Hikmah Besar di Balik Puasa Hari Asyura

0 komentar 197 kali dilihat

mukjizat.co – Umat Islam disunnahkan berpuasa pada tanggal 10 Muharram atau yang disebut dengan Hari Asyura. Rasulullah saw. bersabda, “Ini adalah Hari Asyura. Allah Taala tidak mewajibkan kalian berpuasa. Tapi aku berpuasa. Orang yang mau berpuasa, silahkan berpuasa. Orang yang tidak mau berpuasa juga silahkan tidak berpuasa.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Rasulullah saw. berpuasa pada Hari Asyura karena pada hari itu Nabi Musa as. diselamatkan Allah Taala dari kekejaman Firaun. Ibnu Abbas ra. menceritakan, “Saat datang berhijrah ke Madinah, Rasulullah saw. mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada Hari Asyura. Beliau bertanya kepada mereka, “Apa yang kalian lakukan?”

Mereka menjawab, “Ini adalah hari baik. Hari saat Allah Taala menyelamatkan Nabi Musa as. dan Bani Israil dari musuh-musuhnya. Maka Nabi Musa as. pun puasa pada Hari Asyura.” Lalu Rasulullah saw. berkata, “Aku lebih berhak mengikuti Musa as. daripada kalian.” Maka Rasulullah saw. pun berpuasa pada hari itu, dan memerintahkan umat Islam untuk juga berpuasa.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Ketika Rasulullah saw. berpuasa pada Hari Asyura sebagai rasa syukur atas keselamatan Nabi Musa as. dan Bani Israil, ini menunjukkan kuatnya tali persaudaraan beliau dan nabi-nabi sebelumnya. Rasulullah saw. juga banyak menyebut jalan kehidupan mereka, bagaimana mereka bersabar dalam mendakwahi kaumnya. Termasuk di antaranya adalah Nabi Musa as.

Suatu kali Rasulullah saw. pernah menyebut Nabi Musa as. sebagai saudaranya, dan marah saat mengingat bagaimana beliau mendapat perlawanan yang keji dari kaumnya. Rasulullah saw. berkata, “Semoga Allah Taala merahmati Musa, saudaraku. Dia telah ditentang kaumnya dengan lebih buruk, tapi bersabar.”

Bani Israil memang bangsa yang tidak bisa bersyukur. Mereka menentang perintah nabi mereka bahkan hanya beberapa saat setelah mereka diselamatkan Allah Taala dalam sebuah peristiwa besar luar biasa. Setelah diselamatkan dari kejaran Firaun dan bala tentaranya, Bani Israel meminta Nabi Musa as. dibuatkan sesembahan berupa patung hanya karena mereka melihat kaum lain melakukannya.

Keinginan mereka ini pupus setelah diberi nasihat dan penjelasan lagi tentang perintah tauhid dan bahaya menyekutukan Allah Taala. Namun begitu Nabi Musa as. meninggalkan mereka untuk menuruti panggilan Allah Taala, mereka beraksi dan benar-benar menyembah patung bikinan Samiri.

Mereka juga pernah menentang Nabi Musa as. dengan sesuatu yang di luar kemampuannya. “Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang,” karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya.” [Al-Baqarah: 55].

Hal yang paling menyebalkan adalah sikap mereka yang menolak diajak berperang melawan orang-orang yang sedang berkuasa di Palestina, tanah yang dijanjikan. Sebuah sikap yang sangat tidak pantas dilakukan kepada seorang utusan Allah Taala.

“Mereka berkata, “Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” [Al-Maidah: 24].

Beruntunglah umat Islam yang mempunyai nabi dengan silsilah tersambung dengan para nabi sebelumnya. Dakwah beliau adalah lanjutan dari dakwah nabi-nabi sebelumnya. Ini menunjukkan Islam adalah satu-satunya agama yang diridhai Allah Taala. Sehingga wajar jika umat Islam diwajibkan mengimani para nabi itu. (sof1/mukjizat.co)

Tinggalkan Komentar Anda