sang tokoh itu memeluk dan mencium pelajar buta itu. Saat seorang ibadah Jumat dimulai, ternyata khatib ingin memuji sang tokoh dengan berkata dalam khutbahnya, “Dia didatangi seorang buta, tapi tidak bermuka masam dan berpaling.” Atau dalam bahasa Arab: “Ja’ahul a’ma wama ‘abasa wala tawalla.” Mirip dengan bacaan ayat pertama surat Abasa.

Semua orang tahu bahwa khatib itu ingin menggunakan sebuah ayat hanya untuk memuji sang tokoh yang disegani di negeri itu. Tapi di waktu yang sama, khatib telah membandingkan antara tokoh itu dengan Rasulullah saw., bahkan menyatakannya lebih baik.

Seusai shalat, seorang ulama berdiri dan berkata kepada para jamaah, “Jamaah sekalian, ulangilah shalat kalian karena imam shalat tadi sudah kafir setelah menyampaikan perkataannya dalam khutbah tadi.”

Beberapa tahun kemudian, ternyata khatib tadi menjadi orang sengsara. Hidupnya sangat kekurangan, sehingga pekerjaannya saat itu adalah menjaga sandal jamaah di depan masjid-masjid, dan menerima upah dari para jamaah. (sof1/mukjizat.co)

Tinggalkan Komentar Anda