Hati-hati, Tak Mesti Istri Adalah Pasangan Kita

0 komentar 548 kali dilihat
www.mukjizat.co

mukjizat.co – Pernikahan dilakukan antara laki-laki dan perempuan adalah untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Kebahagiaan itu tentunya harus diawali dengan keserasian antara keduanya. Ada yang menemukan keserasian hingga mendapatkan kebahagiaan yang dicari. Ada juga yang tidak kunjung serasi sehingga pernikahan mereka menjadi sebuah malapetaka.

Hal seperti ini ternyata sudah disinggung Al-Quran dalam ayat-ayatnya, terutama kisah-kisah para suami istri. Tidak disebutkan secara lugas, tapi melalui perbedaan dalam memilih kata (diksi). Kesimpulannya, ada yang sekadar istri, ada istri yang juga pasangan.

Dalam Al-Quran, penggunaan kata “zauj” berbeda dengan “imra’ah”, walaupun sama-sama bermakna istri. Kata “zauj” yang berbentuk plural “azwaj” digunakan untuk wanita yang menjadi istri jika terdapat keserasian dan kesamaan dengan suaminya. Baik dalam hal agama, kejiwaan, maupun seksualitas.

Misalnya dalam Surat Ar-Rum: 21, Allah Taala berfirman, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri (azwaj) dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”

Ayat tersebut menggunakan kata “azwaj”, artinya keserasian terdapat dalam kehidupan suami-istri tersebut, sehingga mereka bisa meraih sakinah, mawaddah, dan rahmah. Ketenteraman terwujud dengan kuatnya. Bahkan keimanan masing-masing juga bertambah karena pernikahan mereka menjadi salah satu tanda kekuasaan Allah Taala.

Hal yang sama terdapat dalam surat Al-Furqan: 74, Allah Taala berfirman, “Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami (azwajina) dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”

Ayat di atas juga menggunakan kata “azwaj”. Keduanya adalah pasangan suami-istri yang serasi. Hal ini bahkan bisa membuahkan masing-masing menjadi sumber kebahagiaan bagi yang lain. Keduanya bisa mempunyai visi yang sama dalam mendidik anak-anak mereka, sehingga mereka bukan saja menjadi orang yang bertakwa, tapi menjadi pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.

Hal yang sama terjadi antara Nabi Adam as. dan Hawwa, seperti yang terdapat dalam Surat Al-Baqarah ayat 35. Antara Rasulullah saw. dan para istrinya, yang terdapat dalam Surat Al-Ahzab ayat 6.

Jika tidak ada keserasian, Al-Quran biasanya menggunakan kata “imra’ah”. Ketidakserasian bisa jadi karena ada perbedaan keyakinan, salah satu di antara keduanya subut sedangkan yang lain tidak subur, atau karena sebab yang lain.

Hal ini seperti terdapat dalam kasus Nabi Nuh as. dan Nabi Luth as beserta istri mereka. Allah Taala berfirman, “Allah membuat istri (imra’ah) Nuh dan istri (imra’ah) Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya); Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)”. [At-Tahrim: 10].

Allah Taala menguji Nabi Nuh as. dan Nabi Luth as. dengan memberikan mereka berdua istri-istri yang tidak serasi dengan mereka. Bukan dalam masalah kecil ketidakserasian ini, tapi dalam masalah akidah dan dakwah. Istri Nuh as. dan Nabi Luth as. sama-sama kafir, tidak menerima dakwah Nabi, dan turut bersama barisan para penentang dakwah kebenaran. Karena itulah mereka hanyalah istri, dan bukan pasangan.

Hal sebaliknya terjadi pada kasus Firaun dan istrinya, Asiah. Allah Taala berfirman, “Dan Allah membuat (imra’ah) istri Firaun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang lalim.” [At-Tahrim: 11].

Asiah disebut sebagai “imra’ah” Firaun karena memang tidak ada keserasian di antara keduanya. Firaun adalah penentang dakwah Nabi Musa as, yang membunuhi bayi-bayi Bani Israil (kalau Firaun masa kecil Musa as. sama dengan Firaun saat Musa as. sudah menjadi nabi), bahkan mengaku sebagai tuhan yang paling tinggi.

Sementara itu, Asiah adalah wanita yang beriman kepada Allah Taala, menerima dakwah Nabi Musa as, bahkan meninggal dalam kondisi mempertahankan imannya. Dalam hadits, disebutkan beliau meninggal dunia setelah disiksa, dan Allah Taala memperlihatkan rumahnya di surga.

Hal berbeda terjadi pada kasus Nabi Zakaria as. Dalam satu ayat istrinya disebut dengan “imra’ah”, dan dalam kesempatan yang lainnya, disebut dengan “zauj”. Keduanya sama-sama beriman dan memperjuangkan dakwah kepada Allah Taala. Lalu di mana letak ketidakserasian mereka berdua?

Allah Taala berfirman, “Zakaria berkata: “Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan (imra’ati) istriku pun seorang yang mandul?” Berfirman Allah: “Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” [Ali Imran: 40]. Ayat ini bercerita ketika istrinya masih mandul dan tidak siap untuk memberikan keturunan. Saat itu Zakaria as. sudah tua dan belum bisa menyiapkan orang yang akan meneruskan perjuangannya.

Lalu Allah Ta’ala berfirman, “Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan (zaujah) istrinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” [Al-Anbiya’: 90].

Ayat ini bercerita ketika istri Zakaria as. telah kembali normal dan siap mengandung seorang jabang bayi. Sudah ada keserasian antara keduanya. Karena ternyata masalah yang membuat mereka tidak bisa memperoleh keturunan terdapat pada pihak istri, bukan suami.

Demikianlah, ternyata tidak ada sinonim dalam Al-Quran. Tidak ada dua kata yang bermakna sama persis. Ketika Allah Taala memilih sebuah kata, pasti karena hal yang dikehendaki-Nya. Subhanallah. (sof1/mukjizat.co)

Tinggalkan Komentar Anda