Mau Memilih Husnuzhan Atau Berbaik Sangka?

0 komentar 234 kali dilihat
posotve tingking

mukjizat.co – Kesalahan dalam mengartikan sebuah istilah dalam Al-Quran, bisa membuat kesalahan persepsi, yang berujung pada kesalahan dalam mengamalkannya. Oleh karena itu, hendaknya kita memahami istilah tersebut sesuai dengan ketentuan yang benar. Kesalahan bukan pada Al-Quran, karena Al-Quran sangat detil dalam memilih kata untuk maksud yang dikehendakinya.

Fenomena sangat sulitnya mendapatkan kepercayaan dari orang lain saat ini, hendaknya membuat kita bertanya, apakah hal tersebut disebabkan kesalahan kita dalam memahami istilah “husnuzhan”? Karena, walaupun Allah swt. telah memerintahkan husnuzhan, banyak umat Islam yang menyepelekan.

Dalam bahasa Arab, “zhan” bermakna hal yang diketahui dari tanda-tanda. Seperti orang yang mengatakan, “Akan turun hujan,” setelah dia melihat langit mendung. Tidak ada kepastian akan turun hujan. Perkataan itu hanyalah kesimpulan yang diambil dari tanda-tanda.

Sedangkan dalam Al-Quran, kata “zhan” mempunyai makna lebih dari satu. Pertama, menuduh, seperti menuduh orang lain berbuat jahat tanpa bukti (Al-Hujurat: 12). Kedua, taklid buta, seperti orang-orang musyrikin yang menolak ajaran Rasulullah saw. yang mempunyai banyak bukti kebenaran, dan sebaliknya mengikuti ajaran syirik yang hanya berdasarkan mitos (Yunus; 66). Ketiga, yakin, seperti orang yang meyakini kematian pasti akan melaksanakan shalat dengan khusyuk (Al-Baqarah: 46).

Dapat disimpulkan, bahwa kata “zhan” bisa bermakna ragu dan yakin. Bagaimana menentukan salah satu makna tersebut? Setelah mengumpulkan seluruh ayat zhan, ulama tafsir menyimpulkan sebuah kaidah; dalam konteks keburukan, “zhan” bermakna ragu dan sangkaan. Sedangkan dalam konteks kebaikan, “zhan” bermakna yakin.

Maka, karena konteksnya adalah buruk, su’uzhan bermakna bersangka buruk. Lalu karena konteksnya kebaikan, husnuzhan bermakna berkeyakinan baik, bukan bersangka baik. Lihatlah kedetilan Al-Quran dan bahasa Arab dalam hal ini. Saat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia secara harfiah, akan terjadi kekurangtepatan.

Kepada sesama muslim, kita harus selalu berkeyakinan baik, bukan berbaik sangka. Karena selama masih beriman, imannya akan memerintahkan taat kepada Allah swt., dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. Untuk hal itu, harus pasti dan yakin. Lalu hendaknya kita tidak memvonisnya berbuat buruk selagi belum ada pengakuan atau bukti-bukti yang nyata.

Inilah husnuzhan; mengedepankan keyakinan baik, bukan mengedepankan sangkaan baik. Karena kalau mengedepankan keyakinan baik, berarti kita belum memvonis orang berbuat buruk, lantaran kita masih yakin orang tersebut baik. Kita baru akan memvonisnya berbuat buruk jika ada pengakuan atau bukti nyata.

Tapi kalau kita mengedepankan sangkaan baik, maka yang terjadi adalah sebaliknya; kita sudah memvonisnya berbuat buruk. Kita baru akan mengatakan dia tidak berbuat buruk kalau ada hal yang membuktikannya.

Husnu-zhan Allah swt. perintahkan dalam ayat: “Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak berkeyakinan baik kepada sesama mereka? Dan (mengapa mereka tidak) berkata: “Ini adalah berita yang dijungkir-balikkan?” [An-Nur: 12]. (sof1/mukjizat.co)

Tinggalkan Komentar Anda